Banda Aceh (Waspada Aceh) – Banda Aceh punya cara sendiri menyambut Lebaran. Kota yang sehari-hari ramai oleh aktivitas mahasiswa dan warung kopi itu mendadak berubah sunyi saat Idul Adha tiba.
Suasana itulah yang pertama kali dirasakan Rahmah (20), mahasiswa asal Jakarta yang kini menempuh pendidikan di Jurusan Ilmu Kedokteran Hewan, Universitas Syiah Kuala.
Tahun ini menjadi pengalaman pertamanya merayakan Lebaran di Aceh tanpa pulang kampung.
Namun sebelum hari raya tiba, Rahmah lebih dulu merasakan tradisi khas Aceh yang menurutnya sangat berkesan, yakni meugang. Dua hari menjelang Lebaran, ia diajak tetangga kosnya makan daging bersama.
Awalnya Rahmah mengaku tidak begitu memahami tradisi tersebut. Tetapi suasana hangat warga yang saling berbagi makanan membuatnya cepat merasa akrab.
“Waktu itu tetangga ngajak makan daging bareng. Katanya memang tradisi meugang di Aceh. Saya senang karena walaupun pendatang tetap diajak makan bersama,” katanya kepada Waspadaaceh.com, Rabu (27/5/2026).
Baginya, tradisi itu terasa sederhana tetapi penuh makna. Ia melihat bagaimana masyarakat Aceh menjadikan momen sebelum Lebaran sebagai waktu berkumpul dan berbagi dengan keluarga maupun tetangga sekitar.
Saat Idul Adha tiba, suasana Banda Aceh berubah drastis. Sejak pagi hari raya, Rahmah mengaku sempat kebingungan mencari makan. Warung nasi langganannya tutup. Coffee shop yang biasanya dipenuhi mahasiswa juga kosong tanpa aktivitas.
“Rasanya kayak kota berhenti sebentar. Saya sempat keliling cari makan, tapi hampir semua tutup,” ujarnya sambil tertawa.
Jalanan di sekitar kawasan kampus pun tampak lengang karena banyak mahasiswa pulang ke daerah masing-masing.
Sebagai anak kos yang baru pertama kali merasakan Lebaran di Aceh, Rahmah awalnya merasa suasana itu cukup asing.
Berbeda dengan Jakarta yang menurutnya tetap hidup saat hari raya, Banda Aceh justru seperti memberi ruang bagi warganya untuk benar-benar menikmati momen Lebaran bersama keluarga.
Namun rasa sepi itu perlahan berubah hangat. Siang harinya, beberapa teman kampus mengajaknya berkumpul. Ada yang membagikan daging kurban, ada pula yang mengundangnya makan sate bersama paguyuban mahasiswa rantau.
“Malah jadi terasa dekat. Walaupun enggak pulang, tetap ada teman-teman yang ngajak makan dan kumpul bareng,” katanya.
Dia juga menceritakan, malam takbiran tadi malam membuat kota berjuluk Serambi Makkah itu mendadak hidup. Jalanan utama dipenuhi kendaraan warga yang keluar menikmati suasana malam Lebaran. Arus kendaraan perlahan merayap di sejumlah titik pusat kota.
Dari berbagai arah, gema takbir terdengar bersahut-sahutan. Iring-iringan pawai melintas dengan lampu hias berwarna-warni, sementara cahaya kembang api sesekali memecah langit malam Banda Aceh. Bagi Rahmah, suasana itu terasa begitu khas.
“Unik sekali. Siangnya tenang dan sepi, tapi malamnya ramai dan meriah. Orang-orang keluar menikmati malam takbiran bersama keluarga. Aceh memang punya suasana Lebaran yang beda,” katanya.
Di tengah keramaian malam itu, Rahmah merasa Banda Aceh tak lagi sekadar kota perantauan. Kehangatan orang-orang di sekitarnya membuat Lebaran pertamanya di Aceh terasa lebih dekat dengan rumah. (*)



