BerandaAcehSekumur Ditetapkan Zona Merah, Warga Tunggu Kepastian Pembangunan Hunian Tetap

Sekumur Ditetapkan Zona Merah, Warga Tunggu Kepastian Pembangunan Hunian Tetap

Aceh Tamiang (Waspada Aceh) – Tujuh bulan setelah banjir bandang menerjang Kampung Sekumur, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, ratusan warga masih menanti kepastian pembangunan hunian tetap (huntap).

Meski pemerintah telah menetapkan kampung tersebut sebagai zona merah dan merencanakan relokasi ke lahan HGU PT Semadam, hingga kini pembangunan belum juga dimulai.

Datuk Penghulu Kampung Sekumur, Sopian Iskandar, mengatakan masyarakat telah menyepakati rencana relokasi setelah beberapa kali musyawarah. Namun, warga masih menunggu kejelasan kapan pembangunan hunian tetap akan direalisasikan.

“Kami sudah tiga kali musyawarah dan masyarakat sepakat pindah ke lahan HGU PT Semadam. Tapi sampai sekarang belum ada kepastian pembangunan hunian tetap,” kata Sopian Iskandar saat ditemui di Kampung Sekumur, Minggu (5/7/2026).

Datuk Penghulu Kampung Sekumur, Kec Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, Sopian Iskandar. (Foto/Cut Nauval D)

Menurut Sopian, penetapan Kampung Sekumur sebagai zona merah membuat warga tidak bisa lagi membangun rumah permanen di lokasi lama. Karena itu, pembangunan huntap menjadi harapan utama masyarakat untuk memulai kehidupan baru setelah kehilangan rumah akibat banjir bandang.

Sembari menunggu kepastian tersebut, sebagian warga masih tinggal di hunian sementara. Dari total 276 kepala keluarga di Kampung Sekumur, sekitar 20 kepala keluarga bahkan masih bertahan di tenda karena pembangunan huntara belum selesai.

“Yang 20 kepala keluarga itu masih tinggal di tenda sambil menunggu huntara selesai,” ujarnya.

Selain persoalan hunian, warga juga menghadapi kesulitan memulihkan kehidupan ekonomi. Banjir menghancurkan kebun sawit, karet, dan tanaman hortikultura yang selama ini menjadi sumber penghasilan utama masyarakat.

Sopian berharap pemerintah tidak hanya membangun rumah, tetapi juga menyediakan lahan yang dapat dimanfaatkan warga untuk kembali bertani.

“Kami masyarakat desa bukan hanya membutuhkan rumah. Kami juga membutuhkan lahan dan bibit agar bisa kembali berkebun karena itulah mata pencaharian kami,” katanya.

Ia juga meminta pemerintah mempercepat pembangunan infrastruktur dasar menuju Kampung Sekumur. Hingga kini akses jalan masih rusak dan menyulitkan masyarakat menuju pusat layanan kesehatan maupun menjalankan aktivitas ekonomi.

Bagi warga Sekumur, kepastian pembangunan hunian tetap bukan sekadar soal memiliki tempat tinggal baru. Huntap menjadi titik awal untuk membangun kembali kehidupan setelah tujuh bulan hidup dalam ketidakpastian akibat bencana hidrometeorologi yang melanda kampung mereka. (*)

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER