Rabu, Juli 17, 2024
Google search engine
BerandaLaporan KhususMelirik Pojok Baca untuk Literasi Hingga Garden Library

Melirik Pojok Baca untuk Literasi Hingga Garden Library

“Membangun literasi tidak bisa sendiri, makanya saya lakukan kolaborasi dengan gampong, pegiat literasi serta akan menggagas garden library”

— Kepala DPKA, Dr Edi Yandra —

Seperti pepatah, buku adalah gerbang dunia atau jendela dunia, dan membaca adalah kuncinya. Dalam artian dengan membaca maka wawasan maupun inspirasi seseorang dapat terbuka lebih luas.

Namun sayangnya kegiatan membaca buku akhir-akhir ini telah banyak terabaikan berbagai kalangan dengan alasan kesibukan. Atau karena adanya media yang dianggap lebih praktis untuk mendapatkan informasi seperti televisi, radio, maupun melalui media internet.

Mengutip data Badan Pusat Statistik tahun 2022, disebutkan tingkat kegemaran membaca masyarakat Indonesia secara keseluruhan mendapat skor 3,49 atau pada level sedang.  Sementara di Aceh sendiri kegemaran membaca mencapai skor 3,57. Jika dibandingkan dengan daerah lain, Aceh memiliki minat baca yang masih rendah.

Atas dasar itu, pemerintah pusat maupun daerah dituntut untuk meningkatkan minat baca masyarakat. Baik dalam bentuk sosialisasi maupun hal-hal yang dapat menumbuhkan minat baca masyarakat.

Kegiatan diskusi antara Kepala DPKA Dr. Edi Yandra, S.STP, MSP, bersama pegiat literasi Aceh. (Foto/Ist)

Di Aceh sendiri, lembaga yang memiliki tugas untuk meningkatkan literasi baca adalah Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh (DPKA). Meski Provinsi Aceh masuk ke dalam 10 besar tingkat baca paling tinggi se-Indonesia, DPKA tetap berupaya membumikan kesadaran membaca di kalangan masyarakat Aceh.

DPKA Siapkan Pojok Baca

Untuk menumbuhkan minat baca, DPKA bekerjasama dengan perangkat gampong (desa) menyediakan pojok baca di beberapa gampong di Aceh. Program ini merupakan program dari perpustakaan pusat yang bekerja sama dengan perpustakaan daerah dan desa.

Dia menyebutkan, saat ini perpustakaan tidak hanya diidentikkan dengan pinjam buku dan baca buku, namun sudah merambah ke inklusi sosial. Tentunya dengan konsep ini bisa melahirkan peningkatan ekonomi masyarakat.

“Intinya kalau pustaka gampong itu, ada penghasilan atau usaha mikro masyarakat yang dipamerkan di pustaka. Nantinya akan dicatat, apa produknya dan berasal dari mana,” sebutnya.

Buku yang disediakan di perpustakaan gampong pun disesuaikan dengan kebutuhan di gampong tersebut. Misalnya buku-buku pengetahuan pertanian atau bercocok tanam, buku teknik budiaya, buku untuk anak-anak dan jenis buku lainnya yang dibutuhkan masyarakat di gampong tersebut.

Selain buku, perpustakaan gampong juga memiliki pusat data tentang produk-produk potensial hingga produk yang dihasilkan oleh UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah) di gampong tersebut. Dengan demikian, kata Edi Yandra, setiap orang yang berkunjung ke perpustakaan gampong akan mendapatkan informasi detail tentang gampong itu.

“Tugas DPKA adalah memasok atau meminjamkan buku-buku yang dibutuhkan oleh perpustakaan gampong tersebut. Jadi perpustakaannya dibangun oleh gampong itu sendiri, dan kita membantu buku-buku atau perangkatnya,” tutur Kepala BPKA, Edi Yandra.

Saat ini, sebut Edi Yandra, ada delapan kabupaten dan kota yang sudah mendapat dukungan perpustakaan gampong yang terdiri dari rak buku, meja baca, perangkat keras seperti komputer dan lain-lain.

Delapan kabupaten kota tersebut yaitu Aceh Tengah, Bener Meriah, Aceh Besar, Nagan Raya, Gayo Lues, Bireuen, Meulaboh dan Aceh Timur. Itu delapan kabupaten kota yang sudah mendapatkan fasilitas program transformasi berbasis inklusi sosial.

Di samping itu, untuk meningkatkan literasi, tambah Edi Yandra, nantinya DPKA akan membuat pojok baca di tempat-tempat yang ramai dikunjungi. Seperti kafe, rumah sakit, fasilitas umum dan beberapa tempat lainnya.

