BerandaLaporan KhususMenjaga Mangrove Lampulo di Tengah Dampak El Nino

Menjaga Mangrove Lampulo di Tengah Dampak El Nino

“Sekitar 60 persen bibit mangrove di Mangrove Park Lampulo, Banda Aceh, mati akibat panas dan kekeringan”

Satu per satu propagul mangrove dikumpulkan dan diperiksa. Propagul merupakan bagian dari tanaman mangrove yang telah berkecambah dan dapat tumbuh menjadi tanaman baru.

Di tangan Fikri, pengurus Pemuda Peduli Mangrove Kutaraja (Pemangku), calon bibit itu dipilah, mana yang masih layak ditanam dan mana yang harus disisihkan.

Fikri merupakan salah satu pemuda yang aktif dalam kegiatan konservasi dan edukasi lingkungan di Mangrove Park Lampulo, Banda Aceh. Bersama anggota PEMANGKU lainnya, ia terlibat dalam berbagai kegiatan, mulai dari mencari dan menyortir propagul, menanam mangrove, merawat bibit, hingga memantau pertumbuhannya.

Aktivitas itu dilakukan di Mangrove Park Lampulo, kawasan konservasi, edukasi dan ekowisata pesisir yang berada di kawasan Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Kutaraja, Gampong Lampulo, Kecamatan Kuta Alam, Kota Banda Aceh, Aceh. Di tengah panas yang menyengat kawasan pesisir Lampulo, kegiatan tersebut terus berjalan.

Propagul yang masih sehat dikumpulkan untuk dipersiapkan menjadi bibit. Sementara propagul yang rusak atau tidak lagi memiliki peluang tumbuh dipisahkan.

Bagi Pemangku, proses itu merupakan bagian dari upaya menjaga regenerasi mangrove. Sebab, pekerjaan konservasi tidak berhenti setelah bibit ditanam. Bibit harus dipantau. Ketika kekurangan air, tanaman harus disiram. Jika mati, penanaman kembali dilakukan.

Persoalan itu semakin terasa dalam beberapa bulan terakhir. Cuaca panas dan kondisi kering membuat sejumlah bibit mangrove kesulitan bertahan.Mangrove Park Lampulo memiliki karakter yang berbeda dengan hutan mangrove alami yang langsung berhadapan dengan laut.

Air pasang tidak langsung masuk ke area mangrove. Air terlebih dahulu mengalir melalui saluran menuju kolam. Setelah kolam terisi, air kemudian masuk ke kawasan penanaman.

Kondisi tersebut membuat air pasang yang rendah tidak selalu mampu menjangkau seluruh kawasan mangrove.

“Memang di awal-awal beberapa bulan terakhir lumayan panas. Jadi banyak juga yang mati, bibit yang kita tanam,” kata Fikri, saat ditemui, Minggu (30/8/2026).

Menurut Fikri, kondisi panas dan minimnya air pasang kemungkinan turut dipengaruhi fenomena El Nino.

Ketika air pasang tidak cukup, pengelola tidak bisa hanya menunggu. Penyiraman dilakukan secara manual untuk membantu bibit yang masih bertahan.

Fikri menunjukkan bibit mangrove yang mati akibat panas dan kekeringan di Mangrove Park Lampulo, Banda Aceh, Minggu (30/8/2026). Sekitar 60 persen bibit disebut mati. (Foto/Cut Nauval D)

60 Persen Bibit Mati

Dampak kekeringan paling terasa pada bibit-bibit yang masih muda. Fikri memperkirakan sekitar 60 persen bibit yang ditanam pada periode akhir tahun lalu hingga awal tahun ini mati selama masa kekeringan.

Padahal, secara keseluruhan sekitar 130 ribu mangrove telah ditanam secara bertahap di kawasan tersebut. Kematian bibit tidak membuat aktivitas penanaman berhenti.

Pengelola melakukan replanting atau penanaman kembali. Bibit yang mati diganti dengan tanaman baru, sementara tanaman yang masih hidup terus dipantau.

“Terpaksa kami harus menyiram manual juga,” ujar Fikri.

Ciri bibit yang mengalami kekurangan air dapat dilihat dari kondisi fisiknya. Tanaman mulai layu dan menunjukkan tanda-tanda kekeringan.

Tidak semua jenis mangrove memiliki kemampuan tumbuh yang sama. Jenis Avicennia dan Rhizophora relatif lebih banyak tumbuh di kawasan tersebut. Sementara Xylocarpus dan Sonneratia disebut lebih sulit berkembang.

Kondisi tanah yang terdiri atas pasir dan lumpur, ditambah pola air pasang yang tidak selalu mencapai kawasan, menjadi salah satu tantangan pertumbuhan.

Fikri menggantung botol berisi air untuk tempat minum burung di Mangrove Park Lampulo, Banda Aceh, Minggu (30/8/2026) (Foto/Cut Nauval D).

Bagi pengelola, tanaman yang berhasil tumbuh nantinya diharapkan menjadi indukan yang dapat menghasilkan propagul baru. Dengan begitu, regenerasi mangrove tidak hanya bergantung pada bibit yang didatangkan dari luar kawasan.

Mangrove Park Lampulo memiliki luas sekitar 11 hektare. Kawasan tersebut tidak hanya menjadi tempat menanam mangrove, tetapi juga mulai menjadi ruang hidup bagi berbagai jenis satwa.

Burung-burung kecil mulai kembali terlihat. Beberapa jenis burung berukuran lebih besar juga mulai datang. Kehadiran satwa tersebut menjadi salah satu hal yang diperhatikan pengelola. Sebab, bagi mereka, pemulihan mangrove juga harus diikuti dengan kembalinya kehidupan lain di dalam ekosistem.

Namun, ada persoalan lain. Kawasan tersebut tidak memiliki sumber air tawar yang cukup. Pengelola kemudian menyediakan tempat minum untuk burung.

“Kita buat tempat minum burung karena di sini air tawarnya tidak ada,” kata Fikri.

Upaya itu diharapkan membuat kawasan semakin nyaman bagi burung dan satwa lainnya. Pemangku juga ingin mengembangkan program pengenalan burung dan edukasi mengenai keanekaragaman hayati di kawasan tersebut.

Keberadaan berbagai jenis mangrove juga dinilai membantu menjaga keseimbangan ekosistem. Hama seperti penggerek batang, kutu dan ulat tetap ditemukan. Namun, menurut Fikri, intensitas serangannya relatif lebih rendah karena tanaman yang tumbuh tidak hanya terdiri dari satu jenis.

Keberadaan burung juga dapat membantu mengendalikan sebagian hama dengan memangsa ulat dan serangga di sekitar tanaman.

Mangrove di Tengah Pembangunan

Tantangan bagi mangrove Lampulo tidak hanya datang dari cuaca. Pertumbuhan permukiman dan pembangunan properti di sekitar kawasan pesisir juga menjadi kekhawatiran bagi pengelola.

Fikri melihat ruang bagi mangrove semakin terbatas seiring perkembangan pembangunan.  Ia khawatir kawasan mangrove yang tersisa di sekitar Banda Aceh akan semakin sedikit dalam beberapa puluh tahun mendatang.

“Kita khawatir 20–30 tahun mungkin cuma di sini saja yang ada mangrove ini. Karena di sekitar sini sudah banyak pembangunan,” katanya.

Karena itu, keberadaan Mangrove Park Lampulo dianggap penting untuk dipertahankan. Kawasan tersebut bukan hanya berfungsi sebagai ruang terbuka hijau, tetapi juga menjadi tempat tumbuh berbagai jenis mangrove dan ruang hidup bagi satwa.

Ingin Jadi Pusat Edukasi

Fikri berharap Mangrove Park Lampulo tidak hanya dikenal sebagai tempat wisata. Ia ingin kawasan itu berkembang menjadi pusat riset dan edukasi mangrove.

Masyarakat, pelajar, mahasiswa maupun pengunjung dapat datang untuk mengenal mangrove sekaligus mempelajari burung dan keanekaragaman hayati yang ada di kawasan tersebut.

“Harapan saya ini jadi pusat riset dan edukasi mangrove. Semua kalangan bisa belajar di sini,” ujarnya.

Bagi Pemangku, menjaga mangrove berarti menjaga lebih dari sekadar pohon. Ada propagul yang harus dicari dan disortir. Ada bibit yang harus ditanam dan dirawat. Ada tanaman yang harus disiram ketika air pasang tak cukup mencapai kawasan.

Dan ketika sebagian bibit mati, penanaman kembali dilakukan. Siklus itu terus berjalan di Lampulo. Di tengah panas dan kekeringan, para pemuda tersebut tetap mencari propagul dan menanamnya kembali.

Satu demi satu bibit diharapkan tumbuh menjadi mangrove yang kelak membentuk hutan pesisir. Dari tanaman-tanaman kecil itulah, mereka berharap ruang hidup bagi burung, satwa, dan masyarakat pesisir tetap terjaga di tengah perkembangan Kota Banda Aceh. (*)

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER