Jakarta (Waspada Aceh) – Kalangan pengamat strategis dan media di Israel mulai menggeser fokus perhatiannya ke arah Ankara. Dalam penilaian terbaru, Turki kini dianggap sebagai tantangan keamanan yang lebih signifikan dan berpotensi lebih berbahaya dibandingkan Iran.
Pandangan ini muncul seiring pesatnya modernisasi alutsista, kemandirian industri pertahanan, serta dinamika hubungan diplomatik yang terus memanas antara kedua negara.
Berdasarkan laporan dan analisis yang dimuat surat kabar Israel, Maariv, serta dilansir oleh sejumlah media internasional seperti Middle East Eye dan Sada News pada Rabu (24/6/2026), salah satu aspek yang paling diwaspadai Israel adalah kekuatan Angkatan Laut Turki.
Negara itu memiliki armada yang terdiri dari 16 unit kapal selam, ditambah kehadiran kapal serbu amfibi canggih TCG Anadolu. Kapabilitas ini menempatkan Turki memiliki jangkauan dan proyeksi kekuatan maritim yang sulit disaingi di kawasan Laut Tengah dan sekitarnya.
Sebagai negara dengan kekuatan militer terbesar kedua dalam keanggotaan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), Turki tidak hanya didukung oleh jumlah personel yang besar, tetapi juga terus menyempurnakan doktrin dan strategi tempur yang disesuaikan dengan tantangan masa kini.
Selain itu, tingkat swasembada industri pertahanan Turki disebut telah mencapai sekitar 80 persen. Tingkat kemandirian ini memberikan keleluasaan strategis bagi Ankara untuk memproduksi senjata dan peralatan militer secara mandiri, tanpa harus bergantung pada pasokan atau persetujuan dari negara lain.
Faktor lain yang menjadi pertimbangan serius bagi Israel adalah pengalaman operasional militer Turki yang luas. Selama beberapa tahun terakhir, pasukan Turki telah terlibat dalam berbagai operasi lintas batas di wilayah Suriah dan Irak.
Pengalaman bertempur di medan yang sulit, wilayah berbukit, hingga daerah padat penduduk dianggap telah mengasah kemampuan taktis dan ketangguhan pasukan mereka.
Di sisi hubungan diplomatik, ketegangan antara kedua negara terus meningkat. Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, secara konsisten menyampaikan kritik tajam dan mengecam kebijakan militer serta pendekatan Israel di kawasan Timur Tengah.
Ia bahkan menilai kebijakan tersebut sebagai ancaman nyata bagi stabilitas dan keamanan seluruh wilayah. Bagi Israel, kombinasi antara retorika politik yang keras dengan kemampuan militer yang terus berkembang dan mandiri menciptakan dinamika baru yang jauh lebih kompleks dibandingkan tantangan yang selama ini dihadapi.
Analisis Maariv juga menyebutkan bahwa pergeseran pendekatan kebijakan luar negeri dan keamanan Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump turut menambah lapisan kerumitan situasi ini.
Perubahan arah dukungan atau prioritas strategis dari sekutu utama tersebut memaksa Israel untuk meninjau kembali peta ancaman dan mempersiapkan diri menghadapi persaingan kekuasaan yang semakin ketat di kawasan.
Meskipun penilaian ini menjadi sorotan utama di kalangan pengamat pertahanan Israel, hingga saat ini belum ada tanggapan resmi secara rinci baik dari pihak Turki maupun pemerintah Israel mengenai pernyataan tersebut.
Namun, pandangan ini mencerminkan bagaimana struktur kekuasaan dan persaingan pengaruh di Timur Tengah terus mengalami pergeseran, yang memicu perhitungan strategis baru bagi setiap negara di kawasan. (*)