Menurutnya, pojok baca tidak hanya sebagai tempat meletakkan buku bacaan tentang birokrasi. Penempatan buku pada pojok baca nantinya juga akan disesuaikan dengan tempatnya. Seperti di rumah sakit, akan disediakan pojok baca khusus tentang buku kesehatan, masalah penyakit, tanaman obat (herbal) dan lainnya.

“Jangan kita letakan buku ekonomi maupun pertanian, apalagi buku-buku politik di rumah sakit. Tapi buku tentang masalah-masalah kesehatan,” sebutnya saat diskusi ringan dengan tim Waspadaaceh.com.

Begitupun terkait buku-buku UMKM, pertanian, perikanan akan diletakkan pada pojok yang sesuai tempatnya. Sesuai dengan kebutuhan orang-orang yang datang ke tempat itu, kata Edi Yandra.

Literasi dan Garden library

Selain pojok baca, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh (DPKA) juga sudah menyediakan pojok bagi 10 komunitas literasi di gedung baru perpustakaan.

“Semacam pojok buat 10 komunitas literasi terpilih untuk menampilkan koleksi bacaan dan produk lainnya dalam rangka mewujudkan perpustakaan inklusi seperti arahan perpustakaan nasional di Jakarta,” tutur Edi Yandra.

Kata Edi Yandra, pihaknya tidak bisa bekerja sendiri dalam mengontrol minat baca masyarakat, melainkan harus berkolaborasi dengan pegiat literasi yang bergerak di tengah-tengah masyarakat.

“Makanya, saya kumpulkan 43 pegiat literasi se-Aceh. Dalam pertemuan itu saya tekankan untuk sama-sama memajukan perpustakaan Aceh,” jelasnya.

Dia menyadari memajukan perpustakaan tidak bisa sendiri, makanya dengan kehadiran pegiat literasi diharapkan mampu ikut menyosialisasikan atau paling tidak bisa meramaikan Perpustakaan Aceh.

“Membangun literasi ini publik objeknya. Tidak bisa sendiri, makanya saya lakukan kolaborasi dengan gampong, pegiat literasi serta akan menggagas garden library (perpustakaan yang membuat pengunjungnya merasa lebih dekat dengan alam),” tegasnya.

Perpustakaan Wilayah (Puswil) Aceh sedang membenahi sebagian gedungnya untuk garden library agar pengunjung bisa betah membaca buku. (Foto/cut nauval dafistri)

DPKA juga terus membenahi pembangunan serta melengkapi fasilitas di gedung pelayanan Perpustakaan Aceh yang beralamat di kawasan Lamnyong, Banda Aceh. Meski pembangunan perpustakaan hampir rampung 100 persen, namun DPKA belum puas dan terus berbenah demi memberikan pelayanan terbaik kepada pengunjung.

Ke depan kata Edi Yandra, pihaknya akan menggagas pembuatan garden library pada lantai tiga. “Nantinya garden library itu akan kita desain dengan rumput-rumput sintesis,” sebutnya.

Pada garden library ini, tidak hanya tersedia buku, tapi pengunjung juga bisa menikmati minuman maupun makanan sambil membaca buku. “Kita harapkan, garden library ini ada minuman, ada makanan dan ada juga pojok buku. Sehingga orang bisa minum sambil baca buku. Ini merupakan salah satu upaya kita untuk menarik pengunjung,” tutupnya.

Beri Apresiasi Kepada DPKA

Sementara itu, pendiri sekaligus pembina Rumah Baca Aneuk Nanggroe (Ruman) Aceh, Ahmad Arif, menyampaikan apresiasi positif atas inisiatif Kepala DPKA dalam mengundang, merangkul dan berkolaborasi dengan para pegiat literasi dari seluruh Aceh.

Ahmad Arif juga mengapresiasi positif konsep gedung baru Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh (DPKA) yang dibranding dengan istilah “Mal Baca”. Istilah ini secara psikologis lebih ramah dan memengaruhi alam bawah sadar siapapun yang mendengar istilah tersebut.

Namun Arif kemudian mengingatkan dua hal. Pertama, bahwa pelayanan publik itu harus berdasarkan panggilan jiwa, bukan semata untuk mengejar angka-angka statistik seperti yang ditargetkan dalam aturan atau SOP.

“Bila pelayanan publik itu dilakukan atas panggilan jiwa, maka senantiasa berusaha untuk melakukan yang terbaik bagi masyarakat yang dilayani, walaupun tidak ada uang yang masuk ke kantong,” katanya, sebagaimana dikutip dari website DPKA.

Kedua, jangan terpaku pada kota besar Banda Aceh dan daerah satelitnya, Aceh Besar. Sebab, mayoritas penduduk Provinsi Aceh justru di luar dua daerah tersebut yang kesusahan dalam mengakses bahan bacaan yang bernas dan berkualitas. (Adv)

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER