Di sini, mereka bisa kembali membaca buku dengan tenang, menulis harapan di atas kertas, dan berani membayangkan masa depan yang lebih cerah.
Peluh menetes perlahan di pelipisnya, merembes di balik jilbab biru yang menutupi bahunya. Di hadapannya berdiri bangunan kayu bercat warna yang sama, sederhana, belum sempurna. Namun hari ini bangunan itu tampak bersinar.
Siti Sari (29) berdiri diam di halaman Desa Sah Raja, Kecamatan Pante Bidari, Kabupaten Aceh Timur. Ia membiarkan angin pegunungan yang sejuk menyapa wajahnya dengan penuh haru.
Bukan hari ini seharusnya mereka berkumpul di sini. Sekolah masih libur semester. Namun pagi tadi anak-anak sudah berlarian datang dari berbagai penjuru kampung, mengenakan baju bebas dengan mata berbinar penasaran.
Mereka berlari menuju bangunan yang baru selesai didirikan beberapa hari ini. Menepuk-nepuk dinding kayunya, menyentuh ambang pintunya seolah sedang menyambut teman lama yang pulang dari perjalanan jauh.
Di sudut halaman, para relawan Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada sibuk mengangkat papan nama kayu. Saat tulisan “SD Negeri 1 Sah Raja” perlahan terpasang kokoh di depan bangunan, suara tepuk tangan anak-anak bergema membelah kesunyian desa yang terletak di ujung paling timur ini, tempat jalan aspal berakhir, dan perbatasan dengan Aceh Utara serta Bener Meriah.
Siti yang semula berwajah haru, setelah menyaksikan semuanya ia pun tersenyum. Di matanya, bangunan kayu ini bukan sekadar atap dan dinding untuk berlindung. Ia adalah penanda bahwa harapan tak pernah benar-benar hanyut, meski air bah pernah menyapu bersih segala hal yang mereka miliki.
Ingatannya melayang kembali ke akhir November tahun lalu. Hari itu langit gelap pekat, hujan turun tanpa henti selama berhari-hari, hingga akhirnya banjir bandang melanda desa ini dengan ganas. Air keruh yang membawa lumpur dan batang kayu besar meluluhlantakkan sekolah tempat ia mengajar selama bertahun-tahun.
Tujuh ruang kelas, ruang kepala sekolah, kantor guru, hingga rak buku di perpustakaan, semuanya hancur lebur, tersapu arus yang tak kenal ampun.
Sejak saat itu, 97 siswa terpaksa meninggalkan kampung halaman mereka setiap hari. Mereka berjalan lima kilometer menuju tempat yang lebih tinggi untuk belajar di bawah tenda darurat yang panas dan gerah.
“Jam sembilan pagi saja matahari sudah membakar kulit,” kenang Sari dengan suara lembut namun tegas.
“Anak-anak berkeringat deras, kertas buku mereka sering lembap dan robek. Kalau hujan turun atau angin kencang datang, suara pelajaran harus berhenti, tertutup suara gemuruh angin dan air yang menerjang atap tenda. Banyak anak mulai mengantuk, sulit memusatkan pikiran pada bacaan di papan tulis. Namun tak pernah sekalipun terlintas di hatinya untuk pergi”.
Siti dulunya mengajar di SD Negeri Sarah Gala, bangunan yang kini tinggal kenangan, luluh lantak tersapu ganasnya banjir bandang akhir tahun lalu.
Siti melangkah menjadi guru di sini sejak 1 Januari 2016, tak lama setelah lulus dari bangku SMA. Ia pernah berani bermimpi lebih tinggi: mendaftar di Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Terbuka, berharap suatu hari nanti bisa memegang ijazah dan mengajar dengan ilmu yang lebih lengkap.
Namun kenyataan kondisi ekonomi memaksanya berhenti di tengah jalan. Biaya kuliah yang harus dibayar setiap semester terlalu berat untuk ditanggung keluarganya.
“Saya tidak menyesal,” katanya pelan. “Tapi jika suatu hari nanti rezeki datang, keinginan itu belum pernah hilang. Saya ingin menjadi guru yang pantas untuk mereka.”
Selama bertahun-tahun, pengabdiannya dihargai dengan angka yang jauh dari cukup. Saat pertama kali mengajar, honornya hanya seratus ribu rupiah setiap bulan. Naik menjadi tiga ratus lima puluh ribu pada tahun 2022, dan kini, setelah hampir sepuluh tahun mengabdikan diri, baru mencapai lima ratus ribu rupiah. Uang itu tak cukup untuk membeli kebutuhan sehari-hari, apalagi membayar biaya kuliah yang tertunda.
Namun Siti tak pernah menuntut lebih. “Alhamdulillah, saya masih diberi kesempatan untuk berdiri di depan kelas,” ucapnya dengan senyum tulus.
“Bagi saya, itu sudah rezeki yang luar biasa besar.”

Di rumah, beban pundaknya juga tak ringan. Suaminya adalah petani pinang, dan pohon-pohon pinang yang menjadi sumber penghasilan utama keluarga pun banyak tumbang atau rusak diterjang banjir. Namun di tengah keterbatasan yang menyelimuti hidupnya, Siti menemukan kekuatan dari tempat yang tak terduga: setiap pagi, ketika melihat anak-anak berjalan beriringan menuju tempat belajar, dengan tas anyaman di pundak dan senyum di wajah, ia tahu bahwa ia tak boleh berhenti.
Menurut Siti, akses menuju lokasi sekolah lama kini semakin sulit dilalui, penuh lumpur dan rintangan. Sejak hari kelam itu, kegiatan belajar mengajar sempat berlangsung di bawah tenda darurat yang kini pun sudah tak sanggup lagi menahan panas, hujan, dan angin. Tak lagi layak menjadi tempat bagi anak-anak untuk menimba ilmu.
Untuk mencegah anak-anak menempuh perjalanan berbahaya dan melelahkan sejauh lima kilometer dari Desa Sah Raja ke SD Negeri Sarah Gala, maka dibangunlah sekolah darurat tepat di tengah desa mereka sendiri.
Sekolah ini kemudian diberi nama SD Negeri 1 Sah Raja. Untuk sementara waktu, di sinilah Siti berdiri kembali di depan kelas, menemani murid-muridnya menata harapan di tempat yang baru.
Kini bangunan kayu ini hadir sebagai jawaban atas doa-doa yang dipanjatkannya setiap malam. Dibangun dengan tangan gesit para relawan, sebagian besar kayunya bahkan diambil dari pohon yang tumbang akibat banjir, namun masih layak digunakan. Seolah alam pun ingin menyumbangkan sisa tenaganya untuk membangun kembali masa depan anak-anak desa.
Bagi orang luar, ini mungkin hanya sekolah darurat: bangunan sementara yang sederhana, jauh dari fasilitas mewah. Namun bagi Siti dan murid-muridnya, di sini mimpi yang sempat terhenti kini bisa kembali tumbuh. Di sini mereka tak perlu lagi menahan panas matahari yang membakar kulit, tak perlu lagi khawatir atap akan roboh diterjang angin.
Di sini, mereka bisa kembali membaca buku dengan tenang, menulis harapan di atas kertas, dan berani membayangkan masa depan yang lebih cerah.
Siang itu, saat papan nama sekolah akhirnya terpasang sempurna, Siti ikut bertepuk tangan bersama anak-anak. Peluh masih membasahi wajahnya, namun matanya berkilau penuh cahaya yang tak pernah padam.
Di ujung Aceh Timur ini, di tempat yang jauh dari hiruk-pikuk kota besar, ada seorang guru yang hanya menerima lima ratus ribu rupiah setiap bulan.
Namun bagi sembilan puluh tujuh anak yang berjalan di bawah bimbingannya, Siti Sari adalah penjaga paling setia, sosok yang memastikan mimpi mereka tak pernah ikut hanyut bersama arus banjir, dan selalu ada jalan bagi harapan untuk tumbuh kembali. (*)



