BerandaSumatera PulihMIN 5 Pidie Jaya Bangkit Kembali di Lokasi yang Lebih Aman

MIN 5 Pidie Jaya Bangkit Kembali di Lokasi yang Lebih Aman

Pidie Jaya (Waspada Aceh) – “Alhamdulillah, kami merasa diperhatikan dan diberi kasih sayang setelah musibah yang demikian menyayat hati. Sekarang kami sudah punya lagi harapan untuk mendidik anak-anak kami di sini.” Ungkapan tulus Marlina, Pengawas Madrasah Kementerian Agama Pidie Jaya, pada pertengahan Oktober 2026.

Marlina mewakili perasaan warga Desa Seunong, Kecamatan Bandar Dua, setelah melihat bangunan Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 5 Pidie Jaya perlahan berdiri kembali. Sekolah ini hancur diterjang banjir bandang akhir November 2025, tak menyisakan satu pun ruang kelas yang layak digunakan.

Kepala Satuan Tugas Nasional PRR, Muhammad Tito Karnavian, mengapresiasi upaya pemulihan sektor pendidikan di wilayah terdampak bencana Sumatera. “Capaian dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah serta Kementerian Agama ini menjadi bukti bahwa pemerintah pusat tidak tinggal diam. Kita bekerja keras dan terus berkolaborasi, dan hasilnya dapat langsung dirasakan oleh masyarakat,” ujar Tito.

Kini, di atas lahan sumbangan warga seluas 6.050 meter persegi, bangunan baru dua lantai mulai terlihat bentuknya, berjarak sekitar 350 meter dari lokasi lama dan jauh dari jangkauan bahaya sungai.

Selama hampir satu tahun terakhir, sekitar 140 siswa dan guru MIN 5 Seunong belajar dalam keterbatasan, di pekarangan musala dan balai pengajian desa. “Belajar di lantai, tidak ada meja yang cukup. Anak-anak duduk lesehan, namun semangat mereka tak pernah surut,” cerita Marlina.

Harapan terbesar Marlina dan seluruh warga adalah agar semester depan, tepatnya Januari 2027, anak-anak sudah dapat menempati gedung baru yang lebih layak, lebih aman, dan lebih nyaman.

Mawaddah, Pelaksana Tugas Kepala Sekolah, mengamini pernyataan itu. “Alhamdulillah, sekolah yang dulu hilang sudah diganti. Mudah-mudahan cepat selesai, kami bisa nyaman di tempat ini. Anak kami juga belajar dengan tenang,” ucapnya.

Setiap hari dia bersama rekan-rekan guru menyempatkan diri datang ke lokasi pembangunan, ingin memantau kemajuan, sekadar memastikan mimpi itu semakin dekat menjadi kenyataan.

Proses pengerjaan pembangunan gedung baru MIN 5 Seunong, Pidie Jaya, dengan konstruksi lebih kuat, aman agar siswa dan guru merasa nyaman dalam mengikuti proses belajar mengajar. (Foto: Tim Media Satgas PRR)

Bangunan Baru Lebih Kokoh dan Lengkap

Pembangunan gedung MIN 5 Pidie Jaya dikerjakan oleh CV Sarakala Bangun Malaka, dengan sumber dana dari DIPA Satker Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama senilai Rp10.433.666.421. Pekerjaan dimulai 11 Agustus 2026 dan ditargetkan selesai 30 Desember 2026, dengan masa pelaksanaan 142 hari. Per pertengahan Oktober, progres fisik telah mencapai 45 persen.

Mandor pelaksana proyek, Rudi, menjelaskan bahwa gedung baru ini dirancang jauh lebih lengkap dibandingkan bangunan sebelumnya. Terdapat 8 ruang kelas, 4 di lantai dasar dan 4 di lantai dua, dilengkapi ruang guru, perpustakaan, laboratorium, ruang UKS, masjid, perumahan guru, kantin, serta halaman yang luas. Desainnya menerapkan prinsip membangun kembali dengan lebih baik dan lebih aman, jauh dari sempadan sungai dan berada di kawasan yang lebih tinggi, dekat persawahan dan kebun warga.

