Beranda Suara DPRK Aceh Besar Refleksi Hari Kartini, Eka Rizkina: Perempuan Punya Peran Besar dalam Pembangunan

Refleksi Hari Kartini, Eka Rizkina: Perempuan Punya Peran Besar dalam Pembangunan

BERBAGI
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Besar, Eka Rizkina, S.Pd. (Foto/Kia Rukiah)

Jantho (Waspada Aceh) – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Besar, Eka Rizkina mengatakan, jika dilihat dari perjuangan R.A. Kartini dalam konteks kekinian, maka kaum perempuan harus memiliki peran besar pada pembangunan.

“Perempuan punya peran besar dalam pembangunan, terutama pembangunan dari segi karakter manusia. Karena kita ketahui, apabila baik perempuan di suatu negara, maka baiklah negara itu,” kata Eka dalam wawancara khusus dengan Waspadaaceh.com, di Jantho, Senin (19/4/2021).

Dia mengatakan, jika menginginkan hasil yang baik pada suatu pembangunan, maka harus memperhatikan peran serta kaum perempuan.

Satu-satunya perempuan yang duduk di legislatif Aceh Besar ini juga mengajak semua pihak memulai dari membangun sumber daya manusianya (SDM). Di mana untuk menciptakan SDM yang unggul itu dimulai dari seorang perempuan, ujarnya.

Wakil Ketua Komisi V DPRK Aceh Besar ini menyebutkan, untuk mendapatkan SDM yang unggul maka perempuan harus memperjuangkan pendidikan terbaik. Jika pendidikan sudah dicapai maka akan melahirkan generasi-generasi yang cemerlang, tambahnya.

Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini kemudian mengutip suatu kata-kata bijak, bahwa “Ibu adalah madrasah yang pertama bagi anak-anaknya”.

Selain itu, kata Eka, terkait masalah kesehatan. Masalah kesehatan, menurutnya, juga tidak kalah penting, karena dalam tubuh yang sehat akan lahir jiwa yang sehat juga.

Terkait peringatan Hari Kartini pada 21 April, menurutnya, untuk membangkitkan semangat kaum perempuan zaman sekarang. Bagaimana R.A Kartini bisa memperoleh pendidikan serta bagaimana melalui  pendidikan yang dia dapatkan bisa mengangkat derajat kaum perempuan, ujar Eka.

“Jadi kita harus meneladani sosok R.A Kartini yang intelektual dan semangatnya dalam berjuang, agar perempuan milenial sekarang punya potensi besar dalam membangun bangsa. Baik itu dalam lingkup pemerintahan maupun di luar pemerintah,” tuturnya.

Dia berharap untuk mengimbangi globalisasi, seorang perempuan harus berinovasi, harus cerdas serta harus cakap dalam pendidikan.

“Harapan kita kepada perempuan zaman sekarang, teruskan apa yang dirasa baik dan teruslah belajar, walaupun itu di luar sekolah sekalipun. Karena perempuan yang cakap di masa yang akan datang adalah perempuan yang mau berlelah-lelah dalam menuntut ilmu,” tutupnya.

Perempuan Aceh Sejak Dahulu Berjuang

Eka Rizkina menyebutkan, bila dilihat dari konteks Aceh sendiri, sebenarnya tidak asing dengan nama perempuan-perempuan Aceh yang berjuang untuk rakyat Aceh bahkan Nusantara.

Dia menyebut nama-nama pahlawan perempuan di Aceh yang perannya sudah dikenal sejak dahulu, seperti Cut Nyak Dien, Cut Meutia, Ratu Safiatuddin dan Laksamana Malahayati. Mereka merupakan pejuang dan pahlawan di Aceh yang bisa dijadikan sebagai contoh dan teladan bagi perempuan masa kini.

Di mana seorang perempuan juga sebenarnya bisa berkiprah di bidang yang dianggap tidak bisa. Jadi mereka para perempuan pejuang di Aceh membuktikan kepada generasi muda bahwa perempuan Aceh bisa berkiprah di mana pun untuk bangsanya.

“Apalagi dengan kecangihan teknologi sekarang, seharusnya peran perempuan itu lebih besar. Jadi mari sekarang pontensi yang ada pada kita sendiri harus dimaksimalkan sehingga keberadaan perempuan di Aceh, khususnya di Aceh Besar, bisa dirasakan oleh masyarakat,” kata Eka. (Kia Rukiah)