Pidie Jaya (Waspada Aceh) – Delapan bulan setelah banjir melanda Kabupaten Pidie Jaya pada akhir November 2025, sebagian warga Desa Masjid Tuha, Kecamatan Meureudu, masih menghadapi kesulitan memperoleh air bersih.
Sejumlah sumur warga kini mengalami penurunan debit air. Air yang tersisa pun berubah keruh dan berwarna kekuningan sehingga tidak lagi nyaman digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.
Kondisi itu dialami warga di sejumlah titik, termasuk di kawasan Jalan Malem Dagang Dusun Pulo, Desa Masjid Tuha, Kec Meureudu, Kab Pidie Jaya.
Faridah, salah seorang warga, mengatakan kualitas air sumur di lingkungannya belum kembali normal pascabanjir. Menurut dia, air yang sebelumnya jernih kini berubah warna sehingga warga terpaksa membatasi penggunaannya.
“Airnya keruh, kuning macam emas,” kata Faridah kepada Waspadasceh.com Rabu (5/8/2026).
Faridah mengatakan, beberapa sumur bor memang telah tersedia di wilayah tersebut. Namun, lokasinya cukup jauh dari permukiman sehingga tidak mudah dijangkau oleh seluruh warga.
Selain itu, bantuan air bersih yang pernah diterima warga juga tidak lagi rutin datang. Akibatnya, masyarakat kembali bergantung pada sumur yang kualitas airnya belum membaik.
“Kami mohon ada bantuan air bersih di sekitar Jalan Malem Dagang, Dusun Pulo, Desa Masjid Tuha. Sampai sekarang kami masih kesulitan mengakses air bersih,” ujarnya.
Keluhan serupa disampaikan Caya, warga lainnya di Desa Masjid Tuha. Menurut dia, musim kemarau membuat kondisi semakin berat. Persediaan air di sumur terus berkurang, sementara lingkungan permukiman dipenuhi debu akibat minimnya hujan.
“Masih kekeringan. Kondisinya berdebu, sumur kekurangan air dan airnya kuning,” kata Caya.
Ia menuturkan, hujan sempat turun di kawasan pegunungan beberapa waktu lalu, tetapi tidak berdampak pada wilayah tempat tinggal mereka.
Di kawasan pesisir Desa Masjid Tuha, hujan belum turun sehingga kondisi kekeringan masih berlangsung. Selain kesulitan memenuhi kebutuhan rumah tangga, terbatasnya akses air bersih juga berdampak pada aktivitas ekonomi warga.
Caya mengaku penjualan kue yang selama ini menjadi sumber penghasilan keluarga ikut menurun karena permintaan berkurang.
Warga berharap pemerintah dan pihak terkait kembali menyalurkan bantuan air bersih melalui mobil tangki untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam jangka pendek. Mereka juga meminta penyediaan sumber air bersih yang lebih dekat dengan permukiman agar persoalan yang berulang setiap musim kemarau dapat diatasi secara berkelanjutan. (*)