Di lokasi, puluhan pekerja tampak sibuk di bawah terik matahari. Sebagian memasang bekisting dan pengecoran lantai dua. Sebagian lain menyusun bata merah untuk dinding ruang kelas. Rudi menyebutkan ada 76 tenaga kerja yang bekerja secara bergiliran, bahkan hingga sore hari, untuk mengejar target penyelesaian di akhir tahun meski cuaca kerap menurunkan hujan setiap sore.

“Kita kejar, genjot pekerjaan ini supaya selesai dan bisa difungsikan untuk anak-anak kita,” ujarnya penuh semangat.

Visi Besar Pemulihan Pendidikan

Secara nasional, pemerintah telah menyiapkan alokasi anggaran pemulihan pendidikan pascabencana Sumatera berkisar antara Rp4,65 triliun hingga Rp5 triliun untuk memulihkan 4.922 sekolah yang terdampak.

Upaya ini mencakup lima pilar utama: rekonstruksi fisik dengan standar tahan bencana senilai Rp3,03 triliun untuk 3.132 sekolah, dukungan kesejahteraan dan pelatihan bagi 90.962 guru senilai Rp122,95 miliar, penyediaan perlengkapan belajar Rp786,43 miliar, bantuan operasional sekolah darurat, serta relokasi sekolah dari zona berbahaya, persis seperti yang dilakukan MIN 5 Pidie Jaya.

Prinsip “Build Back Better” atau membangun kembali dengan lebih baik menjadi pedoman utama. Sekolah tidak hanya dikembalikan seperti semula, tetapi dibangun lebih aman, lebih kuat, dan lebih siap menghadapi risiko bencana di masa depan. Lokasi MIN 5 yang dipindahkan menjauhi sungai adalah contoh nyata dari langkah antisipatif tersebut.

Nurlina, guru di MIN 5 Seunong, mengaku senang melihat bangunan mulai terbentuk. Meski belajar di musala, semangat anak-anak tak pernah padam. “Anak-anak sudah rindu bangunan yang utuh. Mereka ingin duduk di meja, belajar di ruangan yang layak. Semoga semester depan kami sudah bisa pindah ke sini,” harapnya.

Bagi Marlina dan seluruh warga Seunong, bangunan ini bukan sekadar tembok dan atap. Ia adalah masa depan anak-anak mereka, harapan yang disusun dari gotong royong warga yang menyumbangkan tanah, hingga perhatian pemerintah yang memastikan tak ada satu pun anak putus sekolah karena bencana.

Petunjuk Renduk PRRP Sumatera

Rencana Induk Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (Renduk PRRP) Sumatera 2026–2028 menempatkan pemulihan sarana pendidikan sebagai bagian penting dari upaya mengembalikan pelayanan dasar masyarakat setelah bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Program ini diarahkan untuk memulihkan fasilitas pendidikan yang rusak sekaligus memastikan kegiatan belajar-mengajar dapat kembali berjalan dengan baik.

Pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi dilakukan dengan mengacu pada kebutuhan pascabencana yang dihimpun dalam dokumen Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (R3P) kabupaten/kota terdampak serta rencana aksi kementerian/lembaga. Penyelarasan tersebut menjadi dasar untuk menentukan kegiatan prioritas dan dukungan anggaran pemerintah selama periode pemulihan 2026–2028.

Pemulihan sekolah tidak hanya berfokus pada perbaikan bangunan yang rusak, tetapi juga pada keberlanjutan layanan pendidikan bagi siswa di wilayah terdampak. Sekolah yang mengalami kerusakan berat dan tidak memungkinkan digunakan memerlukan penanganan lebih lanjut, termasuk pembangunan kembali atau relokasi apabila lokasi sebelumnya tidak aman. (*)

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER