Senin, Mei 27, 2024
Google search engine
BerandaLaporan KhususMelihat Konflik Buaya-Masyarakat di Singkil, Ini Daftar Korbannya

Melihat Konflik Buaya-Masyarakat di Singkil, Ini Daftar Korbannya

“Dari data yang dihimpun, konflik antara buaya dengan nelayan Aceh Singkil sejak beberapa tahun terakhir, mengakibatkan korban 12 orang, dengan rincian lima orang tewas dan tujuh orang selamat”

—————

Sebagian besar masyarakat Aceh Singkil menggantungkan hidupnya dari hasil sungai dan laut. Tetapi sejak beberapa tahun terakhir, kawasan perairan tersebut dikuasai oleh reptil ganas, yakni buaya, yang hingga kini tak terhitung jumlahnya. Korban jiwa pun berjatuhan.

Semakin mengganasnya buaya, masyarakat di Kecamatan Singkil, Kuala Baru, Pulau Banyak dan Pulau Banyak Barat (PBB), menjadi ketakutan saat mencari nafkah di sungai maupun di laut, untuk memenuhi kebutuhan keluarganya sehari-hari.

Kini buaya yang menjadi penghuni perairan tersebut yang sewaktu-waktu siap menerkam dan merenggut nyawa mereka. “Ibarat memakan buah Simalakama, di makan mati bapak, tak dimakan mati emak,” istilah yang sering diucapkan para nelayan di Aceh Singkil. Mereka yang hendak mencari nafkah turun ke air, harus siap mempertaruhkan nyawanya, demi memenuhi kebutuhan hidup keluarga.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Waspadaaceh.com, kawasan muara Sungai Singkil merupakan habitat utama buaya muara di pesisir selatan Ekosistem Leuser. Diperkirakan satwa liar yang juga dilindungi tersebut, telah mendiami daerah rawa itu sejak 2006. Lokasi sungai dan rawa tersebut juga menjadi sumber utama mata pencaharian masyarakat nelayan yang mencari ikan dan lokan.

Diperkirakan, populasi buaya ini mulai meningkat akibat maraknya perburuan biawak yang dibawa ke Pulau Nias, Sumatera Utara. Sebab biawak adalah reptil pemakan telur-telur buaya yang dapat mengurangi perkembangbiakan predator air tersebut. Selain mulai terganggu, pakan buaya muara di sungai juga mulai berkurang sehingga mereka menyerang manusia.

Berita Terkait: Lagi, Korban Tewas Diterkam Buaya Laut di Pulau Banyak Barat

Dari data yang dihimpun, konflik antara buaya dengan nelayan Aceh Singkil sejak beberapa tahun terakhir, mengakibatkan korban 12 orang, dengan rincian lima orang tewas dan tujuh orang selamat.

Peristiwa terakhir terjadi Rabu, 17 Februari 202. Korbannya, Sojinema Zega, 36, tewas digigit buaya tepat di bagian wajah, leher dan tangan. Korban ketika itu sedang berenang dan menyelam, mencari ikan dan teripang di kawasan perairan Pulau Pandan Kecamatan Pulau Banyak Barat (PBB) Kabupaten Aceh Singkil.

Merunut peristiwa 2015 silam, seorang penyelam lokan lainnya, Yusril, 42, warga Desa Siti Ambia Kecamatan Singkil, juga meninggal dunia dengan kondisi mengenaskan tanpa meninggalkan jasad. Saat dilakukan penyisiran lokasi, terlihat buaya berkumpul, di kawasan perairan Sungai Singkil Lama. Masyarakat hanya menemukan bagian organ tubuh usus dan paru-paru korban.

Berita Terkait: Kepala Digigit Buaya, Nelayan Tripang Selamat

Sementara saksi mata yang melihat langsung dari kejauhan, menyatakan jasad korban sudah hancur dan menjadi santapan buaya, yang terlihat saling berebutan mangsanya. Warga desa yang kemudian berhasil menangkap seekor buaya, sempat mengarak buaya tersebut ke halaman kantor bupati setempat.

