BerandaSumatera PulihRehabilitasi SMAN 2 Meureudu Pidie Jaya: Kami Bangkit Lebih Kuat

Rehabilitasi SMAN 2 Meureudu Pidie Jaya: Kami Bangkit Lebih Kuat

Pidie Jaya (Waspada Aceh) – Setelah bangunan sekolah SMAN 2 Meuredu, Pidie Jaya, Aceh, dibangun kembali pasca tertimbun tanah 2-3 meter akibat bencana banjir dan longsor, guru hingga murid kini memilih bangkit kembali. Mereka memilih bangkit lebih kuat pascabencana yang menghancurkan berbagai fasilitas sekolah.

“Alhamdulillah, di balik semua ujian ini, ada hikmah yang kami ambil. Walaupun untuk menuju ke sini ada air mata, sekarang kami mulai melihat cahaya di ujung terowongan,” ujar Cut Salmina, guru SMAN 2 Meureudu, Pidie Jaya, Aceh, dengan suara penuh keyakinan. Baginya, perjalanan 11 bulan terakhir adalah perjuangan panjang yang tak akan mudah dilupakan.

Banjir bandang akhir 2025 lalu mengubah wajah sekolah ini seketika. Tanah setinggi dua hingga tiga meter menimbun seluruh ruangan, menelan meja, kursi, buku, dan peralatan belajar. Tidak ada satu ruangan pun yang tersisa untuk digunakan. “Semuanya terkubur, seakan-akan sekolah ini tak pernah ada,” kenang Cut Salmina, di minggu ketiga Oktober 2026.


Cut Salmina, guru SMAN 2 Meureudu, berdiri di depan gedung baru SMAN 2 Meuredu Pidie Jaya. (Foto: Tim Media Satgas PRR)

Namun semangat Cut Salmina tak ikut tertimbun. Selama berbulan-bulan, guru dan siswa belajar di mana saja. Di bawah pohon, di bawah tenda, di ruang kantor yang masih bisa dipakai, bahkan di atas terpal di halaman sekolah.

Saat matahari meninggi, terasa panas membakar kulit. Saat hujan turun, air kembali menggenangi tempat mereka belajar. Muhammad Putra Ananda, siswa kelas dua, mengakui masih ada rasa takut itu:

“Saya masih trauma kalau hujan turun deras, takut air naik lagi ke sekolah,” kenangnya. Namun harapannya jauh lebih besar dari rasa takutnya itu.

Dari Tenda ke Ruang Kelas Baru

Kini, pemandangan itu perlahan berubah. Di atas tanah yang dulu tertimbun, bangunan baru berdiri tegak berwarna putih dan abu-abu. Ruang kelas, kantor, laboratorium komputer, perpustakaan, hingga musala baru mulai rampung.

Pekerja sibuk melakukan pengecatan akhir dan pemasangan perlengkapan. Anggaran revitalisasi tahun 2025 senilai Rp1,8 miliar sempat terhenti di 70 persen. Namun bantuan baru tahun 2026 sebesar Rp7,9 miliar dari Kemendikdasmen yang dikerjakan oleh TNI AD memutar kembali roda harapan para siswa dan guru. Pekerjaan dimulai sekitar Juni–Juli 2026 dan ditargetkan selesai November 2026.

Hamdani, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, menyebut ini keajaiban nyata. “Seakan menyesakkan dada melihat sekolah terkubur sedalam itu. Tapi dengan dukungan pemerintah dan semangat bersama, mimpi itu kini berdiri di depan mata kita,” ucapnya.

Pembangunan SMAN 2 Meureudu adalah bagian dari visi besar pemerintah dalam Rencana Induk Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (Renduk PRR) Sumatera. Berdasarkan koordinasi Satgas PRR bersama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), alokasi total anggaran untuk sektor ini mencapai sekitar Rp4,65 triliun hingga Rp5 triliun untuk memulihkan 4.922 sekolah terdampak bencana di tiga provinsi, Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera, (Satgas PRR), Muhammad Tito Karnavian, menegaskan prinsip utamanya: “Kita tidak sekadar membangun kembali seperti semula, tetapi membangun kembali dengan lebih baik, lebih aman, dan lebih berkelanjutan,” tegas Tito.

Lima pilar utama pemulihan pendidikan berjalan beriringan: rekonstruksi fisik tahan bencana senilai Rp3,03 triliun untuk 3.132 sekolah, dukungan kesejahteraan dan pendampingan psikososial bagi 90.962 guru senilai Rp122,95 miliar, penyaluran sarana belajar Rp786,43 miliar, bantuan operasional sekolah darurat, serta relokasi sekolah dari zona berbahaya.

Punya Harapan Kuat

Bagi Cut Salmina, gedung baru ini bukan sekadar tembok dan atap. “Kami ingin bangkit lebih baik dari sebelumnya. Bukan hanya sekolah yang kembali berdiri, tetapi semangat belajar anak-anak kami yang harus tumbuh lebih kuat dari bencana itu sendiri,” ucapnya tegas.

Muhammad Putra Ananda tersenyum melihat kelas baru yang hampir selesai. “Tak lama lagi saya tak perlu lagi belajar kepanasan di tenda. Saya akan punya meja, kursi, dan ruangan yang nyaman. Sekolah kami kembali utuh,” katanya penuh harap.

Siswa lainnya, Lutfiani dan Rini Indzira pun berdoa yang sama: semoga sekolah baru ini tak hanya tempat belajar, tapi juga tempat yang aman, damai, dan bebas dari ketakutan akan bencana.

Keduanya mengaku senang melihat sekolah baru. “Semoga cepat selesai, semoga kami bisa menempati, bisa belajar di sana kayak dulu. Harapannya dengan ada gedung sekolah baru bisa belajar dengan baik lagi. Lebih nyaman, aman, dan damai gitu,” harap Lutfiani.

Di halaman sekolah yang kini bersih dari lumpur, deretan bangunan baru berdiri gagah. SMAN 2 Meureudu telah bangkit, bukan hanya pulih, tetapi lebih kuat dari sebelumnya.

Target Revitalisasi Sekolah di Renduk PRRP Sumatera

Berdasarkan dokumen Rencana Induk Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (Renduk PRRP) Sumatera, target revitalisasi itu mencakup sekolah, madrasah, pesantren, dan satuan pendidikan keagamaan.

Program ini diarahkan untuk memulihkan fasilitas pendidikan yang mengalami kerusakan akibat bencana. Perbaikan mencakup satuan pendidikan dengan tingkat kerusakan ringan, sedang, hingga berat, sehingga layanan pendidikan dapat kembali berjalan secara optimal.

Selain memperbaiki bangunan sekolah, pemerintah juga merencanakan penyediaan 2.297 unit sekolah darurat berupa ruang kelas semi permanen. Penyediaan fasilitas sementara tersebut diperlukan untuk menjaga keberlangsungan kegiatan belajar mengajar selama proses rehabilitasi dan rekonstruksi bangunan sekolah berlangsung.

Renduk PRRP Sumatera juga mencatat rencana penyediaan 117.495 paket perlengkapan belajar bagi siswa terdampak. Bantuan itu terdiri dari buku, alat tulis, tas, sepatu, dan seragam.

Pemerintah juga merencanakan pemberian tunjangan khusus bagi 110.852 pendidik dan tenaga kependidikan terdampak bencana.

Dibangun atau Direlokasi

Dalam strategi rehabilitasi dan rekonstruksi sektor pendidikan, Renduk PRRP Sumatera mengarahkan pembangunan unit sekolah baru maupun relokasi bagi satuan pendidikan yang mengalami kerusakan total. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan fasilitas pendidikan tidak hanya kembali berfungsi, tetapi juga lebih aman menghadapi potensi bencana di masa mendatang.

Aspek mitigasi turut menjadi perhatian melalui pengembangan dan penguatan Program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB). Program ini diharapkan membangun sistem pendidikan yang lebih siap menghadapi situasi darurat dan mampu menjaga keberlangsungan pembelajaran ketika bencana terjadi.

Dengan demikian, pemulihan sektor pendidikan pascabencana Sumatera tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik sekolah. Dukungan terhadap siswa dan tenaga pendidik, pemulihan psikososial, serta penguatan kesiapsiagaan juga menjadi bagian dari agenda rehabilitasi dan rekonstruksi.

Seluruh target tersebut tertuang dalam Renduk PRRP Sumatera 2026–2028 dan menjadi acuan rencana aksi kementerian/lembaga dalam pemulihan wilayah terdampak. Angka-angka tersebut merupakan sasaran perencanaan, bukan capaian realisasi pekerjaan. (*)

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER