Senin, Mei 27, 2024
Google search engine
BerandaDisbudpar AcehKetika Kerajinan sebagai Industri Kreatif Pendukung Pariwisata Aceh

Ketika Kerajinan sebagai Industri Kreatif Pendukung Pariwisata Aceh

“Kerajinan dengan pemanfaatan potensi alam dan kearifan lokal menjadi bagian dari produk kreativitas masyarakat yang memiliki nilai ekonomi, bahkan mampu mendukung pariwisata di Aceh”

— Kepala Dinas Pariwisata Aceh Jamaluddin —

Ekonomi kreatif merupakan konsep di era ekonomi yang baru, di mana era ini mengutamakan kreativitas dan teknologi informasi. Ekonomi kreatif yang mengedepankan kreativitas, pengetahuan dan ide-ide dari manusia merupakan aset dalam mendukung perekonomian agar dapat bergerak maju.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Kadisbudpar) Aceh, Jamaluddin, mengatakan, era globalisasi yang mendukung kemajuan teknologi, sebenarnya juga sangat menguntungkan industri yang bergerak pada sektor ekonomi kreatif.

“Ekonomi kreatif ditujukan pada mereka yang mengedepankan kreatifitas, pengetahuan, serta ide ide cemerlang seseorang untuk memajukan roda perekonomian,” kata Kadisbudpar Aceh, Jamaluddin, dalam wawancara khusus Waspadaaceh.com, Jumat (16/7/2021).

BACA:
Menikmati Pesona Eky’s Momong, Pantai Primadona di Aceh Besar
Disbudpar Aceh akan Gelar Aceh Culinary Festival secara Virtual
Kadisdik Aceh Launching Gerakan Zikir dan Mengaji Sebelum Belajar

Jamaluddin menambahkan, hampir sebagian besar kota/kabupaten di Aceh memiliki potensi untuk mengembangkan ekonomi kreatif sebagai penggerak sektor wisata. Hal itu akan memiliki daya tarik wisata yang berbeda dari biasanya.

Sebelumnya, kata Jamaluddin, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI bersama Disbudpar Aceh menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Pemasaran Ekonomi Kreatif di Era New Normal di Aula Hotel Al-Hanifi, Banda Aceh, yang berlangsung selama dua hari mulai Selasa hingga Rabu (29-30/6/2021).

“Kita lakukan berbagai upaya, baik bekerjasama dengan kementrian melakukan pelatihan terutama dalam mempromosikan serta memasarkan. Hal ini juga membantu para pelaku usaha untuk memasarkan hasil karya mereka dengan digital marketing terutama di masa COVID-19,” ujarnya.

Dorong Kerajinan Manfaatkan Alam 
Kadisbudpar Aceh, Jamaluddin mengatakan, salah satu pengembangan produk ekonomi kreatif adalah pengembangan kerajinan tangan yang dibuat dengan bahan dari sumber alam sekitar. Karya tersebut, katanya, membutuhkan banyak ide kreatif.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Kadisbudpar) Aceh, Jamaluddin. (Foto/Cut Nauval Dafistri)

Kata Kadisbudpar, industri kreatif kerajinan terutama yang diwariskan oleh pendahulu, tentu mampu menghasilkan produk-produk unggulan dan memiliki nilai kekayaan tradisi. Baik dari aspek kerajinan, anyaman, tenun, ataupun produk sandang yang masing-masing memiliki berbagai bentuk yang indah dan fungsi yang beragam.

BACA:
Disbudpar Aceh Ajak Pelaku dan Pengelola Wisata Terapkan CHSE
Bahas Percepatan Investasi Sektor Pariwisata UAE, Pemerintah Aceh Gelar Rakor di Aceh Singkil

“Kerajinan dengan memanfaatkan potensi alam dan kearifan lokal menjadi bagian dari produk kreativitas masyarakat yang memiliki nilai ekonomi. Hal ini tentu mendukung pariwisata,” tutur Jamaluddin.

Menurutnya, kerajinan tersebut memiliki potensi besar sebagai komoditas industri kreatif yang bernilai estetika dan ekonomi yang tinggi. Untuk itu, berbagai kegiatan dalam rangka mempromosikan industri kerajinan perlu didukung sebagai upaya mendorong pertumbuhan sektor ekonomi kreatif.

