California (Waspada Aceh) – Sebuah pesawat pembom strategis dan pembawa senjata nuklir jenis B-52 Stratofortress milik Angkatan Udara Amerika Serikat jatuh dan meledak di kawasan Pangkalan Angkatan Udara Edwards, California, pada Senin pagi waktu setempat (15/6/2026).
Otoritas pangkalan telah memastikan bahwa delapan orang awak yang berada di dalam pesawat tewas dalam insiden tersebut, seperti laporan yang media New York Post.
Sehari setelah peristiwa itu, pada Selasa (16/6/2026), Komando Pusat Amerika Serikat atau CENTCOM mengonfirmasi melalui akun media sosialnya di platform X bahwa pesawat jenis yang sama, yang kerap dijuluki “Stratosaurus” mengingat usia operasionalnya yang sudah sangat tua, telah digunakan dalam misi serangan terhadap sejumlah pos komando dan sasaran yang memiliki sistem rudal balistik.
Pesawat B-52H yang terlibat dalam insiden dan menjadi bagian dari armada aktif AS memiliki spesifikasi teknis yang mumpuni. Berdasarkan data resmi Angkatan Udara AS, pesawat ini mampu terbang dengan kecepatan subsonik tinggi pada ketinggian jelajah mencapai 50.000 kaki.
Kapasitas angkut bebannya tercatat mencapai sekitar 70.000 pon, yang dapat diisi dengan berbagai jenis persenjataan mulai dari bom konvensional, ranjau udara, hingga rudal jarak jauh.
Sebagai pembom strategis, pesawat ini dirancang untuk mampu membawa baik senjata nuklir maupun amunisi konvensional berpemandu dengan tingkat ketepatan tinggi.
Seperti dilansir media CNN, situs resmi Angkatan Udara AS, dan perusahaan pembuatnya Boeing pada Selasa, B-52 telah menjadi tulang punggung kekuatan serangan udara jarak jauh Amerika Serikat selama lebih dari 60 tahun.
Pesawat rancangan Boeing ini memiliki fleksibilitas tinggi dalam penggunaan persenjataan, mampu menjatuhkan bom gravitasi, bom kluster, rudal berpemandu presisi, hingga amunisi serangan langsung gabungan, selain tetap mempertahankan kemampuan membawa muatan nuklir.
Meskipun telah berusia panjang, pesawat ini masih diandalkan dalam strategi pertahanan AS. Angkatan Udara AS memperkirakan akan tetap mengoperasikan armada B-52 hingga sekitar tahun 2050.
Sejarah penggunaannya dimulai ketika varian pertama, B-52A, melakukan penerbangan perdana pada tahun 1954, diikuti oleh varian B yang mulai beroperasi secara resmi setahun kemudian. Secara keseluruhan, sebanyak 744 unit pesawat jenis ini telah diproduksi, dengan unit terakhir dari varian B-52H diserahkan kepada pihak militer pada Oktober 1962.
Hingga saat ini, pihak berwenang belum merilis penyebab pasti jatuhnya pesawat tersebut, dan proses penyelidikan resmi masih berlangsung. (*)



