Dalam pandangan hidup masyarakat Melayu, terjalin erat tiga ruang yang menjadi sumber kehidupan: Sungai, Bendang, dan Laut.
Rerumputan masih membasahi tanah yang menyerap sisa hujan semalam, pertanda alam baru saja terbangun dari rintik yang turun sejak tengah malam hingga fajar menyingsing di tanah bertuah Deli.
Kamis pagi, 5 November 2026, udara terasa sejuk di kawasan Avros, di tepian Sungai Deli Medan, yang senantiasa mengalir tenang. Semilir angin berhembus lembut, menyapa aroma setanggi yang semerbak berbaur dengan embun di ujung dedaunan.
Di sinilah, kembali dihidupkan salah satu warisan luhur adat dan kebudayaan Melayu Deli: Jamu Sungai Deli.
Mengawali bulan November yang kerap disapa bulan penuh curah hujan, alunan melodi orkes Melayu terdengar sayup-sayup di bawah rindangnya pepohonan tepi sungai yang menyimpan banyak kisah sejarah. Hajatan yang sarat makna ini diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Medan bersama Kesultanan Deli.
Dalam pandangan hidup masyarakat Melayu, terjalin erat tiga ruang yang menjadi sumber kehidupan: Sungai, Bendang, dan Laut. Sungai adalah peradaban yang mengalir; Bendang adalah tanah yang memberi kesuburan; Laut adalah cakrawala yang membawakan rezeki. Dari ketiganya lahir tradisi Jamu Sungai, Jamu Bendang, dan Jamu Laut, tiga pilar yang mengajarkan satu kebenaran abadi: manusia boleh mengambil manfaat dari alam, namun berkewajiban menjaga keseimbangannya.
Jamu Sungai mengajarkan penghormatan kepada sumber kehidupan; Jamu Bendang menanamkan rasa syukur atas tanah dan hasil pangan; Jamu Laut memohon keselamatan bagi mereka yang menggantungkan nasib pada gelombang samudera.
“Apabila hari ini kita melaksanakan Jamu Sungai Deli, sesungguhnya kita sedang menghidupkan kembali satu pandangan hidup,” ujar Sri Paduka Tuanku Sultan Mahmud Aria Lamantjiji Perkasa Alam Shah, Sultan Deli XIV, dalam sambutannya.
Beliau menegaskan: “Alam adalah bagian dari kehidupan, dan kehidupan harus berjalan dalam keseimbangan dengan alam.”
Prosesi dimulai dengan doa, memohon keselamatan, keberkahan, dan kelestarian kehidupan. Tujuh anak dara tampil membawakan Tari Gebuk, masing-masing membawa periuk tanah yang dihiasi anyaman lipan.
Tiga orang pawang membuka prosesi dengan bertabik kepada semesta, penghormatan simbolik terhadap tatanan alam dalam kearifan adat Melayu. Anak dara menari di atas gebuk dengan gerakan lembut namun bermakna, sementara para pawang memperagakan Tari Mayang bergaya silat, membawa mayang pinang sebagai lambang harapan.
Di tengah prosesi hadir Lancang Kuning, perahu adat berwarna kuning dengan ukiran khas Melayu, ujungnya berbentuk sayap layang. Di atasnya tersusun 44 jenis juadah khas Melayu, dalam bilangan ganjil sesuai tata adat.
Lancang Kuning bukan sekadar hiasan; ia adalah sintesis seni ukir, pengetahuan pelayaran, kearifan kuliner, dan filosofi masyarakat pesisir.
Puncak prosesi adalah Menghanyutkan Lancang. Perlahan, perahu kecil itu dilepaskan mengalir bersama doa dan harapan kepada Yang Maha Kuasa, simbol penyerahan diri sekaligus pengingat ikatan abadi manusia dengan sungai.
Seusai itu, benih-benih ikan ditebarkan ke Sungai Deli yang arusnya cukup deras sisa hujan dini hari tadi. Sebuah pesan sederhana namun mendalam: sungai bukan saluran air semata, melainkan ruang kehidupan yang harus terus berdenyut.
“Sungai Deli bukan sekadar urusan lingkungan. Ia adalah urusan kebudayaan,” tegas Sultan Deli.
Ketika air sungai tercemar, yang hilang bukan hanya mutu air, sebagian ruang budaya masyarakat pun ikut sirna. Ketika generasi tak lagi mengenal sungai, sepotong ingatan peradaban ikut terputus. Pengetahuan adat yang tersimpan dalam ingatan para tetua semakin tergerus waktu. Jika tak dicatat dan diwariskan, kita kehilangan jati diri sendiri.
“Menjadi pewaris kebudayaan berarti memahami: mengapa tarian itu ditarikan, mengapa ritus itu dilaksanakan, nilai apa yang harus diteruskan,” ajar Tuanku Sultan.
“Mari jadikan Jamu Sungai Deli ini sebagai janji moral. Janji untuk menjaga Sungai Deli. Jangan membuang sampah ke sungai.”
Semoga Jamu Sungai Deli tidak berhenti sebagai seremonial belaka. Semoga ia menjadi titik temu antara adat, lingkungan, pendidikan, dan kehidupan masyarakat. Kita tak sekadar ingin mengenang sungai, kita ingin menjaganya. Kita tak sekadar menampilkan adat, kita ingin menghidupkan nilainya. Kita tak sekadar mewariskan cerita, kita ingin mewariskan sungai yang bersih, budaya yang hidup, dan masa depan yang berkelanjutan bagi anak cucu kelak.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Medan, Ahmad Barli Mulia Nasution, S.STp., M.AP., menekankan bahwa Jamu Sungai adalah bentuk penguatan kesadaran masyarakat untuk memelihara sungai sebagai sumber kehidupan.
Dalam adat Melayu, keterikatan manusia dengan air tercermin dalam banyak ritus, termasuk upacara turun ke sungai yang menyertai perjalanan hidup seseorang.
Sementara itu, Kepala Bidang Kebudayaan Kota Medan, OK Zulfani Anhar, mengingatkan pentingnya memahami keterkaitan ketiga ruang kehidupan tersebut sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan.
Acara yang berlangsung di Bantaran Sungai Deli, Jalan Avros, turut dihadiri Para Datuk Empat Suku, Raja Tanjung Kasau DYM Tengku Ismed Indra beserta Majelis Kedatukan Batubara, unsur Forkopimda Kota Medan, tokoh masyarakat, dan para undangan.
Ketika lancang kuno hanyut perlahan dan warga menyambut juadah yang terdampar di tepian, senyum merekah di wajah mereka, di tengah kekhawatiran musim hujan yang datang, ada satu hal yang tak akan hanyut: keyakinan bahwa menjaga sungai berarti menjaga kehidupan itu sendiri. (T.Bobby)



