Selasa, Februari 27, 2024
Google search engine
BerandaPariwaraIni Sosok Sukmayati, Guru Berprestasi Aceh 

Ini Sosok Sukmayati, Guru Berprestasi Aceh 

“Kita harus tetap optimis bahwa kualitas pendidikan kita selangkah lebih maju dari daerah lain, dan tentu ini cita-cita kita bersama” 

— Kadisdik Aceh Alhudri —

Malam Anugerah Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) berprestasi Aceh tahun 2022 adalah hari yang istimewa bagi Sukmayati, guru SMA Labschool Unsyiah. Pada malam itu, Sukmayati dinobatkan sebagai juara pertama guru berprestasi se-Aceh tahun 2022.

Sukma sapaan akrabnya lahir tahun1969. Meski terhitung bukan generasi kekinian, namun Sukma berhasil menepati juara pertama guru berprestasi setelah menggeser Sri Amalia dari SMAN Krueng Barona Jaya, Aceh Besar, yang meraih juara kedua dan Heri Riskianto dari SMAN 3 Langsa meraih juara ketiga.

Walaupun usianya tidak terhitung muda lagi, tidak mengalahkan semangatnya untuk terus mengaktualisasi diri hingga ikut dalam ajang lomba guru berprestasi.

“Pada tahun 2020 mendapat juara II di provinsi dan tahun ini kembali mendapatkan julukan sebagai juara pertama guru berprestasi se-Aceh. Intinya dalam mendapatkan ini semua saya tidak pernah berhenti untuk terus berperoses,” ucap Sukma kepada Waspadaaceh.com, Sabtu (19/11/2022.

Dalam kompetisi ini, lanjut Sukma, harus berusaha semaksimal mungkin sehingga layak disebut sebagai juara. Tentunya membutuhkan persiapan yang sangat panjang dan matang. Apalagi di tingkat provinsi persaingannya lebih ketat dibandingkan kabupaten/kota.

Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Alhudri, menyerahkan hadiah kepada para pemenang dari berbagai kategori pada Malam Anugerah Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) berprestasi Aceh tahun 2022. (Foto/Ist)

Sukma menyebutkan sudah kali keempat mengikuti ajang guru berprestasi, dengan bekal usaha dan kerja keras dan punya tekat yang kuat menghantarkan dirinya sebagai guru berprestasi. Pencapaian tersebut, kata jebolan Magister FKIP USK ini, merupakan pencapaian dari akumulasi sehari-hari yang dilakukan sebagai guru, mulai dari hal-hal yang kecil.

“Prosesnya tidak instan. Saya selalu menjadikan kekurangan sebagai ajang untuk memperbaiki diri,” sebutnya.

Manfaatkan Teknologi Dalam Belajar

Meski usianya hampir memasuki ke-53 tahun, yang bisa disebut bukan generasi gadged namun Sukma tetap berusaha memanfaatkan teknologi dalam pembelajaran di sekolah. Menurutnya, setiap guru punya trik dalam melakukan pendekatan kepada siswa.

“Yang pasti, trik saya mengajar selalu menyesuaikan pembelajaran sesuai dengan zaman dan potensi siswa-siswi,” sebut Sukma, guru pengampu bahasa Inggris ini.

Gencarnya penggunaan handphone adalah hal yang tidak bisa dihindari dari keseharian peserta didik. Mau tidak mau, kata Pembina English Club ini, seorang guru harus menyesuaikan diri serta memberikan pembelajaran dengan gaya-gaya kekinian.

“Sebesar mungkin kita harus memasukkan unsur-unsur teknologi dalam pembelajaran. Hal ini guna menarik minat siswa untuk belajar,” kata Sukma.

Di samping itu, teknik belajarnya juga harus bervariasi dan tidak monoton, agar siswa tidak mudah bosan. Selain itu, guru juga dituntut untuk update selalu, banyak membaca, meneliti dan menulis serta jangan takut untuk mencoba menerapkan pola baru dalam kelas.

“Karena setiap tahun tipe peserta didik pasti berbeda. Jadi seorang guru juga harus menerapkan pola yang berbeda dalam mengajar,” sebutnya.

Mengajar Sebagai Panggilan Jiwa

Sukma yang sudah menggeluti profesi guru sejak tahun 1997 ini, mengajak guru-guru yang lain untuk menjadikan mengajar sebagai panggilan jiwa. Ketika guru-guru menerapkan seperti ini, dia yakin para guru akan melakukan semua aktivitas secara totalitas.

Sukma yang pernah mengajar di SMAN 8 Kota Banda Aceh ini, menyebutkan setiap siswa punya potensi masing-masing. Tinggal bagaimana cara guru bisa memanfaatkan potensi ini agar siswa tumbuh dan berkembang dengan baik.

“Guru juga tidak boleh berada dalam zona nyaman, terus mengupgrate diri. Apalagi dengan kemudahan teknologi sangat mudah sekali mengikuti pelatihan-pelatihan online,” jelasnya.

Menurut Sukma hal yang tak kalah penting, guru juga harus terus meningkatkan kompetensi diri, menjadi lebih profesional agar apa yang diajarkan dapat bermanfaat bagi peserta didik.

Disdik Beri Tiket Umrah 

Atas prestasi Sukma dan beberapa guru lainnya, Dinas Pendidikan Aceh (Disdik) memberikan penghargaan, sertifikat, dana pembinaan bahkan hadiah tiket umrah bagi peserta yang meraih peringkat satu.

Kadisdik Aceh, Alhudri. (Foto/Ist)

Pada kesempatan itu, Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Alhudri mengucapkan selamat atas prestasi yang diraih para guru. Bagi yang belum berhasil, dia juga mengajak para peserta untuk menjadikan pengalaman ini sebagai langkah awal untuk meraih prestasi di masa yang akan datang.

Pada malam Anugerah GTK tersebut, Alhudri menyampaikan penghargaan kepada semua pihak yang telah bekerja keras menyukseskan acara GTK. Alhudri berharap, GTK ini bisa dijadikan sebagai momentum bangkitnya pendidikan di Aceh.

Di samping itu, dia juga menekankan kepada semua stakeholder pendidikan, agar bersama-sama bergandengan tangan untuk terus bergerak maju dalam mengejar ketertinggalan.

“Kita harus tetap optimis bahwa kualitas pendidikan kita selangkah lebih maju dari daerah lain. Tentu ini cita-cita kita bersama,” jelasnya.

Alhudri yakin, dengan kebersamaan, semua persoalan pendidikan akan dapat diselesaikan. Begitu juga, di depan mahasiswa FKIP USK, Alhudri berharap teori-teori yang ada di kampus untuk diimplementasikan di dunia nyata.

Walaupun nantinya akan dihadapkan dengan fakta-fakta yang bertolak belakang, namun ini menjadi tantangan yang harus dihadapi dan diselesaikan.

“Lebih dari itu, tugas kita semua memberi layanan terbaik, memberi tuntunan yang dapat menjadi teladan bagi peserta didik dan mengantarkan anak bangsa menjadi anak bermanfaat dan berkarakter,” tutupnya. (Adv)

RELATED ARTICLES
- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments