Takengon (Waspada Aceh) – Gedung berwarna putih bersih berpadu cokelat kini berdiri menandai wajah baru di kawasan pendidikan dataran tinggi Gayo, Aceh Tengah. SMK Negeri 5 Takengon tampak seperti sekolah yang baru saja diresmikan. Ruang kelas yang rapi, pagar yang kokoh, lapangan basket yang siap digunakan, serta saluran drainase yang tertata rapi, siap menyapa siapa pun yang melintas.
Begitupun pembenahan belum selesai, dan masih terus dikebut. Di bagian luar belakang sekolah, tumpukan tanah sisa longsor masih terlihat. Untuk bagian depan, gedung sekolah ini sudah cukup gagah, dan para siswa serta guru kini merasa nyaman mengikuti proses belajar-mengajar.
Muslim Ibrahim, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Kabupaten Aceh Tengah, menyampaikan revitalisasi ini merupakan bagian dari upaya pemulihan pascabencana hidrometeorologi yang melanda kawasan tersebut pada November 2025.
“Pada tahun 2026 ini, selain SMK Negeri 5 Takengon, terdapat sekitar tujuh sekolah di bawah naungan Cabang Dinas kami yang menerima program revitalisasi. Baik yang terdampak bencana maupun revitalisasi reguler,” ujarnya, Selasa (27/10/2026).
Menurut Muslim Ibrahim, pekerjaan di SMKN 5 Takengon ini ditargetkan akan rampung sepenuhnya pada November hingga Desember 2026. Sejalan dengan penyelesaian revitalisasi sekolah-sekolah lainnya di daerah itu.
Program revitalisasi ini menelan anggaran lebih dari Rp2 miliar, bersumber dari APBN Tahun Anggaran 2026, yang mencakup rehabilitasi ruang administrasi, ruang kelas, ruang praktik, pembangunan MCK baru, pagar, serta drainase. Pekerjaan berlangsung sejak 1 April hingga 30 Juni 2026. Bantuan ini menjadi yang pertama kali diterima sekolah tersebut sejak dialihkan dari SMA Negeri 12 menjadi SMK Negeri 5 Takengon pada tahun 2020.

Semangat Siswa dan Guru Bangkit Kembali
Kepala Sekolah SMKN 5 Takengon, Ruhila, menyambut perubahan ini dengan rasa syukur dan sukacita. “Ketika saya mulai bertugas di sini pada Januari 2026, kondisi sekolah sangat memprihatinkan. Kini, anak-anak belajar di ruangan yang jauh lebih layak. Semangat mereka kembali bangkit, begitu juga semangat para guru,” ceritanya dengan semangat.
Ruhila mengakui, tanah di bagian belakang sekolah merupakan milik warga setempat, sehingga penanganan menyeluruh tidak dapat dilakukan oleh pihak sekolah. “Setiap kali hujan turun, saya selalu berdoa: Ya Allah, lindungi sekolah kami. Jangan sampai longsor terjadi lagi,” ungkap Ruhila. Material longsor tidak dikikis habis karena dikhawatirkan justru memperburuk kondisi tanah jika hujan turun kembali.
Sekolah dengan 140 siswa ini memiliki lima kompetensi keahlian. Teknik Komputer dan Jaringan, Rekayasa Perangkat Lunak, Desain Komunikasi Visual, Animasi, serta Seni Kriya Kayu dan Rotan. Sekolah juga menerima bantuan peralatan praktik berupa komputer. Namun, sebagai sekolah kejuruan yang baru tumbuh, satu hal masih sangat mendesak: belum tersedianya bengkel praktik yang layak. Ruang belajar pun harus difungsikan ganda sebagai tempat praktik siswa.
“Kami sangat berharap pemerintah dapat memberikan perhatian lanjutan untuk pembangunan bengkel praktik. Anak-anak kami butuh fasilitas yang memadai agar keterampilan mereka terasah dengan baik,” harap Ruhila. Di samping itu, usulan pembangunan tembok penahan tanah di area belakang sekolah juga menjadi kebutuhan mendesak.
Muslim Ibrahim menambahkan, masih ada sekitar 17 sekolah negeri di wilayahnya yang belum mendapatkan bantuan revitalisasi. “Kami berharap pada tahun 2027, sekolah-sekolah tersebut dapat kembali memperoleh kesempatan yang sama. Pendidikan di Aceh Tengah tidak boleh tertinggal,” ujarnya.
Pemulihan Pascabencana Nasional
Menteri Dalam Negeri sekaligus Ketua Satgas PRR Pascabencana Sumatera, Muhammad Tito Karnavian, dalam arahannya pada Rapat Koordinasi Nasional Pascabencana Sumatera menegaskan: “Pemulihan tidak boleh berhenti pada bangunan fisik saja. Kita harus memastikan lingkungan sekitarnya juga aman, sehingga sekolah dapat berfungsi tanpa rasa takut.”
Tito juga mengingatkan, curah hujan yang masih tinggi menjadi tantangan nyata, sehingga penanganan risiko bencana susulan harus terus diantisipasi.
“Bangunan yang berdiri kokoh belum tentu cukup, jika tanah di bawah dan di sekitarnya belum benar-benar aman. Itulah yang harus kita perbaiki secara menyeluruh,” pesan Tito Karnavian.
Pemerintah menyiapkan anggaran sekitar Rp4,65 triliun melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) untuk mendukung pemulihan sektor pendidikan di wilayah terdampak bencana Sumatera. Berdasarkan Rencana Induk Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana atau Renduk PRRP Sumatera 2026–2028, anggaran tersebut mencakup 331 kegiatan yang direncanakan pada 2026.
Renduk PRRP adalah dokumen kebijakan nasional yang disahkan melalui Keputusan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Nomor 25 Tahun 2026. Dokumen ini berfungsi untuk memandu pemulihan wilayah terdampak bencana hidrometeorologi di Sumatera.
Program pemulihan tidak hanya menyasar perbaikan sekolah yang mengalami kerusakan ringan, sedang, dan berat melalui revitalisasi satuan pendidikan. Pemerintah juga merencanakan pembangunan sekolah baru atau relokasi bagi satuan pendidikan yang mengalami kerusakan total.
Selain pemulihan bangunan, intervensi pendidikan mencakup pemenuhan perlengkapan belajar siswa, pendampingan pemulihan psikologis atau trauma healing, tunjangan khusus bagi pendidik dan tenaga kependidikan terdampak, serta pelatihan pembelajaran dalam situasi darurat. Dengan demikian, pemulihan pendidikan diarahkan bukan sekadar memperbaiki bangunan sekolah, tetapi juga memastikan kegiatan belajar mengajar kembali berjalan dan lebih tangguh menghadapi risiko bencana. (*)