“Terus berkembang dan melakukan inovasi merupakan cara untuk bertahan di era tantangan global teruma di masa COVID-19 ini,” ujarnya.

Bili Droe Sebagai Industri Kreatif Warisan Leluhur
Salah satu pengembangan produk ekonomi kreatif adalah pengembangan kerajinan tangan yang dibuat dengan bahan dari sumber alam sekitar. Contohnya produk anyaman yang dikembangkan oleh Bili Droe, berbahan baku tanaman bemban atau bili, yang berasal dari Lampanah Tunong, Indrapuri, Kabupaten Aceh Besar.

Jurnalis Waspadaaceh.com sebulan yang lalu mengunjungi salah satu rumah produksi Bili Droe dan berbincang dengan pengelola Bili Droe, Ulfa Fitria.

Ulfa Fitria mengatakan, menganyam merupakan keterampilan yang diwariskan secara turun-temurun. Sejak 1983 mereka membangun kelompok anyaman di daerah tersebut.

BACA:
Anyaman Bili Droe, Industri Kerajinan Pendukung Ekonomi Rakyat
Dyah: Produk Kerajinan Aceh harus Dicintai Generasi Muda

Ulfa menjelaskan, kata Bili berasal dari bahasa Aceh yang berarti tumbuhan bemban atau bamban, tumbuhan ini sejenis terna atau semak yang tumbuh liar di hutan.

“Tumbuhan bili ini tumbuh di setiap hutan atau pergunungan, terutama di Indrapuri dan sekitarnya. Batang bemban disayat memanjang, bagian kulitnya yang berwarna hijau dijadikan bahan anyaman,” tutur Ulfa kepada Waspadaaceh.com, yang pernah mengunjungi lokasi kerajinannya, Kamis (24/6/2021).

Bili Droe telah menghasilkan aneka karya unik dengan berbahan dasar pohon bili atau bemban. Beberapa jenis produk itu antara lain tutup saji, tas jinjing, dompet, keranjang, tempat jemuran ikan, vas bunga, tempat tisu dan lain-lain.

Ulfa juga mengatakan, produk tersebut juga sebagai produk yang ramah lingkungan, karena tanaman bili atau bemban dapat dibudidayakan. Dengan maraknya isu global warming di lingkungan masyarakat sehingga orang-orang tertarik menggunakan produk-produk ramah lingkungan untuk kehidupan sehari-hari.

BACA:
Gegara Bakar Sampah, 9 Kios Souvenir dan 1 Rumah Musnah Dilalap Api di Aceh Besar
Menderita Sakit, Lansia Terlantar di Peunayong Banda Aceh Dievakuasi ke RS Meuraxa

Sementara itu terkait kerajinan tersebut, Kadisbudpar mendorong agar para pengrajin industri terus meningkatkan kreatifitasnya dalam menghadapi tantangan global saat ini.

“Sektor kerajinan ini dapat dibuat menjadi seni kerajinan yang memiliki nilai jual yang tinggi. Kreatifitas merupakan modal utama dalam menghadapi tantangan global,” tutur Kadisbudpar Aceh, Jamaluddin.

Kreativitas akan merangsang daerah tujuan wisata untuk menciptakan produk-produk inovatif yang akan memberi nilai tambah dan daya saing yang lebih tinggi dibanding dengan daerah tujuan wisata lainnya.

Dari sisi wisatawan, mereka akan merasa lebih tertarik untuk berkunjung ke daerah wisata yang memiliki produk khas untuk kemudian dibawa pulang sebagai souvenir.

Sisi lain, produk-produk kreatif tersebut secara tidak langsung akan melibatkan individual dan pengusaha yang bersentuhan dengan sektor budaya. Persentuhan tersebut akan membawa dampak positif pada upaya pelestarian budaya dan sekaligus peningkatan ekonomi masyarakat serta estetika lokasi wisata. (Cut Nauval Dafistri)

VIDEO TERKINI:

VIDEO FAVORIT:

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER