BerandaInternasionalLiz Murray: Perjalanan Tunawisma Menuju Harvard

Liz Murray: Perjalanan Tunawisma Menuju Harvard

Malam-malam ia habiskan tidur di dalam gerbong kereta bawah tanah agar terhindar dari dinginnya udara jalanan; siang harinya ia berjalan menyusuri kota mencari apa saja yang bisa dimakan untuk bertahan hidup.

Liz Murray adalah seorang penulis memoar dan pembicara inspiratif asal Amerika Serikat yang terkenal karena berhasil diterima di Universitas Harvard.

Ia membuktikan ketahanannya dengan menyelesaikan pendidikan dan meraih kesuksesan, meskipun masa remajanya diwarnai kemiskinan ekstrem dan ia sempat menjadi tunawisma. Kegigihannya menarik perhatian luas, sehingga ia berhasil mendapatkan beasiswa bergengsi dari The New York Times dan diterima di Universitas Harvard.

Kisah perjuangannya ia tuangkan dalam buku terlaris versi New York Times berjudul Breaking Night: A Memoir of Forgiveness, Survival, and My Journey from Homeless to Harvard, yang kemudian diangkat menjadi film televisi populer berjudul Homeless to Harvard: The Liz Murray Story.

Hingga kini, ia aktif menjadi pembicara internasional dan mendirikan The Arthur Project, sebuah inisiatif yang berfokus memberdayakan generasi muda yang kurang mampu agar dapat mengubah nasibnya.

Kisah Masa Remaja

Di usia yang baru menginjak 15 tahun, Liz Murray berdiri sendirian di hadapan peti jenazah ibunya. Peti itu bukanlah milik keluarga, melainkan bantuan sumbangan yang sederhana. Bahkan tulisan nama ibunya di tutup peti pun salah dieja, ditulis dengan tinta spidol hitam yang terlihat samar dan kasar.

Di sekelilingnya sunyi senyap—tidak ada setangkai bunga, tidak ada kerumunan pelayat, dan tak ada satu pun kata perpisahan yang terucap. Di tengah kesunyian itu, Liz memasukkan tangannya ke dalam saku mantel usangnya, dan meraba selembar foto yang sudah kusut dan lembut karena sering digenggam.

Di sana tergambar sosok ibunya saat berusia 17 tahun, masih muda, berseri, dan tersenyum lebar—sebelum narkoba dan penyakit AIDS perlahan merenggut segalanya, menghancurkan masa depan dan kebahagiaan keluarga kecil mereka.

Di hadapan liang kubur yang baru digali itu, Liz mengucapkan satu janji dalam hatinya yang paling dalam: hidupnya tidak akan berakhir seperti ibunya. Ia akan menempuh jalan yang berbeda, meski ia belum tahu bagaimana caranya mewujudkannya.

Liz lahir dan dibesarkan di kawasan Bronx, New York, sebuah lingkungan yang keras dan penuh tantangan. Kedua orang tuanya sama-sama terjerat kecanduan narkoba.

Setiap kali bantuan sosial tiba di awal bulan, untuk sesaat rumah mereka terasa layak huni—penuh makanan dan kehangatan. Namun hanya dalam waktu lima hari, semuanya habis terpakai untuk membeli kebutuhan obat yang membelenggu mereka.

Selama tiga minggu sisanya, Liz dan keluarganya harus bertahan hidup dengan apa pun yang tersisa: sepotong roti dengan olesan mayones, sisa makanan yang didapatkan, bahkan mengisap es batu hanya agar perut terasa penuh dan rasa lapar sedikit teredam.

Saat menginjak usia sepuluh tahun, ibunya memberitahu kabar yang mengubah segalanya: ia mengidap AIDS. Tak lama setelah itu, keluarga mereka hancur berantakan. Liz harus berpindah-pindah tempat tinggal, hingga akhirnya ia tidak memiliki tempat berteduh sama sekali dan menjadi tunawisma.

Malam-malam ia habiskan tidur di dalam gerbong kereta bawah tanah agar terhindar dari dinginnya udara jalanan. Siang harinya, ia berjalan menyusuri kota mencari apa saja yang bisa dimakan untuk bertahan hidup.

Hingga tibalah suatu pagi yang menentukan arah seluruh hidupnya. Saat itu, ia merogoh saku pakaiannya dan menghitung uang terakhir yang dimilikinya. Jumlahnya sangat sedikit, hanya cukup untuk satu pilihan saja: membeli sepotong pizza untuk mengusir rasa lapar yang menyiksa, atau membeli satu keping tiket kereta untuk pergi menghadiri wawancara pendaftaran sekolah.

Sudah berhari-hari ia tidak makan dengan layak; tangannya gemetar karena lemas. Pizza itu bisa memberinya kekuatan untuk hari itu. Sedangkan sekolah? Belum tentu mereka mau menerima gadis jalanan sepertinya.

Namun dalam keraguan itu, ingatan akan janji di atas kubur ibunya kembali menguatkan hatinya. Ia memilih membeli tiket kereta.

Sekolah itu akhirnya menerimanya. Liz merahasiakan kenyataan bahwa ia tidak memiliki rumah tetap. Ia selalu datang paling pagi sebelum pintu kelas dibuka, dan tidak pernah sekalipun absen.

Pekerjaan rumah dari sekolah dikerjakannya di mana saja yang memungkinkan: di tangga gedung, di lorong sekolah, atau di dalam kereta bawah tanah saat perjalanan malam. Baginya, ruang kelas adalah satu-satunya tempat yang terasa adil, di mana ia bisa belajar tanpa memandang status atau latar belakangnya.

Disiplin dan semangat yang membara membawa hasil yang luar biasa. Liz menyelesaikan program sekolah menengah yang seharusnya ditempuh dalam waktu empat tahun hanya dalam waktu dua tahun saja, dengan nilai rata-rata mencapai 95. Ia pun lulus sebagai siswa terbaik di angkatannya.

Beberapa tahun kemudian, perjuangannya membuahkan hasil yang membanggakan: Universitas Harvard membuka pintu penerimaan untuknya. Namun saat ia sedang menempuh pendidikan di sana, kabar datang bahwa ayahnya yang sudah berhenti menggunakan narkoba mulai sekarat karena penyakit AIDS.

Tanpa ragu, Liz meninggalkan sementara studinya, pulang ke rumah, dan duduk setia menggenggam tangan ayahnya hingga napas terakhirnya berhenti.

Setelah ayahnya tiada, Liz kembali ke Harvard dan menyelesaikan pendidikannya hingga lulus. Ia tidak pernah menyalahkan kedua orang tuanya atas apa yang dialaminya. Baginya, mereka adalah orang-orang baik yang hanya kalah melawan jeratan penyakit dan ketergantungan yang sulit dilawan.

Banyak orang mengenal Liz Murray sebagai gadis tunawisma yang berhasil menembus pintu gerbang Harvard. Namun sesungguhnya, titik balik hidupnya terjadi jauh sebelum ia diterima di universitas ternama itu.

Hidupnya berubah saat ia memilih tiket kereta, bukan sepotong pizza—saat ia memilih harapan dan masa depan, meski harus bertahan dalam rasa lapar dan ketidakpastian.

Dari situ, terbukti bahwa janji yang ditepati dengan tindakan, ketekunan yang tak kenal lelah, dan keberanian untuk memilih jalan yang lebih baik, mampu mengubah nasib yang tampak mustahil sekalipun. (*)

  • Dikutip dari berbagai sumber
BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER