BerandaAcehKurangnya Guru PLB Masih Jadi Tantangan Pendidikan Inklusif di Aceh

Kurangnya Guru PLB Masih Jadi Tantangan Pendidikan Inklusif di Aceh

Banda Aceh (Waspada Aceh) – Ketersediaan guru Sekolah Luar Biasa (SLB) di Aceh masih jauh dari kebutuhan ideal. Kondisi ini membuat layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus belum merata, bahkan di sejumlah daerah masih terjadi antrean layanan pendidikan.

Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin, mengatakan meski pemerintah daerah telah mengangkat lebih dari 4.000 guru PPPK, kebutuhan guru dengan kompetensi Pendidikan Luar Biasa (PLB) masih sangat terbatas, terutama untuk menangani anak dengan kebutuhan khusus seperti autisme.

“Secara umum Aceh tidak kekurangan guru, tetapi guru dengan spesialisasi pendidikan luar biasa masih sangat terbatas,” kata Murthalamuddin dalam sambutan pada peresmian revitalisasi satuan pendidikan se-Kota Banda Aceh di SLB YPPC Banda Aceh, Selasa (23/6/2026).

Akibat kekurangan tersebut, sejumlah anak berkebutuhan khusus di daerah seperti Lhokseumawe, Langsa, hingga wilayah lain belum mendapatkan layanan pendidikan secara optimal dan harus menunggu giliran.

Pemerintah Aceh kini mendorong skema alih kompetensi bagi guru berlebih jam mengajar untuk dilatih menjadi guru SLB sebagai solusi cepat pemenuhan tenaga pendidik. Selain itu, kerja sama dengan perguruan tinggi juga dibuka untuk pelatihan guru pendidikan khusus, seperti program guru inklusi selama enam bulan.

Sementara itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, mengatakan pemerintah telah menyiapkan program pelatihan guru pendamping ABK di sekolah inklusi. Guru umum akan dibekali kompetensi khusus agar dapat mendampingi siswa berkebutuhan khusus.

“Guru pendamping akan kita latih, dan tugasnya dihitung sebagai beban kerja mengajar,” ujarnya.

Abdul Mu’ti menegaskan, pemenuhan hak pendidikan bagi seluruh warga negara, termasuk penyandang disabilitas, merupakan amanat konstitusi yang harus dijalankan melalui berbagai pendekatan layanan pendidikan, termasuk pendidikan berbasis komunitas untuk menjangkau anak yang belum bisa mengakses SLB maupun sekolah inklusi.

Di sisi lain, Kepala Sekolah SLB YPPC Banda Aceh, Yanti Alvia, menyebut revitalisasi sekolah memberi dampak positif bagi semangat guru dan siswa, meski tantangan tenaga pendidik masih ada.

“Harapan saya ke depan, guru-guru dan anak-anak semakin bersemangat dengan adanya bantuan revitalisasi ini,” ujarnya.

Terkait ketersediaan guru PLB, ia menegaskan bahwa tenaga pengajar di sekolah tersebut bukan berasal dari latar belakang pendidikan khusus.

“Bukan kekurangan, tetapi memang guru yang memiliki latar belakang PLB khusus tidak ada. Guru-guru kami berasal dari berbagai disiplin ilmu, seperti Bahasa Indonesia, PPKn, dan Pendidikan Agama Islam,” katanya.

Ia juga menjelaskan kondisi sebelum revitalisasi, di mana fasilitas belajar masih sangat terbatas dengan hanya tiga ruang kelas sehingga tidak memadai untuk proses pembelajaran.

“Anak-anak juga belum merasa nyaman dan aman dalam belajar,” ujarnya.

Saat ini SLB YPPC Banda Aceh memiliki 38 siswa dengan berbagai kategori kebutuhan khusus, seperti tunarungu, tunagrahita, dan tunadaksa. Kategori terbanyak adalah tunagrahita.

Selain pembelajaran akademik, sekolah juga menyediakan pelatihan keterampilan seperti menjahit dan membuat kue pada akhir pekan untuk membekali kemandirian siswa setelah lulus.

Dengan kondisi tersebut, tantangan pendidikan inklusif di Aceh tidak hanya menyangkut infrastruktur, tetapi juga ketersediaan tenaga pendidik yang memiliki kompetensi khusus agar layanan pendidikan bagi ABK dapat berjalan lebih merata dan berkelanjutan. (*)

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER