Data survei mengungkap kenyataan pahit: 71.5% responden yang menyukai wisata bahari ternyata belum pernah berkunjung sama sekali ke Pulau Banyak.
Oleh: Cahyo Pramono
Siapa yang meragukan pesona Pulau Banyak? Gugusan pulau tropis di ujung barat Aceh Singkil ini menyimpan eksotisme bahari kelas dunia yang memikat mata.
Belum lama ini saya membuat survei opini publik dan hasilnya menunjukkan fakta luar biasa: sekitar 94.6% responden menyatakan sangat menyukai wisata pantai, laut, dan pulau-pulau kecil. Minat pasar terhadap produk wisata bahari begitu masif. Namun, mengapa surga seindah Pulau Banyak ini masih sepi dari hiruk-pikuk wisatawan nasional?
Ada jurang pemisah yang lebar antara minat wisatawan dan realisasi kunjungan ke Pulau Banyak. Data survei mengungkap kenyataan pahit: 71.5% responden yang menyukai wisata bahari ternyata belum pernah berkunjung sama sekali ke Pulau Banyak.
Saya menyimpulkan bahwa salah satu kunci utama dari mandeknya konversi kunjungan ini adalah masalah klasik pariwisata kita: brand awareness yang sangat lemah.
Berikut adalah data sumber informasi yang didapatkan responden tentang Pulau banyak;

Bayangkan saja, 42.4% responden di luar Sumut yang secara blak-blakan mengaku belum pernah mendengar nama Pulau Banyak sama sekali. Lebih parah lagi, 44.2% responden tidak tahu di mana lokasi Pulau Banyak berada. Bagaimana mungkin wisatawan bisa merencanakan liburan ke destinasi yang keberadaannya saja tidak mereka ketahui?
Bagi wisatawan di luar Sumatera Utara, angka ketidaktahuan ini sangat tinggi hingga 75.0%. Ini adalah sinyal merah bagi Dinas Pariwisata Aceh Singkil. Selama ini, promosi kita mungkin hanya berputar di lingkaran lokal atau menggunakan metode konvensional yang tidak menjangkau pasar nasional secara efektif.
Berikut alasan responden yang menghambat mereka berkunjung ke Pulau Banyak.

Rekomendasi Taktis Bagi Pemkab Singkil
Pemerintah Kabupaten Aceh Singkil tidak bisa lagi pasif. Strategi promosi harus bertransformasi dari sekadar berpartisipasi di stan pameran fisik regional menjadi kampanye digital nasional yang agresif.
Promosi harus diarahkan ke kota-kota besar nasional melalui kolaborasi dengan travel influencer dan pembuatan konten video pendek kreatif secara berkelanjutan di Instagram, TikTok, dan YouTube. Pulau Banyak harus keluar dari dinding sunyinya dan mulai bersuara di panggung nasional. (*)
- Cahyo Pramono, S.E., M.B.A, M.M., adalah peneliti mandiri dunia kepariwisataan dan praktisi kepariwisataan di samping sebagai Business Coach, tinggal di Medan.



