Banda Aceh (Waspada Aceh) – Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), salah satu universitas terkemuka di kawasan ASEAN, mempromosikan peluang studi bagi pelajar Aceh melalui kegiatan bertajuk “What to Expect? Jom Tanya Alumni UKM in Aceh” yang digelar di Aula Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Sabtu (11/4/2026).
Kegiatan ini bertujuan memperkenalkan berbagai program pendidikan UKM sekaligus mempererat hubungan akademik antara Malaysia dan Aceh.
Acara tersebut menghadirkan sejumlah akademisi UKM, di antaranya Assoc. Prof. Dr. Abdul Latif Ahmad, dosen senior dari Centre for Research in Media and Communication, serta Prof. Madya Dr. Sabariah Mohamed Salleh, Ketua Program Komunikasi Media, Fakultas Sains Sosial dan Kemanusiaan (FSSK) UKM. Turut hadir Ketua Alumni UKM Aceh, Dr. Hamdani M. Syam, bersama sejumlah alumni yang berbagi pengalaman studi mereka di Malaysia.
Prof. Madya Dr. Sabariah Mohamed Salleh mengatakan, kunjungan ini merupakan bagian dari upaya UKM untuk memperkenalkan peluang pendidikan kepada pelajar Aceh. Sebelum kegiatan di Banda Aceh, tim UKM juga telah mengunjungi beberapa sekolah menengah atas guna memberikan pemahaman mengenai kesempatan melanjutkan studi di Malaysia.
“Kami melihat Aceh memiliki kedekatan dengan Malaysia dari segi budaya, bahasa, dan makanan. Hal ini memudahkan proses adaptasi pelajar Aceh yang ingin melanjutkan studi di UKM,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa sasaran kegiatan tidak hanya pelajar tingkat akhir sekolah menengah atas yang ingin melanjutkan ke jenjang sarjana (S1), tetapi juga mahasiswa yang berminat melanjutkan studi ke jenjang magister (S2) dan doktoral (S3).
Terkait dukungan pembiayaan pendidikan, Sabariah menyebutkan bahwa UKM tidak menyediakan beasiswa langsung untuk jenjang S1. Namun, mahasiswa internasional pada jenjang S2 dan S3 berpeluang memperoleh pendanaan melalui skema Research Assistant (RA) atau Graduate Research Assistant (GRA) yang bersumber dari hibah penelitian dosen pembimbing.
Selain itu, mahasiswa juga dapat mengakses Malaysian International Scholarship (MIS) yang disediakan oleh pemerintah Malaysia.
Dalam kesempatan yang sama, Assoc. Prof. Dr. Abdul Latif Ahmad memaparkan strategi meraih kesuksesan dalam menempuh pendidikan. Ia menekankan pentingnya perencanaan riset yang matang, konsistensi dalam publikasi ilmiah, serta kolaborasi akademik sebagai kunci keberhasilan studi.
“Perjalanan Pendidikan memerlukan komitmen yang kuat, jaringan akademik yang luas, serta produktivitas publikasi sebagai indikator keberhasilan,” jelasnya.
Kegiatan ini juga menghadirkan alumni UKM asal Aceh yang berbagi pengalaman mereka selama menempuh pendidikan di Malaysia. Salah satunya, Diska, mahasiswa S2 Komunikasi, yang menilai bahwa ilmu komunikasi merupakan bidang yang dinamis dan relevan dengan kebutuhan dunia kerja.
“Ilmu komunikasi bukan sekadar teori, tetapi harus benar-benar dijiwai karena sangat relevan dengan kebutuhan dunia kerja,” ungkapnya.
Alumni lainnya, Dr. Ing. Asrillah, lulusan Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UKM, menjelaskan bahwa perbedaan utama antara jenjang S1 dan S2 terletak pada kedalaman analisis. “Jika di S1 lebih banyak mengaplikasikan teori, maka di S2 analisis menjadi lebih mendalam dan sangat dibutuhkan oleh industri maupun dunia akademik,” katanya.
Melalui kegiatan ini, UKM berharap semakin banyak pelajar Aceh yang termotivasi untuk melanjutkan studi di Malaysia dan menjadikan UKM sebagai destinasi utama pendidikan tinggi. Kolaborasi ini juga diharapkan dapat memperkuat hubungan akademik dan budaya antara Aceh dan Malaysia.
Sebagai informasi, Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) merupakan salah satu universitas riset terkemuka dan termasuk dalam lima universitas nasional di Malaysia. Didirikan pada 18 Mei 1970 di Bangi, Selangor, UKM dikenal sebagai The National University of Malaysia dan menempati peringkat ke-126 dunia dalam QS World University Rankings 2026.
Kegiatan berlangsung interaktif dengan sesi diskusi dan tanya jawab antara peserta dan narasumber, mencerminkan komitmen UKM dalam membangun jejaring pendidikan internasional yang inklusif dan berkelanjutan. (*)



