Sabtu, Juli 20, 2024
Google search engine
BerandaNasionalNyak Sandang, Penyumbang Pesawat Garuda Ingin Naik Haji

Nyak Sandang, Penyumbang Pesawat Garuda Ingin Naik Haji

Nyak Sandang, pria berumur 91 tahun ini, begitu bersemangat saat ditanya bagaimana kenangannya ketika masyarakat Aceh berjuang melawan penjajah kala itu.

Pria kelahiran Lamno, Aceh Jaya, ini masih ingat betul bagaimana heroiknya masyarakat Aceh dahulu. Masyarakat Aceh bukan hanya berkorban mempertaruhkan nyawa, tapi harta benda pun turut dipertaruhkan, ujarnya.

Salah satunya menyumbang uang, emas dan hasil alam lainnya, untuk membeli pesawat pertama yang digunakan Presiden RI pertama, Ir.Soekarno. Nyak Sandang, ialah satu di antara masyarakat Aceh saat itu, yang hingga kini masih hidup. Saksi sejarah ini  menyimpan bukti obligasi sebagai donatur pembelian pesawat dengan nama Seulawah 001 atau yang kemudian menjadi awal berdirinya maskapai penerbangan Garuda Indonesia Airways.

Ia menceritakan, pada Tahun 1950 saat itu Gubernur Aceh, Tgk. Daud Bere’euh mengunjungi masjid Lamno untuk bertemu dengan masyarakat. Untuk mengumumkan bahwa Presiden Soekarno meminta Rakyat Aceh agar menyumbangkan hartanya supaya Indonesia bisa memiliki pesawat.

Mengingat saat itu, Indonesia baru saja mendeklarasikan kemerdekaannya, dan pesawat menjadi transportasi yang sangat penting untuk berpergian atau berhubungan dengan negara luar.

“Atas seruan Gubernur saat itu, kita rela menyisihkan harta benda, untuk kita sumbangkan. Apalagi ini untuk kepentingan Negara, ada yang menyumbang ayam, kambing, uang bahkan tanah,” sebutnya pada Waspada saat dijumpai di kediamannya, di Gampong Lhuet, Kecamatan Jaya, Kabupaten Aceh Jaya, Selasa (6/3).

Nyak Sandang, waktu itu berusia 23 Tahun. Ia dan Ayahnya menyumbang sepetak tanah di dalamnya 40 batang kelapa. Tanah itu dijual seharga 100 perak pada Tahun 1950.

Tanpa pikir panjang dan ikhlas atas pemberian sumbangan itu, kata dia, para donatur diberikan bukti surat pernyataan utang (Obligasi). “Kami dikasih surat ini setelah menyumbang, dan akan dibayar kembali dalam waktu 40 Tahun,” ucap pria yang sudah memiliki tujuh anak ini.

Bukan hanya dia, warga di Lamno saat itu ada juga yang menyerahkan seluruh hartanya untuk di sumbangkan. Namun, 40 Tahun berjalan, janji untuk mengembalikan itu terkubur dalam ingatan warga sekitar, apalagi paska itu Soekarno dilengserkan.

Nyak Sandang masih menyimpan dengan rapi tanda penerimaan uang darinya kepada pemerintah Indonesia, yang memuat keterangan bahwa sumbangan tersebut berbentuk hutang pemerintah Indonesia kepada rakyat Aceh.

Dalam tanda penerimaan tersebut memuat jenis hutang, jumlah, nama yang mendaftarkan, tahun dan tanda tangan penerima. Semua keterangan tersebut ditulis dalam ejaan lama. Kemudian masih jelas tulisannya.

Ia manjadi orang Aceh pertama yang membuktikan sejarah, bahwa Masyarakat Aceh benar telah menyumbang pembelian pesawat untuk Negara lewat obligasi yang dimilikinya.

Ia menuturkan, dengan kondisinya yang tidak lagi sehat, dengan sejumlah penyakit seperti katarak dan bermasalah dengan pendengarannya, tak pernah sedikitpun ia meminta hartanya kepada Negara.

“Saya sudah ikhlas. Tanpa dikembalikanpun saya ikhlas,” tuturnya di kediamannya yang berukuran 6 x 6 meter.

Meski memiliki peran penting dalam pembelian pesawat itu, bahkan Nyak Sandang belum pernah merasakan naik pesawat. “Belum pernah (naik pesawat),” ucapnya sambil tertawa.

Hanya Ingin Naik Haji, Walau Belum Pernah Naik Pesawat

Meski begitu, ia tidak berkeinginan naik pesawat, apalagi untuk jalan-jalan. “Cita-cita saya hanya ingin naik haji,” katanya.

Ia tidak mengharapkan apa-apa, pengorbanan orang tuanya dan masyarakat kepada pemerintah Indonesia mutlak atas dasar ikhlas ingin membangun negeri. Dengan kondisi kehidupannya sekarang yang bisa dibilang dalam kekurangan, Nyak Sandang tetap memegang prinsip untuk tidak pernah mengiba kepada siapa pun.

Jiwa besar ini membuat Nyak Sandang terlihat tenang dan berkharisma di usia senja. Dia hanya bisa mengucap ‘bangga’ tentang apa yang telah diberikannya kepada negara saat itu.

Kini, Nyak Sandang hanya bisa berhadap agar di usianya yang senja masih bisa wujudkan cita-citanya, menunaikan rukun Islam ke 5, naik Haji. Mungkinkah Garuda Indonesia tergerak ingin memfasilitasi Nyak Sabdang? (Dani Randi)

BERITA TERKINI

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER