BerandaAcehLahan Sawah Bekas Banjir di Pidie Jaya, Disulap Jadi Sentra Bawang Merah

Lahan Sawah Bekas Banjir di Pidie Jaya, Disulap Jadi Sentra Bawang Merah

Pidie Jaya (Waspada Aceh) – Sawah yang sempat tertimbun material banjir bandang di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, kini kembali produktif. Melalui program percontohan pemanfaatan lahan bekas bencana, petani berhasil memanen bawang merah di lahan yang sebelumnya rusak akibat bencana banjir bandang akhir November 2025 lalu.

Panen perdana tersebut berlangsung di Desa Meunasah Teungoh, Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya, Selasa (7/7/2026), dalam kegiatan Upaya Penanggulangan Bencana di Lahan Bekas Bencana melalui Program Percontohan (Piloting) Penanaman Tanaman Rotasi Bawang yang diinisiasi Bank Indonesia (BI) Provinsi Aceh.

Kegiatan itu juga dirangkai dengan penyerahan bantuan sarana dan prasarana kepada kelompok sektor pertanian dan garam terdampak bencana di Kabupaten Pidie dan Pidie Jaya, serta penandatanganan komitmen bersama penanggulangan bencana hidrometeorologi oleh Pemerintah Kabupaten Pidie, Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya, Universitas Syiah Kuala (USK), dan Tim Satgas Rekon.

Plt Kepala Dinas Pertanian Pidie Jaya Muhammad Nur mengatakan panen tersebut menjadi momentum kebangkitan sektor pertanian setelah banjir bandang yang terjadi pada akhir November 2025 merusak lahan pertanian di daerah itu.

“Alhamdulillah, hari ini merupakan panen perdana setelah lahan sawah ini diterjang banjir bandang pada akhir November lalu. Berkat kerja sama Bank Indonesia, Universitas Syiah Kuala, dan berbagai pihak, lahan yang sebelumnya rusak kini kembali menghasilkan,” katanya.

Menurut Muhammad Nur, program tersebut diharapkan terus berlanjut karena bawang merah dan cabai merupakan komoditas strategis yang berkontribusi terhadap pengendalian inflasi.

Ia menambahkan Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya bersama Pemerintah Aceh juga sedang menyiapkan rehabilitasi lahan sawah yang mengalami kerusakan berat akibat banjir.

“Lahan sawah yang rusak berat akan dilakukan pengolahan secara gratis. Kami terus berkoordinasi dengan Pemerintah Aceh agar petani dapat kembali bercocok tanam secepatnya,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh Agus Chusaini mengatakan program tersebut merupakan upaya mempercepat pemulihan ekonomi masyarakat di wilayah terdampak bencana melalui sektor pertanian.

Menurut dia, program itu masih bersifat percontohan dengan luas lahan sekitar 5 hektare yang tersebar di lima lokasi terdampak banjir untuk menguji komoditas yang paling sesuai dikembangkan di lahan bekas bencana.

“Begitu terjadi bencana, yang kami pikirkan adalah bagaimana membantu mempercepat pemulihan ekonomi masyarakat. Karena itu kami memanfaatkan lahan bekas bencana agar kembali produktif,” katanya.

Selain bawang merah, BI juga mengembangkan budidaya cabai dan jagung di lokasi tersebut sebagai alternatif komoditas yang dinilai berpotensi meningkatkan pendapatan petani.

Agus mengatakan dukungan BI tidak berhenti pada masa tanam, tetapi juga mencakup pendampingan pascapanen, pelatihan, hingga membuka akses pemasaran hasil produksi petani.

“Kami juga akan membantu pada tahap pascapanen dan membuka akses pemasaran melalui agregator agar hasil panen petani memiliki nilai ekonomi yang lebih baik,” katanya.

Ia menambahkan pengembangan komoditas hortikultura tersebut juga menjadi bagian dari strategi menjaga stabilitas pasokan pangan dan mengendalikan inflasi daerah.

“Bawang merah merupakan salah satu komoditas penyumbang inflasi. Karena itu kami ingin mendorong produksinya sekaligus membantu masyarakat yang terdampak bencana,” ujarnya.

Keberhasilan program itu tidak terlepas dari pendampingan tim Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala.

Guru Besar Fakultas Pertanian USK Prof. Rina Sriwati mengatakan tim akademisi telah mendampingi petani sejak tahap awal dengan melakukan survei dan analisis kondisi lahan yang tertutup material banjir.

“Lahan ini merupakan tanah timbunan material banjir dengan ketebalan sekitar 30 sentimeter dan didominasi pasir. Karena itu kami terlebih dahulu melakukan analisis tanah untuk mengetahui kandungan unsur haranya sebelum memberikan rekomendasi pemupukan,” katanya.

Menurut Rina, selain pemupukan, ketersediaan air menjadi faktor penting dalam budidaya di lahan bekas bencana. Untuk mendukung kebutuhan tersebut, dibangun sistem penyiraman menggunakan sprinkler sehingga tanaman dapat tumbuh lebih optimal.

Ia menjelaskan karakteristik lahan pascabanjir lebih sesuai ditanami komoditas hortikultura seperti bawang merah dan cabai dibandingkan tanaman berkayu.

“Harapan kami, model budidaya di lahan bekas bencana ini dapat menjadi contoh untuk diterapkan di daerah lain yang memiliki kondisi serupa,” katanya.

Salah satu petani dari Kelompok Tani Jaya Desa Meunasah Teungoh Muhammad Nurdin mengaku sempat pesimis karena sawah mereka tertutup pasir dan lumpur setelah diterjang banjir bandang.

“Kami sempat mengira sawah ini sudah tidak bisa ditanami lagi. Alhamdulillah, dengan pendampingan dan bantuan dari berbagai pihak, hari ini kami bisa memanen bawang merah. Ini menjadi harapan baru bagi kami untuk kembali bangkit setelah bencana,” katanya.

Program percontohan tersebut diharapkan menjadi model pemulihan kawasan pertanian pascabencana yang tidak hanya mengembalikan fungsi lahan, tetapi juga mempercepat pemulihan ekonomi masyarakat, memperkuat ketahanan pangan, serta membantu menjaga stabilitas harga komoditas di Aceh. (*)

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER