Beranda Suara DPRK Aceh Besar Kebutuhan Telur Asin Aceh Besar Masih Dipasok dari Luar, Begini Kata Ketua...

Kebutuhan Telur Asin Aceh Besar Masih Dipasok dari Luar, Begini Kata Ketua DPRK

BERBAGI
Rumah produksi telur bebek asin, di Gampong Lam Gapang, Kabupaten Aceh Besar. (foto/Cut Nauval)

Aceh Besar (Waspada Aceh) – Usaha membuat telur bebek asin memiliki prospek yang bagus seiring tingginya permintaan pasar (konsumen) di Aceh Besar. Namun sayangnya, tingginya kebutuhan telur itu tidak mampu dipenuhi oleh pelaku usaha karena ketiadaan bahan baku telur bebek.

Kebutuhan telur bebek selama ini sebagian besar masih dipasok dari luar daerah, yakni dari Sumatera Utara, kata pelaku UMKM (usaha mikro, kecil dan menengah), yang membuat telur bebek asin.

Usaha rumahan pembuatan telur bebek asin tersebut salah salah satunya berada di Gampong Lamgapang, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh. Jurnalis Waspadaaceh.com, pada Rabu (10/11/2021), mengunjungi rumah produksi telur bebek asin tersebut.

Seorang karyawan bernama Ruwaida, warga Gampong Lamgapang, tampak sedang membalut seluruh bagian telur bebek dengan sekam jerami yang sudah dicampur garam dan air. Sambil melakukan proses pengasinan telur bebek, Ruwaida menjelaskan dalam sehari dia mampu mengasinkan minimal 100 butir telur.

Pemilik rumah produksi telur asin itu, Cut Nurhayati, mengatakan, telur asin dalam kebudayaan masyarakat Aceh sangat identik dengan acara khanduri. Hampir setiap acara seperti tradisi perayaan Maulid Nabi, setiap gampong atau desa memiliki ciri khas masing-masing.

Ciri khas kenduri Maulid di Aceh Besar ditandai dengan adanya berbagai menu masakan, dan salah satu hidangan yang tidak pernah terlupakan adalah telur bebek asin.

Katanya, dalam momen-momen tersebut permintaan telur bebek asin ini sangat tinggi di kalangan masyarakat Aceh. Saat ini permintaan telur bebek tinggi, namun stok telur bebek tersebut masih kurang. Dia mengaku selama ini stok telur bebek masih dipasok dari Medan, Sumatera Utara.

Selama musim kenduri, lanjutnya, masyarakat membeli 300 hingga 400 butir telur perharinya. Dengan tingginya permintaan konsumen terhadap telur asin tersebut tidak berpengaruh pada kenaikan harga.

“Selama kenduri ini, banyak yang pesan, kadang sampai tiga atau empat ikat. Satu ikat ada tiga ratus butir. Jadi permintaan banyak. Cuma stok kita sedikit, karena telurnya dikirim dari Medan. Saya biasa pesan dari Medan,” jelasnya.

Peternak Bebek Harus Dibina

Ketua DPRK Aceh Besar, Iskandar Ali, menjawab pertanyaan Waspadaaceh.com, mengatakan, terkait kebutuhan telur bebek di Aceh Besar yang masih dipasok dari Medan, menurutnya karena peternak di kabupaten ini masih kesulitan mengatasi masalah pakan.

Harga pakan ternak, kata Iskandar Ali, harganya cukup tinggi sehingga tidak sebanding dengan hasil yang diperoleh peternak. Peternak masih tergantung dengan pakan pabrikan, meski harganya mahal. Karena tidak tahu harus bagaimana mengatasi masalah pakan ini. Padahal pakan merupakan faktor produksi terpenting dalam usaha peternakan termasuk bebek.

Untuk itu Iskandar Ali meminta pemerintah kabupaten (Pemkab) Aceh Besar untuk mengedukasi masyarakat, khususnya peternak itik, agar mampu membuat pakan alternatif sendiri sehingga tidak tergantung dengan pakan pabrik.

“Bila peternak bisa membuat pakan sendiri maka keuntungan yang mereka peroleh menjadi lebih besar, sehingga mereka termotivasi untuk mengembangkan usaha peternakannya. Tapi kalau bergantung pada pakan pabrik, bila harganya naik, peternak malah bisa gak dapat keuntungan. Ini masalahnya,” kata Iskandar Ali.

Ketua DPRK Aceh Besar itu mencontohkan apa yang dilakukan Koloner Reki Feriyanto dari Kodam Iskandar Muda, yang membudidayakan tumbuhan air sebagai pakan alternatif ternak bebek, ayam, ikan dan sebagainya. Tanaman ini mudah dikembangkan dan dari sisi nutrisi dan lainnya, sangat cocok untuk pakan ternak.

Untuk itu, katanya, Pemkab Aceh Besar perlu memfasilitasi para peternak untuk belajar membuat pakan alternatif kepada Kolonel Reki Feriyanto.

“Salah satu caranya adalah dengan mengedukasi peternak agar mampu membuat pakan sendiri atau pakan campuran pabrikan dan alternatif, untuk menghemat biaya,” kata Iskandar Ali kepada Waspadaaceh.com, Rabu (24/11/2021).

Dengan cara itu, kata Iskandar Ali, maka para peternak dapat mengelola peternakan bebeknya secara lebih baik, dengan biaya lebih ringan, tapi produksi telurnya bisa ditingkatkan dan dijaga kesinambungannya. (Cut Nauval)