BerandaPendidikanUSM Indonesia Siapkan Spesialisasi Komunikasi Kesehatan

USM Indonesia Siapkan Spesialisasi Komunikasi Kesehatan

Medan (Waspada Aceh) – Dunia komunikasi terus berkembang seiring perubahan teknologi dan meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap informasi yang cepat, tepat, dan dapat dipercaya.

Menjawab tantangan tersebut, Universitas Sari Mutiara (USM) Indonesia terus memperkuat Program Studi Ilmu Komunikasi dengan menyiapkan kekhususan Komunikasi Kesehatan sekaligus membuka peluang Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) bagi para profesional, termasuk insan media.

Langkah ini menjadi bagian dari komitmen USM Indonesia untuk menghadirkan pendidikan yang tidak hanya kuat secara akademik, tetapi juga dekat dengan kebutuhan dunia kerja dan kehidupan masyarakat.

Kaprodi Ilmu Komunikasi USM Indonesia Dr. Saurma MGP Siahaan dalam konferensi pers bersama dosen dan mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi USM Indonesia di Kampus tersebut, Jumat (14/8/2026), mengatakan, kekhususan Komunikasi Kesehatan menjadi salah satu upaya menjawab kebutuhan komunikasi di sektor kesehatan yang semakin kompleks.

Saurma didampingi dosen dan beberapa mahasiswa yakni Megawati, Mega Ulva Sari, Dephary, Asri Widyanti, Nurhawati Simamura. M-Si, Niscaya, Manisari, Louise, Juang, Viktoria K.N. Tambunan, Sakia, dan Hakım Mulia.

Menurut Saurma, komunikasi memiliki posisi penting dalam membangun hubungan antara rumah sakit, tenaga kesehatan, pasien dan keluarga pasien. Dalam situasi tertentu, kemampuan menyampaikan informasi dengan tepat bahkan dapat menjadi kunci untuk mencegah kesalahpahaman dan konflik.

“Komunikasi kesehatan ini berkaitan dengan bagaimana menyampaikan pesan-pesan kesehatan secara tepat. Misalnya di rumah sakit, bagaimana menangani krisis dan menyampaikan informasi kepada pasien maupun keluarga pasien. Sehingga pesan yang disampaikan jelas dan tidak menimbulkan konflik,” ujarnya.

Dia mencontohkan persoalan antrean, keterbatasan kamar, pelayanan hingga kondisi krisis di rumah sakit. Berbagai persoalan tersebut tidak cukup hanya diselesaikan dengan pendekatan teknis, tetapi membutuhkan komunikasi yang mampu memberi penjelasan secara transparan dan membangun kepercayaan.

“Komunikasi itu yang membuat segala sesuatunya menjadi terang dan jelas. Dengan komunikasi yang baik, konflik-konflik juga bisa diminimalkan,” katanya.

Karena itu, mahasiswa nantinya tidak hanya dibekali teori komunikasi, tetapi juga diarahkan memahami karakter komunikasi di sektor kesehatan. Kekhususan tersebut diharapkan menjadi salah satu keunggulan yang membedakan lulusan Ilmu Komunikasi USM Indonesia dalam memasuki dunia kerja.

Akreditasi Unggul

Penguatan pendidikan tersebut berjalan seiring dengan capaian Program Studi Ilmu Komunikasi USM Indonesia yang telah meraih akreditasi Unggul.

Bagi Saurma, predikat tersebut bukan sekadar penghargaan, melainkan tanggungjawab untuk memastikan mahasiswa dan alumni benar-benar memiliki kompetensi yang dapat dibanggakan.

“Kami selalu menyampaikan kepada mahasiswa agar tegak kepala karena mereka berasal dari program studi yang unggul. Predikat unggul tidak mudah dicapai, sehingga kami ingin menghasilkan alumni yang benar-benar menunjukkan kualitas dan kompetensinya,” ujarnya.

Semangat itu diterjemahkan melalui pembelajaran yang lebih dekat dengan praktik. Mahasiswa didorong memahami dunia kehumasan, branding, public speaking hingga bagaimana membangun citra sebuah lembaga.

“Mahasiswa belajar bagaimana membangun branding, imej dan citra. Sesuatu yang awalnya kurang baik bagaimana dikomunikasikan sehingga menjadi lebih baik. Dan, sesuatu yang belum dikenal bagaimana bisa menjadi dikenal,” katanya.

Dengan pendekatan tersebut, mahasiswa diharapkan tidak hanya menjadi orang yang mampu berbicara, tetapi mampu mengelola komunikasi sebagai instrumen untuk menyelesaikan persoalan.

Kesempatan Kedua

Tidak kalah penting, USM Indonesia membuka kesempatan bagi para profesional yang selama ini telah bekerja tetapi belum menyelesaikan pendidikan sarjana melalui program RPL.

Program ini memberi ruang bagi pengalaman dan kompetensi yang telah diperoleh seseorang melalui pekerjaan, pelatihan maupun sertifikasi untuk dinilai dan dikonversikan menjadi capaian pembelajaran sesuai ketentuan akademik.

Kesempatan tersebut menjadi kabar baik bagi insan media yang selama bertahun-tahun telah berkecimpung di dunia jurnalistik dan komunikasi, namun masih memiliki keinginan melanjutkan pendidikan ke jenjang S1.

“Teman-teman media yang belum menyelesaikan S1 bisa memanfaatkan program ini. Pengalaman dan kompetensi yang sudah dimiliki dapat dinilai dan dikonversikan sesuai ketentuan, sehingga masa studi bisa lebih cepat,” jelas Saurma.

Sementara itu, Dekan Fakultas Komunikasi dan Ilmu Sosial USM Indonesia, Heri Enjang Syahputra, SE, M.Ak mengatakan, fakultas terus memperkuat perannya dalam menyiapkan lulusan yang mampu beradaptasi dengan perkembangan dunia digital.

Selain Program Studi Ilmu Komunikasi yang telah terakreditasi Unggul, Fakultas Komunikasi dan Ilmu Sosial juga menaungi Program Studi Perpustakaan dan Sains Informasi yang telah terakreditasi Baik Sekali.

Heri menilai kedua program studi memiliki prospek luas karena kebutuhan terhadap tenaga profesional di bidang komunikasi, media, public relations, pengelolaan informasi, literasi dan teknologi digital terus berkembang.

“Program Studi Perpustakaan & Sains Informasi USM Indonesia memiliki keunggulan tersendiri karena merupakan satu-satunya Prodi Perpustakaan di perguruan tinggi swasta di Sumatera Utara. Sementara Prodi Ilmu Komunikasi terus berkembang menjawab kebutuhan dunia kerja di bidang komunikasi, media, public relations, dan komunikasi digital,” ujarnya. (*)

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER