“Medan tidak harus memilih antara menjadi kota modern atau kota yang menjaga tradisi. Ia dapat menjadi keduanya: maju dalam pembangunan, cerdas dalam berpikir, namun tetap berakar pada tanah tempat ia tumbuh”
Pembangunan sejati tak pernah berjalan meninggalkan jejak yang membentuknya. Bagi Kota Medan, kemajuan bukan sekadar menjulangnya gedung-gedung tinggi atau derasnya arus modernisasi. Ia adalah tentang bagaimana kota ini tetap mengenal siapa dirinya, dari mana ia berasal, dan apa yang menjadikannya unik di tengah perubahan zaman.
Melalui Misi 7: Medan Beridentitas, Pemerintah Kota Medan menempatkan kebudayaan bukan sekadar sebagai hiasan atau pelengkap kegiatan, melainkan sebagai fondasi utama yang menopang berdirinya kota ini. Tujuannya jelas: mewujudkan Medan yang berbudaya, yang memelihara warisan leluhur sekaligus terbuka bagi masa depan.
Arah: Melindungi, Menghidupkan, Mewariskan
Kebijakan ini diterjemahkan ke dalam langkah-langkah nyata. Pertama, menjaga harta tak ternilai yang tercatat: 126 Cagar Budaya dan 154 Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB). Angka ini bukan sekadar daftar, melainkan bukti betapa kaya sejarah yang tersimpan di setiap sudut kota — warisan yang wajib dijaga, dipelihara, dan diwariskan.
Kedua, menghidupkan ruang-ruang kebudayaan. Sanggar, kawasan bersejarah, ruang publik tak boleh sepi. Ia harus kembali menjadi tempat bertemunya seniman, budayawan, komunitas, dan generasi muda, tempat di mana budaya tak sekadar dipajang, tetapi dihidupkan.
Ketiga, memperkuat warisan takbenda: lisan, tradisi, seni, bahasa, kuliner, tata cara, dan kearifan lokal. Semua itu adalah napas yang membuat Medan tetap Medan. Keempat, menanamkan kesadaran budaya sejak dini, sehingga sejarah tak sekadar menjadi tulisan di buku, melainkan pengalaman yang dirasakan.
Dan kelima, menyatukan pelestarian warisan dengan pariwisata, tanpa mengorbankan keaslian dan martabat budaya itu sendiri.
Negeri Deli: Akar yang Menghubungkan
Di tengah keragaman yang mewarnai Medan, Negeri Deli memiliki tempat yang istimewa. Adat, kesantunan, gotong royong, penghormatan kepada sesepuh, keindahan seni dan bahasa, semuanya adalah bagian dari identitas yang tak boleh pudar.
Namun memperkuat akar ini bukan berarti menutup diri. Medan lahir dari perjumpaan banyak suku dan budaya. Identitas sejati lahir bukan dari penyeragaman, melainkan dari memberi ruang yang sama bagi semua untuk tumbuh.
Warisan Harus Hidup, Bukan Hanya Dilindungi
Tantangan terbesar hari ini adalah memastikan warisan tak berhenti sebagai benda yang dipagar. Warisan harus menjadi pengetahuan, pengetahuan menjadi kesadaran, kesadaran tumbuh menjadi kebanggaan, dan kebanggaan melahirkan tanggung jawab.
Di sinilah peran teknologi masuk, seperti pemberian kode QR pada situs cagar budaya, menjembatani masa lalu dengan generasi masa kini, sehingga sejarah terasa dekat, dapat disentuh, dipelajari, dan dicintai kembali.
Namun yang paling utama adalah manusia. Kebudayaan bertahan bukan karena temboknya kokoh, melainkan karena ada jiwa yang terus mewariskannya. Sanggar, komunitas, para pelaku seni, merekalah penjaga nyata peradaban ini.
“Merawat Akar, Menjaga Peradaban”, Semangat yang Menggerakkan
Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Medan, OK Zulfani Anhar, menegaskan makna di balik semangat tersebut: “Merawat akar, menjaga peradaban. Bagi kami, ini bukan sekadar kalimat, tetapi semangat dalam menjalankan pemajuan kebudayaan Kota Medan. Kita tidak boleh membangun masa depan dengan melupakan akar sejarah dan budaya yang membentuk kota ini.”
Menurutnya, penguatan akar Negeri Deli justru menjadi dasar untuk semakin menghargai keberagaman yang menjadi kekuatan Medan. “Dengan memahami siapa kita, kita dapat lebih menghormati mereka yang berbeda dari kita.”
Penghargaan, seperti Award Cagar Budaya dan Tokoh Kebudayaan Kota Medan 2026 yang digelar 22 September lalu, adalah pengakuan bahwa di balik setiap warisan, ada manusia yang merawatnya. Kerja kebudayaan adalah tentang menghormati mereka yang tak kenal lelah menjaga nyala pelita agar tak padam.
Medan yang Berakar dan Terus Melangkah
Pada akhirnya, Medan tidak harus memilih antara menjadi kota modern atau kota yang menjaga tradisi. Ia dapat menjadi keduanya: maju dalam pembangunan, cerdas dalam berpikir, namun tetap berakar pada tanah tempat ia tumbuh. Sebuah kota yang kehilangan akar, akan mudah kehilangan arah. Tetapi kota yang mampu merawatnya, akan memiliki kekuatan untuk menentukan masa depannya sendiri.
Merawat akar. Menjaga peradaban. Menghidupkan kebudayaan. Membangun Medan Beridentitas. (T.Bobby Lesmana)