Warga pun terus memburu buaya-buaya di Sungai Singkil untuk mencari jasad kerabatnya itu. Setidaknya, terhitung ada lima ekor buaya yang berhasil ditangkap. Dua di antaranya perutnya dibelah, untuk mencari jasad korban yang tewas dan berhasil mendapat hati dan jantung korban. Sementara tiga lagi dievakuasi pihak BKSDA ke kawasan penangkaran di Banda Aceh.

Sebelumnya, berdasarkan informasi yang diperoleh Waspadaaceh.com, sekitar tahun 2007 seorang ibu warga Desa Takal Pasir DAS Kecamatan Singkil, Ijah, saat mencari lokan di Sungai Singkil ditemukan dalam kondisi sudah mengambang di sungai.

Berita Terkait: Cegah Jatuhnya Korban, Kodim Aceh Jaya Pasang Peringatan Serangan Buaya Liar

Korban mengalami luka serius pada bagian kepala koyak dan tangan patah. Lantas masyarakat menangkap buaya tersebut dengan bantuan pawang buaya dari desa setempat.

“Peristiwa itu sudah lama kali, 2007 lalu. Buayanya berhasil ditangkap dan sempat dibawa ke kantor bupati juga,” kata salah seorang penyelam lokan, Fajar, kerabat korban kepada Waspadaaceh.com.

Tahun berikutnya, 2016, seorang warga Desa Asantola Kecamatan Pulau Banyak Barat (PBB) Aceh Singkil, Yamonaha Kulo, 25, juga ditemukan tewas setelah diterkam buaya saat menyelam mencari ikan di laut pada 30 November 2016. Korban menyelam di laut bersama dua rekannya yang selamat, Ama Selvi, 27, dan Ama Jefi, 38.

Jasad korban ditemukan di daratan rawa Pulo Matahari dengan jarak sekitar 45 menit perjalanan dengan menggunakan perahu nelayan dari lokasi kejadian. Saat ditemukan, kedua tangan korban dan paha sebelah kiri telah hilang dimakan buaya.

Tiga bulan sebelum, peristiwa sama terjadi. Dilaporkan seorang warga Desa Haloban PBB, Rian, juga sempat diterkam buaya. Namun korban hanya mengalami luka-luka dan berhasil menyelamatkan diri.

Sebelumnya masih ditahun yang sama dan di bulan yang sama, kakek Usulludin, 69, penduduk Desa Kuala Baru Sungai, Kecamatan Kuala Baru, Kabupaten Aceh Singkil, sempat bertarung satu lawan satu dengan buaya muara sungai yang terkenal ganas.

Kejadiannya pada 15 November 2016, saat korban hendak buang hajat di tepi sungai. Kakek Usulludin digigit buaya persis di bagian paha sebelah kanan. Lantas sang kakek langsung membuka mulut buaya dan memukulinya dengan handuk, hingga lepas dari cengkraman predator sungai yang panjangnya 3 meter tersebut.

Berikutnya 20 Oktober 2017, seorang warga Dusun 2 Desa Ujung Sialit Yanuar alias Ama Ewi, 36, bersama seorang rekannya, sempat berduel dengan buaya lapar di kawasan perairan Pulau Matahari. Korban mengalami luka di bagian pinggang, punggung dan tangan nyaris putus.

Di hari yang sama, satu jam sebelum peristiwa itu, Kristianto Zai, 15, juga mengalami serangan buaya di lokasi yang sama. Korban sempat mengalami luka-luka. Kedua korban berhasil melepaskan diri dari mangsa buaya meski mengalami luka-luka.

Sementara korban yang tewas lainnya, pada 2018, Ereanus Telaumbanua, 25. Korban warga Desa Suka Makmur PBB ini ditemukan tewas setelah dimangsa buaya, saat mencari tripang di laut. Jasadnya ditemukan pada 28 Februari 2018 dengan kondisi tersangkut di batang pohon di perairan Kuala Hoya, Desa Suka Makmur, Kecamatan Pulau Banyak Barat.

