Banda Aceh (Waspada Aceh) – Persoalan lingkungan di kawasan pesisir dan bantaran sungai mendorong ratusan orang turun langsung dalam aksi pembersihan dan penanaman pohon di bantaran Krueng Aceh, Gampong Tibang, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh, Jumat (31/7/2026) sore.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Gerakan Langit Biru Indonesia Asri yang diinisiasi Partai Demokrat sekaligus rangkaian kegiatan menyambut HUT ke-25 Partai Demokrat yang puncaknya akan diperingati pada 9 September 2026.
Peserta dari berbagai kalangan memadati kawasan bantaran Sungai Alue Naga. Mereka terlihat membersihkan sampah di sepanjang bantaran sungai sebelum melanjutkan kegiatan dengan penanaman pohon.
Peserta tidak hanya berasal dari kader Partai Demokrat. Petugas kebersihan Kota Banda Aceh, mahasiswa, pengemudi ojek online, pegiat ekonomi kreatif, serta masyarakat umum turut terlibat dalam aksi tersebut.
Plt Ketua DPD Partai Demokrat Aceh, Rian Firmansyah Syafruddin, mengatakan sekitar 30 persen dari peserta merupakan kader Demokrat, sedangkan sisanya berasal dari berbagai kalangan.
“Seperti yang teman-teman lihat di sini, kami mengajak petugas kebersihan Kota Banda Aceh, teman-teman mahasiswa, abang-abang driver ojek online, pegiat ekonomi kreatif, serta beberapa teman lainnya yang memiliki visi dan semangat yang sama tentang pentingnya menjaga lingkungan,” kata Rian.
Sekitar 500 peserta terlibat dalam aksi pembersihan bantaran Sungai Alue Naga. Setelah kegiatan bersih-bersih selesai, peserta diarahkan ke lokasi penanaman pohon.
Sejumlah bibit pohon ditanam di kawasan bantaran sungai yang telah dibersihkan. Jenis pohon yang ditanam antara lain trembesi dan cemara yang disesuaikan dengan kondisi tanah di lokasi. Rian mengatakan penanaman pohon tersebut tidak dilakukan sekadar untuk memenuhi rangkaian kegiatan.
“Kami menanam beberapa pohon yang tentunya cocok dengan kontur tanah di sini. Tujuannya bukan sekadar seremonial, tetapi agar pohon tersebut bisa menjadi simbol harapan kita,” kata Rian.
Menurut dia, manfaat pohon yang ditanam diharapkan dapat dirasakan dalam jangka panjang, termasuk oleh generasi berikutnya.
“Pohon tersebut insyaallah akan tumbuh, dan mungkin saja bukan kami yang menikmati rindangnya pohon itu, bisa jadi anak-anak kita,” ujarnya.
Usai penanaman pohon, peserta tidak langsung meninggalkan lokasi. Mereka kembali mengikuti rangkaian kegiatan berikutnya dengan menyimak pembacaan hikayat tentang lingkungan.
Pantauan Waspadaaceh.com, peserta berkumpul dan menyimak hikayat yang disampaikan sebagai bagian dari pesan menjaga lingkungan melalui pendekatan budaya. Setelah pembacaan hikayat selesai, kegiatan dilanjutkan dengan pelepasan benih ikan ke Sungai Alue Naga.
Rangkaian kegiatan tersebut kemudian menjadi bagian dari aksi lingkungan yang dilakukan mulai dari membersihkan bantaran sungai, menanam pohon hingga menjaga ekosistem sungai melalui pelepasan benih ikan.
Illiza: Persoalan Sampah Jadi Tanggung Jawab Bersama
Kegiatan tersebut turut dihadiri Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal bersama Wakil Wali Kota Banda Aceh serta sejumlah unsur pemerintah.
Illiza mengatakan persoalan sampah masih menjadi tantangan yang harus dihadapi bersama. Pemerintah Kota Banda Aceh, kata dia, terus mendorong pengelolaan sampah dari sumbernya.
“Kita di Kota Banda Aceh terus berikhtiar bagaimana mengurangi sampah dari sumbernya,” kata Illiza.
Menurutnya, upaya tersebut dilakukan melalui waste collecting point, bank sampah dan pengolahan kompos. Saat ini terdapat 35 kelompok perempuan yang terlibat dalam pengelolaan waste collecting point.
“Persoalan sampah ini menjadi persoalan kita bersama. Bagaimana tidak membuang, tapi menempatkan sampah pada tempatnya. Dan bagaimana sampah itu benar-benar bisa dimanfaatkan kembali,” ujarnya.
Illiza mengakui mengubah perilaku masyarakat dalam mengelola sampah tidak mudah. “Kita latih, kita didik masyarakat, bagaimana memilah-milah sampah. Tetapi memang mengubah perilaku itu tidak mudah,” katanya.
Selain pengelolaan sampah, Illiza mengatakan Gampong Tibang termasuk dalam program Kampung ProKlim. Saat ini, sekitar 30 gampong di Banda Aceh disebut telah siap mengikuti program tersebut.
Program ProKlim mencakup sejumlah kegiatan, seperti pengelolaan sampah, pembuatan kompos, penanaman pangan, reuse dan recycle, serta pengembangan ekonomi sirkular dengan melibatkan kelompok perempuan.
Illiza berharap aksi lingkungan seperti yang dilakukan di Alue Naga dapat diikuti kelompok masyarakat lainnya.
“Mudah-mudahan gerakan yang dilakukan pada hari ini akan diikuti oleh kegiatan-kegiatan lainnya, baik dari mahasiswa, akademisi, pengusaha, kelompok-kelompok, lahirnya komunitas-komunitas,” ujarnya. (*)



