Banda Aceh (Waspada Aceh) – Forum Tanah Air (FTA), komunitas diaspora Indonesia yang tersebar di 26 negara, merampungkan pembangunan tahap awal lima sumur bor di sejumlah wilayah terdampak bencana di Aceh.
Program tersebut ditujukan untuk membantu penyediaan air bersih bagi masyarakat dan santri yang masih mengalami kesulitan memperoleh air layak konsumsi pascabanjir akhir November 2025.
Pembangunan sumur bor dimulai sejak Juni 2026 dan selesai pada tahap awal pada Juli 2026. Lima titik sumur dibangun di lingkungan dayah dan permukiman warga di Kota Lhokseumawe, Kabupaten Aceh Utara, dan Kabupaten Pidie Jaya.
Ketua Umum FTA, Tata Kesantra, mengatakan inisiatif tersebut lahir dari kepedulian diaspora Indonesia di luar negeri terhadap masyarakat yang terdampak bencana.
“Saat bencana datang, yang pertama kali hilang bukan hanya rumah, tetapi juga akses air bersih. Padahal air adalah sumber kehidupan untuk minum, memasak, mandi, dan beribadah,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu (30/7/2026).
Menurutnya, selama ini banyak warga dan santri harus berjalan jauh atau membeli air dengan harga mahal untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kondisi itu, kata dia, berdampak pada kesehatan, pendidikan hingga aktivitas ekonomi masyarakat.
Melalui penggalangan dana dari jaringan diaspora Indonesia di berbagai negara, FTA berhasil membangun lima sumur bor yang diperkirakan akan melayani lebih dari 500 santri dan sekitar 1.000 warga di sekitarnya.
Sekretaris Jenderal FTA, Syafril Sjofyan, menyebut pembangunan sumur bor juga menjadi bagian dari program ketahanan bencana yang dijalankan organisasinya.
“Sumur bor ini diharapkan dapat menjadi sumber air darurat apabila bencana kembali terjadi. Program penyediaan air bersih bukan sekadar bantuan jangka pendek, tetapi investasi untuk kesehatan dan masa depan generasi,” katanya.
Sementara itu, Koordinator FTA Aceh, Sayid Jalal, mengatakan pihaknya siap melanjutkan pembangunan sumur bor di wilayah terdampak bencana lainnya apabila dukungan dari para donatur terus mengalir.
“Kami mengajak seluruh masyarakat Indonesia, di mana pun berada, untuk terus mengalirkan kebaikan karena air adalah kehidupan,” ujarnya.
Lima sumur bor tersebut dibangun di Dayah Bustanus Sa’adah Al Munawarah di Kota Lhokseumawe, Dayah Al Madinatuddiniyah Syamsudhuha di Aceh Utara, serta Dayah Istiqamatuddin Daruzzahidin, Dayah Darul Ishlah Al Aziziyah, dan Dayah Raudhatul Ulum As Shamady di Kabupaten Pidie Jaya.
Pimpinan Dayah Bustanus Sa’adah Al Munawarah, Ustaz Muhammad Yusuf, mengaku keberadaan sumur bor sangat membantu kebutuhan air bersih di lingkungan pesantren.
“Alhamdulillah para santri kini lebih mudah mendapatkan air untuk berwudhu, mandi, mencuci, memasak, serta memenuhi kebutuhan sehari-hari. Manfaatnya juga dirasakan masyarakat sekitar dayah,” katanya.
Ungkapan serupa disampaikan pimpinan empat dayah lainnya yang berharap program tersebut dapat terus berlanjut sehingga semakin banyak pesantren dan masyarakat memperoleh akses air bersih.
Selain pimpinan dayah, para santri dan warga sekitar juga mengaku terbantu dengan keberadaan sumur bor. Mereka menilai akses air bersih kini lebih mudah sehingga mendukung aktivitas ibadah, pendidikan, maupun usaha sehari-hari.
FTA berharap program penyediaan air bersih ini dapat terus diperluas melalui dukungan diaspora Indonesia dan masyarakat luas agar lebih banyak wilayah terdampak bencana memperoleh akses terhadap sumber air bersih yang layak. (*)



