Jumat, Juli 19, 2024
Google search engine
BerandaKabar TaniTergiur Harga yang Menjanjikan, Petani di Aceh Berlomba Tanam Cabai

Tergiur Harga yang Menjanjikan, Petani di Aceh Berlomba Tanam Cabai

“Kami mengimbau kepada pemerintah daerah dan petani bersama-sama melakukan segala upaya dalam mempertahankan produksi cabai”

— Kadistanbun Aceh Cut Huzaimah —

Cabai, merupakan komoditas sayuran yang memiliki banyak manfaat, bernilai ekonomi tinggi dan mempunyai prospek pasar yang menggiurkan.

Beberapa waktu lalu, hargai cabai di seluruh Indonesia mengalami kenaikan. Bahkan menembus Rp200 ribu perkilogram. Harga tersebut juga berlaku di Aceh. Sebagian daerah di Aceh dikenal sebagai penghasil cabai.

Sebelumnya, harga cabai tidak pernah mengalami kenaikan mencapai Rp100 ribu hingga Rp200 ribu. Harga cabai bukan naik sehari atau dua hari saja, kemudian turun. Tapi biasanya mampu lama bertahan pada harga Rp100 ribu.

Melihat cabai memiliki harga yang cukup tinggi, masyarakat Aceh berlomba-lomba menanam cabai, baik untuk kebutuhan pribadi ataupun sebagai usaha pertaniannya.

Salah seorang petani cabai di Kabupaten Gayo Lues Ali Syahputra kepada waspadaaceh.com, Senin (17/10/2022) mengatakan, saat ini rata-rata masyarakat menanam cabai sebagai usaha andalan. Tidak hanya masyarakat yang berprofesi sebagai petani, namun tak jarang para pejabat, bahkan pengusaha tergiur menggeluti usaha tani dengan menanam cabai.

Sejak mengalami kenaikan, tutur Ali, masyarakat setempat tidak muluk-muluk menanam cabai. Ada yang hanya menanamnya di lahan pekarangan depan atau belakang rumah dengan beberapa puluh pohon cabai. Tapi ada juga yang menanamnya secara intensif. Bahkan per keluarga biasa juga mereka menanam cabai di bedengan hingga 9-10 mulsa (satu mulsa panjangnya 500 meter).

Penanaman ini baru dimulai sejak harga cabai diperkirakan akan naik atau empat bulan sebelumnya. Masyarakat yang menanam pada Juli yang lalu, setelah panen sempat menjual cabainya dengan harga Rp100/kilogram.

“Walaupun sekarang harga cabai sudah turun, tapi awal-awal panen, kami sempat menjual dengan harga 100 ribu. Ini merupakan pertama kalinya kami menjual dengan harga yang tinggi,” jelasnya.

Pada musim panen, kata Ali, tanaman cabai yang dia tanam mampu memproduksi (panen) 500 kilogram cabai dengan luas lahan 2 mulsa.

“Waktu panen raya atau panen pertengahan hasilnya banyak. Setelah itu hasilnya turun,” jelasnya.

Kadistanbun Aceh Cut Huzaimah bersama Bupati Gayo Lues Muhammad Amru saat menyerahkan bantuan bibit kepada petani di Gayo Lues. (Foto/Instagram kominfogayolues)

Bonus Bagi Petani

Banyak yang mengeluh dari kalangan masyarakat tentang naiknya harga cabai. Namun jika dilihat selama ini, harga cabai yang tinggi tidak terjadi terus-terusan.

“Mengapa mesti mengeluh dengan harga cabai. Inikan baru sekali mengalami kenaikan yang cukup tinggi. Jadi anggap saja bonus bagi petani,” tuturnya.

Harga cabai yang tinggi, sebut Ali, banyak membawa perubahan, khususnya bagi masyarakat petani di dataran tinggi Gayo. Tentunya, kenaikan harga cabai mampu mengubah perekonomian masyarakat menjadi lebih baik.

“Ketika panen, banyak yang membangun rumah, membeli sawah dan membeli barang-barang berharga lainnya,” sebutnya.

Petani saat merawat tanaman cabainya. (Foto/Kia)

Kadistanbun Kunjungi Kebun Cabai

Mulai memasuki panen raya cabai merah, Kadis Pertanian dan Perkebunan (Kadistanbun) Aceh Cut Huzaimah, mengunjungi kebun petani di Desa Bengkik, Kecamatan Blang Peugayon, Kabupaten Gayo Lues, Provinsi Aceh, Kamis (28/9/2022).

Dalam kunjungan itu, Kadistanbun Aceh Cut Huzaimah didampingi Kadis Pangan Aceh Cut Yusmiar, Kadis Pertanian Gayo Lues Juanda Syahputra serta Bupati Gayo Lues Muhammad Amru dan Wakil Bupati Said Sani serta unsur Forkopimda.

Pada kesempatan itu, Cut Huzaimah mengatakan, menjaga ketersediaan komoditi pertanian merupakan tanggung jawab bersama. Salah satu komoditi yang banyak dan sering dibutuhkan masyarakat adalah cabai merah. Sehingga ketika stok cabai tidak tersedia maka akan berpengaruh terhadap kenaikan inflasi.

Selama dua atau tiga bulan terakhir, sambung Huzaimah, cabai merah menjadi penyumbang inflasi terbesar di jajaran harga bahan pokok. Oleh karena itu, Pemerintah Aceh akan terus berupaya mengenjot produksi cabai di Aceh.

Cut menyebutkan, Aceh merupakan salah satu daerah penghasil cabai dengan kategori surplus. Untuk itu, ia meminta kepada petani dan pemerintah bekerjasama agar dapat mempertahankannya.

“Kami mengimbau kepada pemerintah daerah dan petani bersama-sama melakukan segala upaya dalam mempertahankan produksi cabai,” sebutnya.

Walaupun selama ini, lanjut Huzaimah, sering menjadi kendala terjadinya over produksi sehingga menyebabkan turunnya harga cabai. Untuk itu, dia mengimbau kepada petani supaya bisa mengatur pola bercocok tanam.

Pemerintah Aceh melalui Distanbun Aceh akan terus mendukung pengembangan tanaman cabai di Gayo Lues, tutur Cut Huzaimah. Dukungan itu juga akan diberikan dalam bentuk bantuan sarana, seperti bibit, pupuk serta alat bantu lainnya, lanjut Kadistanbun Aceh. (Adv)

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER