BerandaOpiniDilema Metodologi Ilmu Dakwah

Dilema Metodologi Ilmu Dakwah

Banyak ilmuwan keislaman mempertanyakan bagaimana ilmu dakwah dapat dikembangkan sebagai disiplin ilmu tersendiri.

Oleh: Abdul Rani Usman

Ilmu dakwah menjadi khazanah baru dalam kancah ilmu pengetahuan modern. Ilmu dakwah menjadi kajian yang menarik seiring dengan perkembangan ilmu sosial dan ilmu keagamaan yang dikaji dalam ranah filsafat ilmu.

Banyak ilmuwan keislaman mempertanyakan bagaimana ilmu dakwah dapat dikembangkan sebagai disiplin ilmu tersendiri. Saat ini, sejumlah ilmuwan Barat membedakan ilmu eksakta, ilmu sosial, dan ilmu keagamaan. Sementara itu, ilmuwan Islam berupaya memasukkan ilmu dakwah ke dalam kajian ilmiah guna mengembangkan kerangka keilmuannya sendiri.

Cara memperoleh pengetahuan dalam ilmu eksakta umumnya menggunakan pendekatan empiris, termasuk pengamatan dan eksperimen. Ilmu sosial juga memanfaatkan pengamatan indrawi yang dianalisis melalui metode ilmiah. Sementara itu, ilmu keagamaan turut menggunakan pendekatan keimanan.

Pendekatan terakhir ini menjadi sorotan sebagian ilmuwan yang berpendapat bahwa ilmu keagamaan belum memiliki epistemologi yang memadai. Perbedaan persepsi dalam kajian ilmu keagamaan merupakan keniscayaan dalam penelitian ilmiah, terutama ketika ilmu dakwah ditempatkan dalam ranah ilmu sosial atau ilmu keagamaan.

Kajian Ilmu Dakwah

Ajakan untuk mengikuti Allah dan Rasul-Nya merupakan inti ilmu dakwah. Dengan kata lain, pemahaman dan pengamalan Dinul Islam menjadi tujuan penting dalam pengembangan ilmu dakwah. Menggali sumber-sumber tauhid dan kebaikan, baik melalui pengamatan empiris, eksperimen, maupun penalaran, menjadi bagian dari proses kajian ilmu dakwah.

Peneliti ilmu dakwah perlu memiliki landasan ketauhidan atau keimanan. Penafsiran terhadap firman Allah yang tertuang dalam Al-Qur’an dan sabda Rasulullah juga menjadi unsur penting dalam struktur keilmuan dakwah.

Penafsiran yang dilakukan ilmuwan dakwah terhadap firman Allah, baik yang tertulis maupun yang dipahami melalui tanda-tanda kebesaran-Nya, serta sabda Nabi merupakan bagian penting dalam pengembangan ilmu dakwah. Pemaknaan melalui logika, metode, dan struktur ilmiah perlu dianalisis dengan penalaran yang sesuai dengan kondisi zaman. Proses tersebut diharapkan dapat melahirkan pengembangan ilmu dakwah yang relevan.

Penalaran yang dikembangkan ilmuwan dakwah berdasarkan pengamatan, eksperimen, dan analisis manusia merupakan perangkat keilmuan yang membutuhkan evaluasi serta pembaruan sepanjang zaman. Fenomena inilah yang perlu mendapat perhatian para ilmuwan dakwah maupun ilmuwan dari disiplin ilmu lainnya.

Modal Dasar Ilmuwan Dakwah

Pengembangan model danp ilmu dakwah dapat dilakukan oleh ilmuwan yang memperoleh anugerah hikmah sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Baqarah ayat 269. Hikmah yang dianugerahkan Allah kepada manusia berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan pemahaman. Pemahaman terhadap firman Allah dan sabda Rasulullah kemudian dikaji serta dirumuskan dalam kerangka ilmiah agar dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat berdasarkan metode keilmuan.

Struktur dan metode ilmiah merupakan bagian dari proses pengembangan ilmu yang dapat dilakukan melalui ijtihad. Hikmah merupakan anugerah Allah kepada hamba yang dikehendaki-Nya. Seseorang tidak dapat memperoleh hikmah hanya dengan mencarinya tanpa mempelajari metode yang telah ditempuh para nabi (Qathani, 2006:37).

Menurut Qathani, hikmah ilmiah berkaitan dengan kemampuan melihat rahasia sesuatu dan memahami hubungan sebab-akibat suatu peristiwa, baik dari segi bentuk, jenis, kadar, maupun hukum syaraknya.

