Kisah Supiah menjadi gambaran perjuangan masyarakat Kampung Sekumur. Meski banjir telah berlalu tujuh bulan, proses pemulihan masih berlangsung.
Tujuh bulan setelah banjir bandang menerjang Kampung Sekumur, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, Supiah (65) masih mengingat jelas hari ketika air bah memaksanya meninggalkan rumah.
Bersama anaknya, ia berlari menuju perbukitan, lalu bertahan di tenda pengungsian selama sekitar dua pekan.
Kini, perempuan lanjut usia itu memang telah menempati hunian sementara (huntara). Namun, baginya, proses bangkit belum benar-benar selesai. Kebun sawit yang menjadi sumber penghidupan rusak diterjang banjir. Pekerjaan serabutan yang selama ini menopang kebutuhan sehari-hari pun ikut hilang.
“Waktu banjir datang kami langsung lari ke bukit. Kami tinggal di tenda sekitar dua minggu. Waktu itu hujan terus turun,” tutur Supiah saat ditemui, Minggu (5/7/2026).
Sebelum banjir, ia menghidupi keluarga dari berbagai pekerjaan, mulai dari bertani, memungut brondolan sawit, hingga mengumpulkan lidi sawit untuk dijual. Kini semuanya nyaris tak bisa lagi dilakukan.
“Sekarang sudah tidak ada lagi. Kebun sawit juga rusak karena banjir sehingga sulit mencari penghasilan,” katanya.
Supiah berharap bukan hanya rumah yang kembali tersedia, tetapi juga bantuan ekonomi agar warga dapat kembali mandiri.

“Saya berharap ada bantuan ekonomi supaya kami bisa memenuhi kebutuhan hidup,” ujarnya.
Kisah Supiah menjadi gambaran perjuangan masyarakat Kampung Sekumur. Meski banjir telah berlalu tujuh bulan, proses pemulihan masih berlangsung.
Sebagian warga masih tinggal di tenda, sementara pembangunan hunian tetap yang direncanakan pemerintah belum juga dimulai.
Di tengah situasi tersebut, kehadiran Kagama melalui Program Kagama Peduli Bencana menghadirkan harapan baru bagi masyarakat yang perlahan bangkit dari bencana.
Pada Minggu (5/7/2026), Pengurus Daerah Kagama Aceh menyerahkan hasil program rehabilitasi kepada Pemerintah Kampung Sekumur berupa 26 unit hunian sementara, rehabilitasi balai masjid, balai pengajian, dan tempat wudhu.

Kagama juga menyerahkan bantuan perlengkapan sekolah bagi anak-anak terdampak banjir serta bibit ikan untuk mendukung pemulihan ekonomi masyarakat.
Penyerahan hasil program ditandai dengan penandatanganan berita acara yang disaksikan Rektor Universitas Gadjah Mada Prof. dr. Ova Emilia, Sekretaris Jenderal PP Kagama yang juga Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria, Bupati Aceh Tamiang Irjen Pol. (Purn.) Drs. Armia Fahmi, Ketua Pengurus Daerah Kagama Aceh sekaligus Sekretaris Daerah Aceh M. Nasir Syamaun, serta Datuk Penghulu Kampung Sekumur Sofian Iskandar.
Bagi masyarakat, bantuan tersebut bukan sekadar menghadirkan bangunan fisik. Lebih dari itu, bantuan menjadi penanda bahwa mereka tidak menghadapi masa-masa sulit seorang diri.
Datuk Penghulu Kampung Sekumur, Sofian Iskandar, mengatakan dukungan yang diberikan Kagama telah membangkitkan semangat masyarakat untuk kembali menata kehidupan.
“Alhamdulillah kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh relawan dan keluarga besar Kagama yang telah membantu masyarakat Sekumur. Huntara, balai masyarakat, hingga tempat mengaji merupakan bukti nyata kepedulian kepada kami,” ujarnya.
Menurut Sofian, kehadiran langsung rombongan Kagama ke kampung yang terdampak banjir memberikan kekuatan moral bagi warga yang selama berbulan-bulan berjuang memulihkan kehidupan.
“Kehadiran Bapak dan Ibu Kagama di desa kami menguatkan kami. Kami merasa masih banyak yang peduli dan mendukung masyarakat Sekumur,” katanya.
Namun, Sofian menegaskan bahwa pekerjaan besar belum selesai. Dari total 276 kepala keluarga di Kampung Sekumur, sebanyak 20 kepala keluarga masih bertahan di tenda karena pembangunan hunian sementara belum seluruhnya rampung.
Selain persoalan tempat tinggal, warga juga kehilangan sumber penghidupan. Banjir bandang menghancurkan kebun sawit, kebun karet, hingga tanaman hortikultura yang selama ini menjadi penopang ekonomi masyarakat.
“Kami masyarakat desa tidak hanya membutuhkan rumah, tetapi juga lahan dan bibit agar bisa kembali bercocok tanam. Itulah sumber penghidupan kami,” ujar Sofian.
Ia berharap bantuan bibit ikan yang diberikan Kagama dapat menjadi salah satu alternatif bagi warga untuk mulai membangun kembali sumber penghasilan sambil menunggu sektor pertanian pulih.
Pemerintah sebelumnya menetapkan Kampung Sekumur sebagai kawasan rawan bencana atau zona merah. Warga direncanakan direlokasi ke lahan HGU PT Semadam. Namun hingga kini pembangunan hunian tetap belum dimulai.
Warga juga berharap pemerintah segera memperbaiki akses jalan menuju kampung yang masih rusak agar mobilitas menuju fasilitas kesehatan maupun aktivitas ekonomi dapat kembali normal.
Ketua Pengurus Daerah Kagama Aceh yang juga Sekretaris Daerah Aceh, M. Nasir Syamaun, mengatakan pembangunan huntara merupakan bagian dari komitmen Kagama untuk terus mendampingi masyarakat, tidak hanya pada masa tanggap darurat, tetapi juga hingga memasuki tahap rehabilitasi dan rekonstruksi.
Menurut Nasir, pemulihan pascabencana tidak cukup hanya dengan menyediakan tempat tinggal sementara. Masyarakat juga membutuhkan ruang untuk kembali menjalankan kehidupan sosial, pendidikan, dan kegiatan ekonomi.
“Kami ingin memastikan masyarakat tidak hanya menerima bantuan saat bencana terjadi. Setelah banjir surut, mereka masih membutuhkan tempat tinggal yang layak, fasilitas umum yang bisa kembali digunakan, dukungan pendidikan bagi anak-anak, serta penguatan ekonomi agar masyarakat dapat bangkit dan mandiri kembali,” kata Nasir.
Ia menjelaskan, melalui Program Kagama Peduli Bencana, pihaknya membangun 26 unit hunian sementara dengan nilai sekitar Rp390 juta. Selain itu, Kagama merehabilitasi balai masjid, balai pengajian, dan tempat wudu agar aktivitas sosial dan keagamaan masyarakat dapat kembali berjalan.
Untuk mendukung keberlangsungan pendidikan anak-anak terdampak banjir, Kagama juga menyerahkan bantuan perlengkapan sekolah.
Sementara itu, bantuan bibit ikan diberikan sebagai langkah awal mendorong pemulihan ekonomi masyarakat berbasis potensi lokal.
Nasir menambahkan, keterlibatan Kagama di Aceh Tamiang tidak dimulai pada tahap rehabilitasi saja. Sejak masa tanggap darurat, organisasi alumni Universitas Gadjah Mada itu telah menyalurkan bantuan kepada sekitar 1.350 kepala keluarga terdampak banjir berupa kebutuhan pokok, perlengkapan rumah tangga, layanan psikososial, hingga berbagai kebutuhan dasar lainnya.
“Bagi kami, pendampingan kepada masyarakat terdampak bencana adalah bentuk pengabdian. Kami berharap apa yang dilakukan Kagama dapat menjadi bagian dari proses masyarakat Sekumur untuk bangkit dan menata kehidupan yang lebih baik,” ujar Nasir.
Di Kampung Sekumur, perjalanan menuju pemulihan memang masih panjang.
Hunian tetap belum dibangun, sebagian warga masih bertahan di tenda, dan banyak keluarga masih berjuang mendapatkan kembali sumber penghidupan mereka.
Namun, di tengah berbagai keterbatasan itu, huntara yang kini berdiri, balai masyarakat yang kembali digunakan, perlengkapan sekolah yang kembali dipanggul anak-anak, serta bibit ikan yang mulai ditebar menjadi lebih dari sekadar bantuan.
Bagi warga, semua itu adalah penanda bahwa mereka tidak sendiri. Di tengah luka akibat bencana, harapan perlahan tumbuh kembali, dibangun bersama oleh mereka yang memilih tetap hadir hingga proses pemulihan benar-benar terwujud. (*)



