Bener Meriah (Waspada Aceh) – Saat ditemui di lokasi pekerjaan di Jalan Buntul Nangka, Kampung Paya Gajah, Kecamatan Bukit, Kabupaten Bener Meriah, Selasa (27/10/2026), Kepala Tukang pembangunan TK Harapan Paya Gajah, Bener Meriah, Wakto menyebutkan, meski langit kerap tak menentu, semangat membangun tak pernah surut.
Progres pembangunan kini telah mencapai 50 persen, dengan dinding yang mulai terplester dan atap seng yang perlahan terpasang.
“Sejak seminggu terakhir, kami sering berhenti bekerja karena hujan tiba-tiba turun. Sekali hasil pemlesteran dinding sudah rusak terkena air, kami harus mengulanginya dari awal,” ungkap Wakno.
Proyek ini menelan anggaran Rp841.017.000 bersumber dari APBN 2026, dengan masa pengerjaan 120 hari kalender sejak 7 September 2026 hingga 4 Januari 2027. Dilaksanakan oleh P2SP, pembangunan ini mencakup ruang kelas baru, ruang administrasi, ruang UKS, toilet, area bermain, serta penataan lingkungan sekolah.
Kepala TK Harapan Paya Gajah, Sriwahyuni, menceritakan betapa mendesaknya kebutuhan ini. Dinding-dinding bangunan banyak yang retak, membuat mereka khawatir. Makin khawatir disaat hujan turun.
“Kami sudah mengusulkan sejak 2023. Bangunan lama sudah tua, tanpa plafon, dinding retak, dan seng berkarat. Setiap hujan turun, air masuk hingga menggenang. Satu ruangan harus menampung 18–20 anak,” kenangnya.
Sekolah yang menaungi 107 peserta didik ini akhirnya memberi harapan membahagiakan. Bangunan baru membuat mereka lebih tenang, terlebih dibangun dengan standar keamanan yang bagus.
“Kini proses belajar akan jauh lebih aman, nyaman, dan menyenangkan. Kami juga memastikan setiap sudut bangunan aman, tidak ada pinggiran tajam, lantai tidak licin, instalasi listrik dipasang tinggi agar tidak terjangkau anak-anak,” tegas Sriwahyuni.

Harapan Wali Murid
Bagi Haris, salah satu wali murid, kehadiran gedung baru adalah anugerah yang dinanti. “Kami sangat bersyukur. TK ini memang salah satu yang diminati warga. Kami berharap ruang kelas, UKS, toilet, hingga area bermain semuanya selesai dengan kualitas terbaik dan tepat waktu. Anak-anak kami berhak tumbuh di lingkungan yang layak,” ucapnya.
Di lokasi, Wakno dan timnya menyesuaikan ritme kerja dengan iklim. Saat hujan menghalangi pekerjaan dinding, pemasangan atap seng dilanjutkan agar waktu tak terbuang sia-sia.
“Kami berusaha sebaik mungkin. Semoga cuaca mendukung, sehingga pada Januari nanti anak-anak sudah bisa melihat gedung baru mereka berdiri utuh,” katanya penuh harap.
Pembangunan ini merupakan salah satu dari 7.309 unit revitalisasi sekolah, madrasah, pesantren, dan pendidikan keagamaan yang tercantum dalam Rencana Induk Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Renduk PRR) Pascabencana Sumatera 2026–2028. Secara keseluruhan, kebutuhan pemulihan di Kabupaten Bener Meriah sendiri diperkirakan mencapai Rp5,93 triliun.
Menteri Dalam Negeri sekaligus Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi atau Satgasnas PRR Pascabencana Sumatera, Muhammad Tito Karnavian, menegaskan pentingnya sinergi dalam proses pemulihan.
“Di samping pemerintah pusat bekerja, pemerintah daerah juga bekerja. Kegiatannya tidak boleh dikurangi karena akan berdampak langsung kepada masyarakat,” ujarnya.
Menurut Tito, tambahan Transfer ke Daerah (TKD Tambahan) sebesar Rp10,6 triliun telah disalurkan untuk mendukung pemulihan di tiga provinsi terdampak. Tito berharap dukungan anggaran berkelanjutan tetap terjaga di tahun-tahun mendatang.
TKD Tambahan (Tambahan Transfer ke Daerah) adalah alokasi dana tambahan dari pemerintah pusat yang disalurkan ke Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) untuk memperkuat kapasitas fiskal daerah—khususnya guna mempercepat rehabilitasi, rekonstruksi, serta pemulihan wilayah yang terdampak bencana atau untuk mendukung penanganan kebutuhan mendesak lainnya.
Revitalisasi Sekolah dalam Renduk PRRP Sumatera
Berdasarkan Rencana Induk Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (Renduk PRRP) Sumatera, target revitalisasi mencakup sekolah, madrasah, pesantren, serta satuan pendidikan keagamaan. Dari total tersebut, Aceh memperoleh alokasi target sebanyak 7.309 unit, Sumatera Utara 2.571 unit, dan Sumatera Barat 986 unit.
Pelaksanaan revitalisasi diarahkan untuk memulihkan fungsi layanan pendidikan agar kegiatan belajar mengajar dapat berlangsung kembali. Penanganan dilakukan dengan mempertimbangkan tingkat kerusakan bangunan, mulai dari kategori ringan hingga berat. Sementara fasilitas pendidikan yang mengalami kerusakan total memerlukan pembangunan kembali atau relokasi sesuai kebutuhan dan kondisi wilayah.
Pemerintah menargetkan layanan pendidikan di wilayah terdampak dapat kembali berjalan sekaligus memiliki fasilitas yang lebih aman dan tangguh menghadapi risiko bencana pada masa mendatang.
Pembangunan gedung yang lebih kokoh dan aman menjadi harapan para guru dan orang tua. TK Harapan Paya Gajah nantinya akan mewujudkan mimpi 107 anak-anak yang akan belajar, bermain dan bersenda-gurau di ruang yang kering dari kebocoran, aman dari retakan, dan nyaman untuk tumbuh dan berkembang. (*)



