Aceh Tengah (Waspada Aceh) – Bagi masyarakat Tanah Gayo, kopi menjadi penentu denyut nadi ekonomi untuk menopang masa depan ribuan keluarga. Namun bencana hidrometeorologi yang terjadi pada akhir November 2025 lalu, menghantam sektor yang paling vital ini. Sebanyak 12.638 hektare lahan kopi tercatat terdampak, dan hingga kini masih banyak kebun yang belum mampu berproduksi kembali.
Di tengah keprihatinan itu, bantuan 4 juta bibit kopi Arabika dari Kementerian Pertanian hadir sebagai harapan baru. Program hilirisasi ini disalurkan ke 14 kecamatan di Kabupaten Aceh Tengah melalui kelompok tani yang terdaftar dalam sistem Simultan, dengan target penyaluran tuntas paling lambat Desember 2026.
Kepala Dinas Perkebunan Aceh Tengah, Sabrin, menjelaskan penyaluran bibit dilakukan bertahap, dengan alokasi sekitar 1.000 batang per hektare sesuai luas lahan yang diajukan masing-masing kelompok tani. Bibit tidak hanya ditujukan untuk mengganti tanaman yang mati akibat bencana, tetapi juga meremajakan kebun yang sudah berusia tua dan menurun produktivitasnya. Penangkaran dilakukan lokal di Kecamatan Pegasing dan Ketol, dikelola oleh penangkar masyarakat setempat, termasuk CV Dek Adan. Memang 4 juta bibit itu belum mencukupi kebutuhan riil petani di lapangan.
“Sebenarnya, jumlah itu belum cukup. Untuk tahun 2027, kami sedang memproses usulan tambahan sekitar 10 juta bibit lagi,” ungkap Sabrin, akhir Oktober 2026.
Kadis Perkebunan ini juga menegaskan, perlunya pendampingan berupa bantuan pupuk agar bibit yang ditanam dapat tumbuh optimal. “Bibit yang bagus tanpa pupuk ibarat benih tanpa tanah yang subur. Keduanya harus berjalan beriringan,” tambahnya.

Harapan Kelompok Tani di Jagong Jeget
Di Kecamatan Jagong Jeget, Kelompok Tani Belangi yang beranggotakan 33 petani terdampak bencana mengajukan permohonan bantuan 27.000 bibit kopi. Ketua kelompok, M. Hafiz Nur Ihsan, menceritakan, hingga kini baru 15.000 bibit yang diterima secara bertahap. Sisa 12.000 bibit masih dinanti.
Pengajuan dilakukan melalui kelompok tani, setelah memperoleh pengetahuan dan pendampingan dari penyuluh pertanian setempat. Dari total pengajuan itu, bibit datang secara bertahap. Pada tahap pertama, kelompok menerima 5.000 bibit, kemudian disusul 5.000 bibit pada tahap kedua. Sebanyak 5.000 bibit kembali tiba pada tahap ketiga. Hafiz menyebutkan, pembagian kepada anggota disesuaikan dengan luas lahan, ada yang menerima 800, 900, hingga 1.000 bibit.
“Kebun kami banyak yang rusak dan ada juga yang sudah tua. Bantuan ini bukan sekadar mengganti yang mati, tapi memperbarui harapan kami,” ucap Hafiz.
Ia menahan pembagian tahap ketiga agar dapat diserahkan sekaligus, supaya anggota tidak perlu bolak-balik mengangkut bibit.
“Terima kasih kepada Bapak Presiden, Bapak Menteri, dan semua pihak yang telah membantu kami. Semoga bibit ini tumbuh menjadi pohon yang menyokong kehidupan keluarga kami tahun-tahun mendatang,” katanya berharap.
Penyaluran bibit kopi ini merupakan bagian dari klaster pemulihan ekonomi dalam Rencana Induk Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Renduk PRR) Pascabencana 2026–2028. Dokumen ini menjadi peta jalan yang menyelaraskan anggaran kementerian dengan rencana daerah, mencakup pemulihan lahan usaha tani, penyediaan sarana produksi, hingga akses jalan ke kawasan perkebunan yang sempat terputus akibat bencana.
Menteri Dalam Negeri sekaligus Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Satgas PRR Pascabencana Sumatera, Muhammad Tito Karnavian, menegaskan pentingnya percepatan penyaluran bantuan sebelum akhir tahun. Sementara menunggu tanaman kopi berproduksi kembali, petani juga didorong menanam tanaman sela berupa tanaman pangan agar roda ekonomi tetap berputar.
“Kegiatan yang dapat dilaksanakan pada 2026 harus rampung sebelum 31 Desember. Manfaatnya harus segera dirasakan masyarakat,” kata Tito Karnavian dalam Rapat Koordinasi Tingkat Menteri di Jakarta, Selasa (27/10/2026). Ia mengingatkan kementerian dan pemerintah daerah bergerak beriringan, memastikan tidak ada penundaan yang menghambat pemulihan mata pencaharian warga. (*)



