Beranda Sumut Soal Pengukuran Tanah Dusun 4 Kota Galuh, Camat Perbaungan Mengaku Tidak Tahu...

Soal Pengukuran Tanah Dusun 4 Kota Galuh, Camat Perbaungan Mengaku Tidak Tahu Menahu

BERBAGI
Suasana di Dusun 4 Desa Kota Galuh Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara. (Foto/sulaiman achmad)

Sergai (Waspada Aceh) – Camat Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai), Sumatera Utara, Fahmi, mengaku tidak mengetahui adanya pengukuran tanah yang kemudian menimbulkan keresahan warga Dusun 4 Desa Kota Galuh, Perbaungan.

Camat justru meminta jurnalis untuk menanyakan masalah itu langsung kepada Kepala Desa Kota Galuh, Bima.

“Yang ngukur siapa, pihak mana? Gak tau kami. Tanyalah sama mereka. Gak tau saya. Tanya langsung saja pada yang ngukur. Nanti kita cari tau lah. Kepala Desa (Galuh), saya hubungi masih sibuk nomornya,” kata Fahmi, Jumat (11/6/2021).

Sedangkan Kepala Desa Kota Galuh, Bima, sejak Kamis (10/6/2021), tidak kunjung memberikan jawaban apapun. Padahal, wartawan hanya bertanya siapa pihak yang melakukan pengukuran tanah di Dusun 4 Desa Kota Galuh, yang dihuni mayoritas warga keturunan Tionghoa itu.

Berita Terkait: Warga Keturunan Tionghoa di Dusun 4 Desa Kota Galuh Perbaungan Resah

Sebagaimana dilaporkan, muncul keresahan warga di Dusun 4 Desa Kota Galuh, Kecamatan Perbaungan, Sergai, pasca adanya oknum yang melakukan aktivitas pengukuran tanah warga di Dusun 4 Desa Kota Galuh tersebut, pada hari Minggu (6/6/2021).

Apalagi saat pengukuran tanah tersebut, dibumbui dengan isu bahwa tanah dimaksud telah dijual dan dimiliki orang lain. Padahal ratusan kepala keluarga (KK) yang mayoritas keturunan Tionghoa itu, sudah tinggal di areal tersebut sejak sebelum Kemerdekaan RI. Mereka juga mengaku tidak pernah menjual atau mengalihkan tanah mereka kepada pihak lain. Warga telah tinggal dan menguasai tanah itu sudah lebih 100 tahun.

“Bahkan ayah saya lahir di dusun ini, itu sebelum Kemerdekaan RI. Selama beberapa tahun belakangan ini memang ada saja oknum dari luar yang mengusik warga. Ada yang mengaku memiliki hak, tapi tak pernah ada yang bisa menunjukkan bukti surat kepemilikannya,” kata salah seorang warga yang enggan disebut namanya kepada wartawan, Rabu (9/6/2021).

Kepada wartawan, sebelumnya Kepala Dusun (Kadus) 4 Desa Kota Galuh, Matono Andi, mengakui adanya aktivitas pengukuran tanah warganya tersebut. Tapi dia sendiri tidak mengetahui dengan jelas untuk kepentingan apa pengukuran tersebut.

“Pengukuran ada, tapi saya tidak mengikuti secara keseluruhan. Karena saya banyak kerjaan,” kata Martono.

Salah seorang warga setempat, Sisa, 61, mengaku tidak tenang setelah pengukuran itu.  “Saya kan takut, tidak tahu apa-apa, diukur-ukur saja tanahnya. Minggu pun datang ukur,” ujarnya.

Sisa mengaku tidak mengerti untuk apa tanahnya diukur. Oknum  yang datang, kata dia, melakukan pengukuran begitu saja tanpa memberikan penjelasan untuk kepentingan apa. (sulaiman achmad)