Banda Aceh (Waspada Aceh) – Politeknik Pelayaran (Poltekpel) Malahayati Banda Aceh menyatakan pemeriksaan sementara terhadap meninggalnya calon taruna Muhammad Rasya Fadhillah (18) tidak menemukan indikasi kekerasan. Namun, penyebab pasti kematian Fadhillah masih menunggu hasil pemeriksaan medis dan visum dari pihak berwenang.
Direktur Poltekpel Malahayati, Andi Fiardi, mengatakan pihaknya meminta semua pihak tidak berspekulasi terkait penyebab meninggalnya Fadhillah dan memberikan ruang kepada proses pemeriksaan yang sedang berjalan.
“Berdasarkan informasi awal yang kami terima, dalam pemeriksaan sementara tidak ditemukan indikasi kekerasan. Namun demikian, penentuan penyebab kematian secara medis masih menunggu hasil pemeriksaan dan visum dari pihak yang berwenang,” kata Andi dalam keterangan resmi, Rabu (30/9/2026).
Menurut Andi, hasil pemeriksaan tersebut diperkirakan membutuhkan waktu sekitar tujuh hari.
Fadhillah meninggal dunia di RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh, Minggu (27/9/2026), setelah sebelumnya mengalami sakit dengan keluhan demam sejak Sabtu (26/9/2026).
Ia sempat mendapat penanganan dari dokter dan tim medis di Poliklinik Poltekpel Malahayati. Dalam perkembangannya, muncul ruam atau bintik pada tubuh yang semakin bertambah.
Karena kondisinya tidak membaik, Fadhillah kemudian dirujuk ke RSUD dr. Zainoel Abidin untuk menjalani pemeriksaan laboratorium dan penanganan lebih lanjut di IGD.
Namun, pada Minggu sekitar pukul 16.14 WIB, kondisinya dilaporkan mengalami penurunan secara mendadak. Setelah mendapatkan perawatan intensif, Fadhillah dinyatakan meninggal dunia.
Tak Ada Kekerasan dalam Orientasi
Fadhillah merupakan calon taruna Program Studi Sistem Kelistrikan Kapal (SKK) hasil seleksi penerimaan calon taruna program mandiri Tahun 2026.
Sebelumnya, ia mengikuti orientasi pembentukan karakter pada 4-14 September 2026 bersama 251 calon taruna lainnya.
Andi menegaskan kegiatan orientasi tersebut tidak dirancang maupun dilaksanakan dalam bentuk kekerasan.
“Demikian pula, kegiatan rutin di kampus tidak melibatkan interaksi antara senior dan yunior sebagai upaya untuk mencegah potensi terjadinya bullying,” ujarnya.
Pernyataan tersebut disampaikan Poltekpel menyusul munculnya berbagai pemberitaan dan konten di media mainstream maupun media sosial yang mengaitkan kematian Fadhillah dengan dugaan tertentu.
Andi meminta informasi mengenai penyebab kematian diserahkan kepada proses pemeriksaan pihak berwenang.
“Demi objektivitas dan untuk menghormati proses pemeriksaan yang sedang berjalan, kami mengajak semua pihak untuk menunggu keseluruhan hasil pemeriksaan dari pihak yang berwenang,” katanya.
Poltekpel Malahayati juga menyatakan telah melakukan penelusuran internal, termasuk menelaah dokumen dan rekaman yang relevan serta berkoordinasi dengan pihak rumah sakit..Andi mengatakan pihaknya siap memberikan data maupun keterangan apabila dibutuhkan kepolisian.
“Kami selalu siap memberikan keterangan maupun data yang diperlukan apabila diminta oleh pihak kepolisian,” ujarnya.
Ia menambahkan, apabila dalam proses pemeriksaan nantinya ditemukan pelanggaran disiplin ataupun tindak kekerasan oleh pihak mana pun, Poltekpel Malahayati akan mendukung penanganannya sesuai ketentuan yang berlaku.
“Perkembangan lebih lanjut akan disampaikan melalui saluran resmi berdasarkan informasi yang telah terverifikasi,” tutup Andi.(*)



