Banda Aceh (Waspada Aceh) – Yayasan Pelangi Kesejahteraan Masyarakat (YPKM) Aceh menyoroti persoalan pengangguran di Aceh. Pemerintah dinilai perlu memperkuat kapasitas pemuda dan memastikan pertumbuhan ekonomi diikuti dengan penciptaan lapangan kerja.
Sekretaris YPKM Aceh, Syahrul Razi, mengatakan persoalan pengangguran tidak cukup diselesaikan dengan mengandalkan pertumbuhan ekonomi. Menurutnya, pemerintah perlu memastikan lapangan kerja yang tersedia dapat diakses masyarakat, khususnya kelompok usia produktif.
“Persoalan pengangguran perlu dilihat secara lebih luas, mulai dari ketersediaan lapangan kerja, keterampilan tenaga kerja, hingga kesesuaian antara pendidikan dengan kebutuhan dunia kerja,” kata Syahrul kepada Waspadaaceh.com, Rabu (30/9/2026).
Syahrul menyampaikan hal itu menanggapi data Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh yang mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Aceh pada Mei 2026 sebesar 5,89%. Angka itu setara dengan sekitar 157,48 ribu orang dari 2,67 juta penduduk yang masuk angkatan kerja.
Menurutnya, angka tersebut menunjukkan masih banyak masyarakat Aceh yang belum memperoleh pekerjaan dan penghasilan yang layak.
Karena itu, pemerintah diminta tidak hanya mendorong investasi, tetapi juga memastikan investasi yang masuk mampu menyerap tenaga kerja lokal.
“Jangan sampai investasi hanya berhenti pada nilai investasi, tetapi tidak memberikan dampak terhadap penyerapan tenaga kerja masyarakat lokal,” ujarnya.
Selain penciptaan lapangan kerja, YPKM menilai peningkatan keterampilan pencari kerja juga perlu menjadi perhatian. Pelatihan kerja, pendidikan vokasi, sertifikasi kompetensi, hingga penguatan kewirausahaan dinilai perlu diperluas.
Hal ini penting agar pencari kerja tidak hanya mengandalkan ijazah saat memasuki pasar kerja.
Syahrul juga menyoroti struktur ketenagakerjaan Aceh. Berdasarkan data BPS, sebanyak 62,12% pekerja di Aceh berada di sektor informal. Sementara pekerja formal mencapai 37,88%.
“Kondisi tersebut menunjukkan masih besarnya ruang untuk memperkuat sektor usaha masyarakat agar mampu berkembang dan menciptakan pekerjaan baru,” katanya.
Menurut Syahrul, sektor yang selama ini menjadi kekuatan ekonomi Aceh, seperti pertanian, perikanan, perdagangan dan industri, perlu dikembangkan agar tidak hanya menjadi sumber penghasilan, tetapi juga mampu menciptakan lebih banyak lapangan kerja.
Pengembangan sektor tersebut dapat dilakukan melalui penguatan akses permodalan, pendampingan usaha, pemanfaatan teknologi, pemasaran, serta memperkuat hubungan pelaku usaha dengan pemerintah dan lembaga pembiayaan.
Pemuda Perlu Perhatian
YPKM juga meminta pemerintah memberi perhatian khusus kepada kelompok muda. Sebab, banyak anak muda yang telah menyelesaikan pendidikan, tetapi belum memiliki pengalaman maupun keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.
Syahrul mengatakan hubungan antara lembaga pendidikan, pemerintah, dunia usaha dan lembaga sosial perlu diperkuat.
“Pendidikan dan pelatihan tidak seharusnya berjalan sendiri, tetapi perlu mengikuti kebutuhan nyata pasar kerja,” ujarnya.
Menurutnya, penanganan pengangguran harus menjadi agenda bersama. Pemerintah berperan melalui kebijakan dan penciptaan iklim usaha, dunia usaha membuka kesempatan kerja, sedangkan lembaga pendidikan meningkatkan kompetensi tenaga kerja.
Masyarakat juga perlu diperkuat agar mampu menciptakan peluang ekonomi secara mandiri.
“Penurunan angka pengangguran tidak hanya menjadi target statistik, tetapi diikuti dengan semakin banyak masyarakat Aceh yang memperoleh pekerjaan, memiliki penghasilan, dan mampu meningkatkan kesejahteraan keluarganya,”jelasnya. (*)



