Kamis, April 18, 2024
Google search engine
BerandaSumutFSPMI Sumut Tolak UMP 2020 Rp2,4 Juta

FSPMI Sumut Tolak UMP 2020 Rp2,4 Juta

Medan — Elemen buruh yang tergabung dalam Dewan Pimpinan Wilayah Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia Provinsi Sumatera Utara (DPW FSPMI Sumut) menolak kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP) Sumut yang hanya naik sebesar 8,51% atau menjadi Rp2.499.422.

“Kami menolak kenaikan UMP Sumut tahun 2020, itu sangat tidak layak bagi kaum buruh. Kami minta kenaikan UMP Sumut 3 juta rupiah dan UMK Medan dan kabupaten lain sebesar 3,7 juta – 4 juta rupiah,” kata Ketua DPW FSPMI Sumut, Willy Agus Utomo, didampingi Tony Rickson Silalahi, Sekertaris DPW FSPMI Sumut di Medan, Jumat (25/10/19).

Menurut Ketua DPW FSPMI Sumut itu, UMP Sumut sudah selayaknya naik 15 – 20 % atau menjadi minimal sebesar Rp3 juta.

Sebagaimana yang disebutkan dalam Surat Edaran Menteri Ketenagakerjaan. Kenaikan itu mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2015 tentang Pengupahan (PP 78/2015) yang selama ini ditolak oleh buruh Indonesia.

Menurut Willy, yang seharusnya dilakukan pemerintah adalah segera merevisi PP 78/2015, khususnya terkait dengan pasal mengenai formula kenaikan upah minimum.

“Dengan demikian, dasar perhitungan UMP harus didahului dengan survei kebutuhan hidup layak di pasar,” kata Willy.

Lebih lanjut dia menjelaskan, KHL yang digunakan dalam survei pasar adalah KHL yang baru, yang sudah ditingkatkan kualitas dan kuantitasnya. Adapun KHL yang baru tersebut berjumlah 78 item dari yang sebelumnya 60 item.

Menurut informasi, KHL baru sudah disepakati Dewan Pengupahan Nasional berjumlah 78 item. Namun demikian, FSPMI menghitung KHL baru adalah 84 item.

Menurut Willy, jika perhitungan kenaikan upah minimum dihitung berdasarkan KHL yang baru tersebut, maka kenaikan upah minimum tahun 2020 berkisar 15 – 20%.”Oleh karena itu, buruh menolak kenaikan upah minimum sebesar 8, 51%,” tegasnya.

Terlebih lagi, di dalam UU Ketenagakerjaan diatur, dasar hukum kenaikan UMP/UMK adalah menghitung KHL dari survei pasar. Setelah hasil survei didapat, besarnya kenaikan upah minimun dinegosiasi dalam Dewan Pengupahan Daerah dengan memperhatikan faktor-faktor yang lain.

Khusus di Sumut, lanjut Willy, UMP Sumut sudah sangat tertinggal jauh dari daerah lain yang berbasis Industri di Indonesia dalam kurun 8 tahun terakhir.

“Jadi kami minta agar Gubsu mempertimbangkan kenaikan itu, tidak mesti mengikuti PP 78, tapi lihat kondisi kebutuhan hidup layak kaum buruh Sumut yang semakin memperhatinkan kondisinya saat ini,” ujarnya.

Sebagai langkah tindak lanjut, kata Willy, pihaknya akan melakukan aksi unjuk rasa bila Gubsu tetap menetapkan UMP Sumut berdasarkan PP78.”Dalam waktu dekat kita akan turun kejalan, melakukan aksi bela upah buruh Sumut ” tegasnya.(sulaiman achmad)

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER