Aceh Timur (Waspada Aceh) – Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh mengirimkan 50 mahasiswa dari lima fakultas untuk terlibat langsung dalam Program Mahasiswa Berdampak: Pemberdayaan Masyarakat dalam Pemulihan Dampak Bencana di Sumatra Tahun 2026.
Program tersebut dilaksanakan di Desa Seuneubok Simpang, Kecamatan Darul Aman, Kabupaten Aceh Timur, dan resmi dimulai melalui serah terima peserta kepada tokoh serta warga desa pada Minggu (31/1/2026).
Sebanyak 50 mahasiswa yang terlibat berasal dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Fakultas Teknik (FT), serta Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB).
Peserta didominasi mahasiswa perempuan sebanyak 47 orang dan tiga mahasiswa laki-laki. Mereka didampingi oleh tiga dosen pembimbing, yakni Prof. Dr. Zumaidar, Dr. Laina Hilman Sari, dan Rizanna Rosemary,
Program ini bertujuan memperkuat kapasitas masyarakat desa dalam proses pemulihan dan pemberdayaan pascabanjir, sekaligus memberikan pengalaman langsung bagi mahasiswa dalam menerapkan keilmuan di lapangan.
Adapun kegiatan yang akan dijalankan meliputi pemanfaatan tanaman lokal, inovasi digital untuk ketahanan pangan, serta penguatan aspek kesehatan dan lingkungan.
Dalam sambutannya, Prof. Dr. Zumaidar menyampaikan bahwa kehadiran USK merupakan bentuk dukungan terhadap program pemerintah dalam pemulihan masyarakat pascabencana.
“USK hadir turut mendukung program kementerian dalam proses pemulihan masyarakat pascabanjir dengan mendampingi kemandirian masyarakat,” ujarnya.
Ia menambahkan, keterlibatan mahasiswa tidak hanya berfokus pada aksi langsung, tetapi juga pada pembelajaran sosial dan pemberdayaan komunitas.
“Program ini menawarkan pengalaman hidup di desa yang sangat berharga sekaligus memberi kontribusi nyata sesuai keilmuan masing-masing mahasiswa,” katanya.
Kehadiran mahasiswa USK mendapat respons positif dari masyarakat Desa Seuneubok Simpang.
Kepala Desa Seuneubok Simpang, Dr. Zulkilfli, bersama aparat desa, Ketua PKK, dan Ketua Kelompok Tani menyambut baik program tersebut dan berharap pendampingan yang dilakukan dapat mempercepat pemulihan pascabencana.
“Seuneubok Simpang merupakan desa terpencil. Karena itu, kami dan masyarakat sangat senang menerima kehadiran adik-adik mahasiswa untuk bekerja sama membangun desa kembali,” ujar Zulkilfli. (*)