Hikmah juga disebut dalam kisah Nabi Isa dalam Surah Maryam ayat 31 dan Luqman dalam Surah Luqman ayat 12. Dalam pandangan yang dikemukakan Qathani (2006:25), hikmah memiliki kedudukan yang tinggi. Para nabi merupakan teladan dalam kebenaran, pemahaman, serta ketepatan dalam perkataan, perbuatan, keyakinan, dan berbagai aspek kehidupan.

Ilmu yang diberikan Allah kepada para nabi menjadi sumber ajaran yang perlu dipahami dan dikembangkan oleh para pencari hikmah. Dalam konteks ilmu dakwah, pengembangan pengetahuan dilakukan melalui ijtihad terhadap makna teks firman Allah dan sabda Rasulullah, kemudian ditafsirkan oleh ilmuwan dakwah berdasarkan pemahaman dan kerangka keilmuan yang dimilikinya.

Ilmuwan dakwah atau peneliti ilmu dakwah berupaya melahirkan konsep dan struktur keilmuan dengan memahami kebenaran Ilahi serta mengkajinya melalui metode yang sesuai. Kajian tersebut dapat menggunakan pendekatan empiris, penalaran, dan analisis terhadap wahyu serta sabda Rasulullah sesuai dengan kerangka keilmuan pada masanya.

Kemampuan analisis dan penalaran dalam struktur keilmuan harus dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Sementara itu, pengembangan konsep ilmu dakwah melalui penalaran merupakan proses pemaknaan yang berkelanjutan terhadap fenomena objek dakwah, yaitu manusia dan lingkungannya, yang beragam serta terus berubah sesuai perkembangan zaman.

Memahami firman Allah dan sabda Rasulullah merupakan salah satu cara mengembangkan ilmu dakwah. Pemahaman tersebut juga digunakan untuk menafsirkan fenomena kemanusiaan yang beragam, termasuk perbedaan bahasa, budaya, tingkat intelektual, dan potensi keimanan seseorang.

Struktur ilmu dakwah berlandaskan Al-Qur’an, hadis Nabi, serta ijtihad para ulul albab yang dianugerahi hikmah oleh Allah SWT. Dalam perspektif penulis, hubungan antara wahyu, hikmah, dan penalaran manusia menjadi bagian penting dalam pembahasan epistemologi ilmu dakwah.

Cara Mendapatkan Ilmu Dakwah

Epistemologi merupakan cabang filsafat yang membahas hakikat dan ruang lingkup pengetahuan, asumsi-asumsi serta dasar-dasarnya, dan pertanggungjawaban atas pengetahuan yang dimiliki (Hamlyn, dalam Bakhtiar, 2004:148). Sementara itu, Suriasumantri (2010:99) menjelaskan epistemologi sebagai kajian mengenai cara memperoleh pengetahuan yang benar.

Pada masa lalu, peradaban Islam memiliki pusat pengembangan ilmu pengetahuan, salah satunya Baitul Hikmah. Hoodbhoy (1996:23) membahas kontribusi ilmuwan dalam perkembangan pengetahuan modern, termasuk pemikiran Ibn al-Haytham dan Omar Khayyam dalam tradisi intelektual Islam.

Kajian epistemologi mencakup sumber, hakikat, jangkauan, dan ruang lingkup pengetahuan, termasuk kemungkinan manusia memperoleh pengetahuan serta batas-batas yang dapat dijangkau melalui metode ilmiah. Metode ilmiah merupakan perwujudan cara kerja pemikiran yang sistematis. Pengetahuan yang dihasilkan melalui proses tersebut memiliki karakteristik yang dapat dijelaskan berdasarkan metode dan bukti yang digunakan.

Metode ilmiah bertujuan mencari jawaban atas fakta melalui pendekatan yang sistematis dan terbuka terhadap pengujian. Menurut Almack (1939), sebagaimana dikutip Nazir (1999:42), metode ilmiah merupakan cara menerapkan prinsip-prinsip logis dalam penemuan, pengesahan, dan penjelasan kebenaran.

Dengan demikian, pengetahuan dapat diperoleh melalui metode ilmiah yang memanfaatkan akal dan logika untuk menafsirkan fenomena, termasuk hubungan manusia dengan alam serta hubungan manusia dengan Khalik. (*)

  • Penulis Dr. A. Rani Usman, adalah seorang akademisi, pengajar pada Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh.
BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER