BerandaSumatera PulihSehabis Bencana Ada Ceria, Kisah Hadirnya Negara di SMAN 2 Kesuma

Sehabis Bencana Ada Ceria, Kisah Hadirnya Negara di SMAN 2 Kesuma

Aceh Utara (Waspada Aceh) – “Lebih enak sekarang. Bangunannya sudah bagus. Sebelumnya, plafonnya masih ada yang berlubang. Jendelanya juga ada yang rusak. Sekarang, alhamdulillah, sudah bagus.” Senyum terukir di wajah Annisa Humairah (16), siswi kelas XI sekaligus Ketua OSIS SMA Negeri 2 Kesuma Bangsa, Muara Batu, Aceh Utara, Jumat (30/10/2026). Humaira menatap ruang kelas yang kini kembali layak digunakan.

Temannya, Muhammad Farhan (15), siswa kelas X, yang berdiri di dekat Humaira, mengangguk setuju. Meski masih teringat masa sulit saat sekolah terendam banjir, semangatnya untuk belajar tak pernah padam. Farhan berjalan keluar kelas. “Masih. Belajar itu penting,” ujarnya sambil menatap halaman sekolah yang belum sepenuhnya rata.

Pada 26 November 2025, air bah merendam Gampong Ulee Madon, Kecamatan Muara Batu. Sekolah tempat Annisa dan Farhan belajar tak luput. Air mencapai ketinggian hampir tiga meter, menyisakan endapan lumpur setebal sekitar satu meter di dalam ruang-ruang kelas.

“Sedih. Banyak teman di sini. Kakek dan nenek saya juga ada di daerah yang terendam,” kenang Annisa. Selama lebih dari sebulan, ia mengungsi di kedai saudara dan tak bisa bersekolah. Saat kembali, sekolah masih berlumpur. Pembelajaran belum berjalan seperti biasa, sebagian dilakukan di bawah pohon kelapa, di ruang terbuka. “Kalau sedang belajar lalu hujan, langsung kepikiran, bagaimana nanti?” ceritanya.

Farhan pun merasakan hal serupa. Rumahnya ikut terendam. “Sedih karena tidak bisa belajar. Tidak bisa bertemu teman-teman juga,” aku Farhan. Meski begitu, keinginannya untuk kembali belajar tetap kuat.

Cut Dewi Rosanti, guru yang telah mengajar di sekolah ini sejak 2019, masih mengingat jelas masa-masa berat itu. “Lumpurnya sampai sekitar setengah dinding, kira-kira satu meter. Kalau air, hampir sampai di bawah AC, sekitar tiga meter,” ceritanya. Pembersihan dilakukan secara swadaya. Guru-guru datang bergantian, membersihkan sekolah, lalu pulang membersihkan rumah masing-masing.

Rp1,5 Miliar Mengubah Wajah Sekolah

Kini, suasana itu perlahan berlalu. SMAN 2 Kesuma Bangsa menerima dukungan anggaran sekitar Rp1,5 miliar bersumber dari APBN melalui Program Revitalisasi Satuan Pendidikan Tahun Anggaran 2026. Bantuan disalurkan bertahap: tahap pertama sebesar Rp403.012.000 untuk tiga ruang kelas, kemudian dilanjutkan hingga mencakup delapan ruang kelas, satu perpustakaan, satu laboratorium komputer, dan satu laboratorium IPA.

Nur Aini, Kepala Sekolah SMAN 2 Kesuma Bangsa, menyambut gembira perubahan tersebut. “Alhamdulillah, dengan adanya bantuan revitalisasi, siswa sudah bisa belajar dengan nyaman. Mereka sudah mendapatkan sarana belajar yang sangat memadai,” ujarnya. Delapan dari sembilan ruang kelas kini telah direhabilitasi, digunakan oleh rata-rata 23 siswa di setiap rombongan belajar.

Revitalisasi ini bagian dari penanganan lebih luas di Kabupaten Aceh Utara. Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Aceh Utara, Muhammad Johan, menyebut sebanyak 32 sekolah, terdiri atas SMA dan SMK, masuk dalam program pemulihan pascabencana tahun ini. Penanganan disesuaikan dengan tingkat kerusakan di masing-masing sekolah.

Nur Aini, Kepala Sekolah SMAN 2 Kesuma Bangsa di Desa Ulee Madon, Muara Batu, Aceh Utara. (Foto: Tim Media Satgas PRR)

Dalam Kerangka Rencana Induk

Pemulihan fasilitas pendidikan di Aceh menjadi bagian penting dari Rencana Induk Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Renduk PRR) Pascabencana Sumatera. Secara keseluruhan, program ini mencakup penanganan 4.922 sekolah yang terdampak bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Menteri Dalam Negeri sekaligus Kepala Satgasnas PRR, Muhammad Tito Karnavian, mengapresiasi langkah cepat pemulihan sektor pendidikan. “Saya apresiasi Mendikdasmen Prof. Abdul Mu’ti yang telah menggunakan anggaran reguler kurang lebih Rp5 triliun untuk rehabilitasi dan rekonstruksi sekolah di wilayah terdampak bencana Sumatera,” ujarnya.

Tito menegaskan bahwa prioritas utama adalah memastikan anak-anak kembali belajar. “Saat ini 100 persen aktivitas belajar di wilayah yang terdampak bencana sudah berjalan,” tegasnya. Pemerintah juga menyiapkan relokasi bagi 97 titik sekolah yang berada di kawasan rawan banjir, mengingat masih terjadinya banjir susulan di sejumlah daerah.

Dalam dokumen Renduk PRR, pemulihan pendidikan di Aceh mencakup revitalisasi 7.309 unit sekolah, madrasah, pesantren, dan lembaga pendidikan keagamaan. Juga direncanakan penyediaan 1.465 unit sekolah darurat serta 66.422 paket perlengkapan belajar bagi siswa. Pendampingan psikologis dan pelatihan bagi pendidik menjadi bagian tak terpisahkan dari proses pemulihan ini.

Meski ruang kelas telah kembali layak, kebutuhan lain masih menunggu perhatian. Kepala sekolah, Nur Aini, menyebut sekolah masih memerlukan pembenahan halaman, pembangunan pagar keliling yang roboh, ruang kerja tenaga administrasi, serta penambahan perangkat komputer. Dari 30 unit yang dimiliki sebelum bencana, saat ini baru tersedia 10 unit.

“Kami ingin meminta lapangan olahraga karena lapangan kami belum ada. Bisa untuk bermain bola, voli, basket, atau bulu tangkis,” kata Annisa. Ia juga berharap ada dukungan beasiswa hingga perguruan tinggi, karena ingin menjadi guru kelak. Farhan pun bermimpi besar, ingin menjadi jaksa, polisi, atau hakim.

Annisa mewakili teman-temannya menyampaikan terima kasih kepada pemerintah. “Saya ingin mewakili semua siswa mengucapkan terima kasih karena sudah membantu ketika kami sedang terpuruk.”

Di Gampong Ulee Madon, jendela-jendela kelas kini utuh kembali, membiaskan cahaya pagi ke dalam ruangan. Cahaya itu tak hanya menerangi papan tulis, tetapi juga masa depan ratusan anak yang tak pernah berhenti bermimpi. (*)

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER