Banda Aceh (Waspada Aceh) – Menjelang Hari Raya Idul Adha 2026, trotoar di kawasan Peunayong dipenuhi aktivitas ibu-ibu penjual ketupat. Di pinggir jalan, mereka duduk berjejer sambil sibuk menganyam daun janur menjadi ketupat untuk dijual kepada warga yang mulai mempersiapkan hidangan lebaran.
Nuraini (45), warga Tungkop, Aceh Besar, menjadi salah satu penjual yang tampak telaten menganyam ketupat berbagai ukuran. Ia menjual ketupat kecil hingga besar, termasuk anyaman khusus untuk lontong.
“Yang kecil dan besar ada, untuk lontong juga ada,” ujarnya sambil terus merapikan anyaman di trotoar jalan. Senin (25/5/2026).
Ketupat buatannya dijual Rp5 ribu per gantung. Dalam satu gantung biasanya berisi lima buah ketupat.
Meski mulai ramai pembeli, Nuraini mengaku permintaan menjelang Idul Adha tahun ini tidak sebanyak saat Idul Fitri.
“Kalau sebelum Idul Fitri biasanya lebih ramai. Sekarang baru laku sekitar 60 buah,” katanya.
Biasanya, Nuraini mampu membuat hingga 500 ketupat dalam sehari. Namun tahun ini ia hanya menyiapkan sekitar 300 buah karena khawatir tidak habis terjual.
Selain Nuraini, penjual lain bernama Nurfarida juga tampak berjualan di pinggir jalan kawasan Peunayong.
Berbeda dengan pedagang musiman, Nurfarida mengaku sehari-hari memang berjualan ketupat dan lontong untuk memenuhi permintaan pelanggan, termasuk para pedagang sate di Banda Aceh.
“Kalau hari biasa juga ada yang cari, banyak untuk pedagang sate,” ujarnya.
Namun menurut Nurfarida, permintaan menjelang Idul Adha kali ini juga cenderung lebih sedikit dibandingkan momen Idul Fitri.
Tumpukan daun kelapa muda, ketupat setengah jadi, hingga anyaman yang telah digantung berjajar di sisi trotoar menghadirkan suasana khas menjelang lebaran di Peunayong.
Di tengah keramaian pasar, aktivitas para ibu-ibu itu menjadi bagian dari tradisi yang terus bertahan dari tahun ke tahun. (*)



