BerandaAcehKisah Kak Bet di Pidie Jaya: Harapan Menyambung Benang Putus Pascabanjir Bandang

Kisah Kak Bet di Pidie Jaya: Harapan Menyambung Benang Putus Pascabanjir Bandang

Bagi Kak Bet, pemulihan bukan sekadar menambal dinding rumah atau merapikan atap yang rusak. Pemulihan sejati adalah ketika ia dapat kembali memegang kain, menekan pedal mesin, dan mendengar kembali irama yang menjadi nyawanya.

Waktu berjalan seirama detak jam, dan detak jantung yang diliputi kegelisahan. Bagi Nurbaiti, delapan bulan berlalu sejak air bah melanda tanah kelahirannya, terasa selamanya.

Di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, jejak amukan air perlahan terhapus dari permukaan jalan dan dinding bangunan. Namun bekas luka yang ditinggalkan di tengah kehidupan warga masih terasa begitu dalam, terutama bagi mereka yang menggantungkan nyawa pada keterampilan tangan dari alat sederhana yang kini telah tiada.

Di Gampong Pante Beureune, Kecamatan Meurah Dua, rumah yang kini kembali ditempati Nurbaiti atau yang akrab disapa Kak Bet itu tampak sudah bersih dari sisa lumpur yang dulu menutupi setiap jengkal lantai. Namun, kesunyian yang menyelimuti sudut ruangan tempat ia biasa bekerja terasa jauh lebih menyayat hati daripada sisa bencana yang pernah ada.

BERITA TERKAIT:
Lahan Sawah Bekas Banjir di Pidie Jaya, Disulap Jadi Sentra Bawang Merah

Di sana, dua buah mesin bordir kini berdiri diam. Tertutup lapisan karat yang merayap di setiap bagian logamnya, sebuah pemandangan yang baginya seolah melihat masa depan yang perlahan memudar menjadi pucat.

Selama hampir dua puluh tahun, bunyi putaran mesin itu adalah irama yang mengiringi hari-hari Kak Bet. Sejak kepergian suaminya yang meninggal dunia pada tahun 2024 akibat sakit, suara itu menjadi penopang harapan. Satu-satunya nada yang menjamin sesuap nasi serta buku pelajaran bagi kedua anaknya yang kini berusia 15 dan 12 tahun.

Jari-jarinya yang kasar namun luwes telah menjahit ribuan motif bunga, sulur, dan corak ke atas kain. Mengubah potongan bahan menjadi pakaian yang indah, sekaligus mengubah keringat menjadi harapan yang nyata bagi keluarganya.

Kondisi mesin bordir milik Kak Bet yang rusak akibat terendam banjir, sehingga tidak lagi dapat digunakan untuk bekerja. (Foto/Cut Nauval D)

Namun, air bah yang datang melanda bukan hanya merendam rumahnya, melainkan menenggelamkan pula harapan, sumber penghidupan yang telah menjadi bagian dari dirinya selama belasan tahun.

Dengan lembut namun penuh kesedihan, Kak Bet menyentuh badan mesin yang kini berkarat itu. “Sudah tidak bisa dipakai lagi. Rusak semua karena banjir,” ucapnya pelan, seolah sedang berbicara pada sahabat lama yang kini telah tiada.

Bagian-bagian yang bergerak kini menyatu erat oleh karat, tidak lagi berputar menyambut ide-ide yang mengalir dari benaknya. Keterampilan yang telah diasah sepanjang masa, kecepatan tangan yang tak tertandingi, semuanya kini terhenti tak berdaya, terhalang oleh besi yang tak bergerak.

BERITA LAINNYA:
Huntara di Pidie Jaya Belum Ramah Disabilitas, Penyintas Keluhkan Akses Air dan Toilet

Selama empat bulan lamanya, ia harus mengungsi ke rumah kerabat, membawa serta anak-anak dan sisa harta yang bisa diselamatkan. Kini meski telah kembali ke rumah sendiri, perjuangan sebenarnya baru saja dimulai. Tanpa mesin, pesanan yang dulu datang bergantian kini telah lenyap.

Hari-harinya yang dulu penuh dengan aktivitas kini terisi kekhawatiran yang tak berkesudahan. Untuk mengisi perut anak-anaknya, ia terpaksa menumpukan harapan pada bantuan pascabencana serta uluran tangan saudara terdekat. Sesuatu yang baginya terasa berat, karena jiwanya telah terbiasa mandiri, berdiri tegak berkat hasil keringat sendiri.

Pikirannya sering kali melayang pada keinginan untuk mengajukan pinjaman guna membeli alat baru. Namun, setiap kali bayangan itu muncul, ketakutan akan ketidakpastian menimpanya. Bagaimana ia akan mengembalikan cicilan jika pesanan belum tentu datang? Bagaimana jika nasib kembali tak berpihak padanya?

BACA JUGA:
Pascabanjir Bandang, Debu Tebal Ancam Kesehatan Warga Pidie Jaya

Keraguan itu menahan langkahnya, membuatnya terpaku di tengah persimpangan antara harapan dan ketakutan yang mendalam.

“Saya berharap ada bantuan modal dan pendampingan supaya usaha bordir bisa jalan lagi. Yang paling penting sekarang bisa punya mesin lagi agar saya bisa bekerja,” ujarnya dengan mata yang berbinar namun penuh harap.

Bagi Kak Bet, pemulihan bukan sekadar menambal dinding rumah atau merapikan atap yang rusak. Pemulihan sejati adalah ketika ia dapat kembali memegang kain, menekan pedal mesin, dan mendengar kembali irama yang menjadi nyawanya.

BACA JUGA:
Pemerintah Kucurkan Bantuan Rp241,6 Miliar untuk Korban Banjir dan Longsor di Pidie Jaya

Di tangan wanita yang tangguh ini tersimpan keterampilan yang tak pernah pudar oleh waktu maupun bencana. Namun keterampilan itu ibarat pedang tajam yang tak berguna tanpa gagang dan sarungnya.

Hingga saat ini, bakat yang ia miliki masih tertidur, menunggu kesempatan untuk kembali terbangun. Menjahit bukan hanya kain dan benang, melainkan menyambung kembali harapan yang sempat putus.

Kak Bet ingin menjahit kembali, menjalin masa depan yang lebih baik bagi dua buah hati yang sedang menatapnya dengan penuh harap dan keyakinan. (*)

Ikuti Berita Terkini Waspada Aceh di Google News Klik Sini

Waspada Aceh on TV

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER