BerandaDisbudpar AcehSarana Penginapan di Pulau Banyak Harus Segera Masuk OTA

Sarana Penginapan di Pulau Banyak Harus Segera Masuk OTA

Ditengarai ada hambatan digitalisasi yang menciptakan kesenjangan akses yang nyata antara akomodasi premium milik pemodal besar dan akomodasi rakyat biasa.

Oleh: Cahyo Pramono

Pariwisata berkelanjutan adalah pariwisata yang mampu membagi tetesan ekonominya hingga ke lapisan terbawah, termasuk pemilik homestay dan losmen warga setempat.

Sayangnya, di Pulau Banyak, belum semua sarana akomodasi memanfaatkan fasilitas OTA –Online Travel Agent. Kurang dari 10 usaha saja yang sudah masuk ke dalam sistem penjualan online ini.

Ditengarai ada hambatan digitalisasi yang menciptakan kesenjangan akses yang nyata antara akomodasi premium milik pemodal besar dan akomodasi rakyat biasa.

Data analisis silang menunjukkan bahwa pemesanan akomodasi secara online (Online Travel Agent/OTA) didominasi oleh wisatawan kelas menengah ke atas, dengan 54.5% kelompok berpenghasilan Rp11 juta – Rp15 juta/bulan memanfaatkan platform OTA.

Sebaliknya, 30.6% wisatawan beranggaran hemat (< Rp5 juta/bulan) harus memesan penginapan secara offline dengan meminta bantuan kerabat atau teman lokal.

Suber: Cahyo Pramono

Kondisi ini terjadi bukan karena wisatawan beranggaran hemat tidak mau bertransaksi secara digital. Mereka memilih akomodasi sekelas losmen/homestay (44.9%) atau berkemah menggunakan tenda (18.4%).

Sayangnya, mayoritas homestay rakyat dan pengelola area berkemah di Pulau Banyak belum terdaftar di platform digital atau OTA besar. Mereka tidak memiliki visibilitas online, memaksa konsumen mengandalkan reservasi offline yang rumit.

Hal ini membuat akomodasi rakyat kehilangan pangsa pasar wisatawan mandiri dari luar daerah yang sangat mengandalkan kemudahan transaksi online.

Saya menanyakan mengapa responden memilih OTA, berikut jawabannya.

Sumber: Cahyo Pramono

Platform Global Perhotelan SiteMinder merilis hasil penelitiannya yang menyatakan bahwa Pemesanan via OTA: 59% (tertinggi di antara semua negara yang disurvei). Pemesanan langsung lewat situs/kontak hotel: 14% hingga 16,21%. Sementara melalui agen perjalanan konvensional (offline): Sekitar 10%.

Data ini menunjukkan bahwa tanpa terkoneksi ke OTA, akomodasi di Pulau Banyak akan tertinggal dalam upaya menjaring pasarnya.

Rekomendasi untuk Otoritas

Dinas Koperasi, UKM, dan Pariwisata Aceh Singkil harus turun tangan melakukan pendampingan literasi digital. Pemerintah harus memfasilitasi pelatihan pendaftaran homestay rakyat ke platform OTA populer (seperti Traveloka, Agoda, Tiket.com).

Digitalisasi losmen rakyat bukan sekadar tren teknologi, melainkan instrumen pemerataan ekonomi untuk memastikan pariwisata dinikmati oleh masyarakat lokal, bukan hanya pemilik modal penginapan besar. (*)

TULISAN TERKAIT: Pulau Banyak: Surga Indah yang Belum Akrab di Tingkat Nasional

Wisatawan Tanpa Kenal Warga Lokal Sulit Berkunjung ke Pulau Banyak

  • Cahyo Pramono, S.E., M.B.A., M.M.
    Peneliti mandiri & praktisi kepariwisataan, Penasihat Pengembangan Usaha, berdomisili di Medan
BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER