Bireuen (Waspada Aceh) – Tim Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (Satgas PRR) Aceh, melaporkan perkembangan pembangunan pengendalian banjir Sungai Krueng Samalanga kepada Kepala Satgasnas PRR Sumatera, Muhammad Tito Karnavian, dalam rangkaian monitoring bulanan dan kunjungan lapangan ke Kabupaten Bireuen.
Dari laporan tersebut yang diterima Waspadaaceh.com, Minggu (25/10/2026), Tim Satgas PRR langsung melakukan peninjauan di Kecamatan Samalanga, di mana Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera I melaksanakan empat paket pekerjaan pengamanan tebing sungai dan penanganan muara. Pekerjaan pengamanan tebing sungai menggunakan konstruksi batu boulder yang kokoh, bertujuan memperkuat dinding sungai dari erosi sekaligus menahan luapan air saat musim hujan, sehingga permukiman warga di sepanjang aliran sungai terlindungi lebih baik.
Kepala Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera, Muhammad Tito Karnavian, menegaskan bahwa pengendalian banjir adalah infrastruktur kehidupan yang tidak boleh tertunda.
“Setiap meter tebing yang diperkuat adalah satu keluarga yang tidur lebih tenang saat hujan turun,” ujarnya.
Keempat segmen yang dilaporkan: Segmen I, di Desa Kandang: Dengan anggaran sekitar Rp7,1 miliar, penanganan sepanjang 250 meter dengan tinggi konstruksi 7,5 meter dimulai akhir September 2026 dan ditargetkan selesai pertengahan November 2026. Hingga saat ini progres fisik mencapai 17,89%, didukung tiga unit ekskavator.
Kendala yang dihadapi berupa cuaca yang tidak menentu, kenaikan debit air yang menghambat penggalian sekitar 50 meter, serta akses jalan yang sempit. Masyarakat setempat berharap adanya penambahan pengamanan tebing sepanjang sekitar 400 meter lagi di sekitar lokasi ini demi perlindungan yang lebih luas.
Segmen II: Bernilai kontrak Rp7,86 miliar, mencakup penanganan sepanjang 100 meter dengan elevasi puncak +6 meter dari permukaan air banjir. Pekerjaan meliputi penggalian dan pemadatan tanah, pemasangan geotekstil, hingga penataan batu boulder. Dimulai Agustus 2026, paket ini ditargetkan selesai Desember 2026.
Sedangkan Segmen III: Menjadi yang paling panjang dengan 537 meter, lebar 16 meter, dan tinggi 6,5 meter. Progres fisik telah mencapai 80%, menjadikannya yang paling maju di antara keempat paket. Pekerjaan ditargetkan rampung pertengahan November 2026. Tim Satgas menekankan perlunya percepatan pasokan material dan pengaturan mobilisasi agar target tercapai tepat waktu.
Tim Satgas PRR juga melaporkan Segmen Penanganan Muara: Revetment sepanjang 163 meter dengan lebar 24,65 meter dan tinggi 5,25 meter baru memasuki tahap penggalian dan pembuatan tapak sejak dimulai Oktober 2026. Sepuluh pekerja dan dua unit ekskavator telah bersiaga, dengan target penyelesaian Desember 2026. Pekerjaan ini dinilai sangat strategis karena berfungsi mengatur aliran sungai ke laut dan mencegah pendangkalan yang dapat memperparah luapan air ke daratan.
Terkait progres Tim Satgas PRR ini, BWS Sumatera I bersama pelaksana kegiatan akan mempercepat pekerjaan pengendalian banjir Sungai Krueng Peusangan dan Krueng Samalanga, dengan memperhatikan ketersediaan material, kebutuhan alat berat, kondisi cuaca, serta kenaikan debit air. Sedangkan Pemkab Bireuen akan terus berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian, BWS Sumatera I, Pemerintah Provinsi Aceh.
Tim Satgas PRR juga mencatat aspirasi masyarakat yang mengusulkan penambahan pengamanan tebing sungai agar kawasan yang rawan terancam banjir semakin berkurang. Laporan ini menjadi bagian dari pemantauan rutin yang disampaikan setiap bulan, memastikan setiap rupiah anggaran pemulihan bencana menghasilkan perlindungan nyata bagi warga Aceh, khususnya di Bireuen.
Renduk PRRP Sumatera Arahkan Penanganan Dari Hulu hingga Hilir
Pemulihan sungai di wilayah terdampak tidak saja pengerukan sedimentasi. Juga memperkuat tanggul, pemulihan daerah aliran sungai (DAS), serta meningkatkan sistem pemantauan dan peringatan dini banjir. Strategi tersebut tercantum dalam Rencana Induk Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (Renduk PRRP) Sumatera 2026–2028.
Dalam dokumen tersebut, rehabilitasi infrastruktur sumber daya air diarahkan untuk menurunkan risiko banjir dan bencana hidrometeorologi berulang. Penanganannya dilakukan secara terpadu dalam satu kesatuan DAS, dengan mempertimbangkan kondisi sungai, risiko bencana, perubahan iklim, serta tata ruang wilayah.
Langkah strategisnya dengan penguatan tanggul dan tebing sungai padai segmen kritis rusak akibat bencana. Perubahan bentuk alur sungai juga menjadi perhatian, dengan melakukan penyesuaian desain dan kapasitas sungai agar lebih adaptif terhadap perubahan kondisi lingkungan.
Selain pekerjaan fisik di badan sungai, Renduk menekankan pentingnya penanganan wilayah hulu. Upaya ini mencakup penanganan longsor aktif, erosi, dan degradasi tutupan lahan, serta rehabilitasi hutan dan lahan kritis untuk mengurangi sedimentasi yang dapat menurunkan kapasitas sungai dan mengganggu fungsi infrastruktur pengendali banjir.
Pada sisi infrastruktur, matriks kebijakan dan kegiatan Renduk mencantumkan pembangunan pengendalian banjir, pengerukan dasar dan muara sungai, perkuatan tebing, pembangunan jetty, serta pembangunan pengendali lahar atau sedimen dan sabo dam. Pelaksanaan setiap kegiatan perlu disesuaikan dengan karakteristik dan tingkat risiko di lokasi terdampak.
Pemerintah juga diarahkan memperkuat sistem pemantauan melalui rehabilitasi pos duga air dan pos curah hujan, serta pengembangan sistem peringatan dini banjir. Data hidrologi dan klimatologi pascabencana perlu diintegrasikan lintas instansi agar dapat menjadi dasar perencanaan, pelaksanaan pekerjaan, dan pengambilan keputusan.
Melalui pendekatan tersebut, pemulihan sungai pascabencana diarahkan tidak hanya untuk memperbaiki kerusakan yang sudah terjadi, tetapi juga mengurangi risiko banjir berulang dan memperkuat ketahanan wilayah. Pelaksanaannya menjadi bagian dari agenda rehabilitasi dan rekonstruksi Sumatera selama periode 2026–2028. (*)