Kemudian, Yasoziduhu Zega, 45, nelayan Desa Kecamatan PBB, Aceh Singkil, nyaris kehilangan nyawa saat seekor buaya laut menyerang. Zega yang sedang menyelam mencari teripang di perairan Pulau Inasuri Pulau Banyak, Jumat (7/12/2018), tiba-tiba mendapat serangan dari buaya ganas tersebut.

Namun Zega berusaha melawan dengan menombaki buaya tersebut dan berteriak meminta tolong kepada rekan-rakannya yang ikut membantu menyerang buaya dengan tombak.

Kemudian pada 9 Oktober 2018, Ama Tebi, nelayan Ujung Sialit juga nyaris menjadi santapan buaya air asin. Korban yang diterkam persis pada bagian kepala berhasil selamat setelah 3 rekannya yang langsung menyerang buaya dengan hunusan tombak.

Korban mendapat serangan buaya saat sedang menyelam mencari ikan di dasar laut di kawasan sekitar Pulau Matahari.
Kemudian korban selamat lainnya, Antonius Ingatan Gulo, 24, nelayan Desa Asantola, Kecamatan PBB, Aceh Singkil.

Korban juga diserang buaya ketika sedang menyelam di kawasan Pulau Busung, Desa Haloban, Senin (13/1/2020), sekitar pukul 22.00 WIB malam. Masih bernasib baik, korban berhasil lolos setelah bertarung dengan buaya meski kepalanya sempat digigit dan diputar-putar predator di dasar air.

Sementara itu, sumber data dari BKSDA seksi Konservasi Wilayah 2 Subulussalam Resort 15 Tapaktuan melaporkan, seekor buaya sepanjang 2,5 meter juga sempat memangsa ternak bebek milik warga di Desa Suka Makmur Kecamatan Singkil, pada April 2019.

Sebelum memangsa ternak warga, masyarakat sempat melihat penampakan buaya kecil itu yang mengintai warga saat sedang mandi di sungai beberapa hari sebelumnya.

Pada 15 April 2019, BKSDA Aceh Resort 18 Singkil telah berhasil menangkap buaya tersebut dan dievakuasi ke kantor BKSDA Aceh di Banda Aceh.

Di samping itu dilaporkan, buaya juga sudah masuk ke kawasan Desa Gosong Telaga Kecamatan Singkil Utara. Warga bersama petugas patroli melihat langsung buaya di pinggir parit. Buaya tersebut sudah masuk jaring nelayan dan diserahkan ke BKSDA Resort 18 Singkil.

Sebelum tragedi yang menimbulkan korban tewas terakhir di PBB, Tim BKSDA Aceh dan Resor 19 Pulau Banyak, berdasarkan laporan masyarakat, telah berhasil menangkap seekor buaya yang terlihat sering berkeliaran di sekitar pemukiman warga, pada 26 November 2020.

Kepala BKSDA Wilayah Resort-19, Muhammad Yusuf, terkait konflik satwa liar tersebut, Sabtu (20/2/2021) mengatakan, pihaknya terus memberikan imbauan kepada masyarakat agar tidak menyelam mencari ikan dan tripang pada malam hari di pulau-pulau yang rawan kawasan habitat buaya.

BKSDA juga telah memasang papan imbauan di beberapa titik di pulau-pulau yang menjadi lokasi habitat satwa liar tersebut. Termasuk di Pulau Matahari yang sudah banyak warga menjadi korban meski banyak yang selamat.

Namun mereka tetap saja menyelam pada malam hari. Sebab buaya mulai beraktivitas pada malam hari, terang Yusuf.

Berikut data korban tewas karena serangan buaya muara di Aceh Singkil.

1.Sojinema Zega (36) warga PBB
2.Yusril (43) warga Desa Siti Ambia Singkil
3.Ijah warga Desa Siti Ambia Singkil
4.Yamonaha Kulo (25) warga Desa Asantola
5.Ereanus Telaumbanua (25) warga Desa Suka Makmur Kec. PBB
Data korban selamat:
1. Rian warga Desa Haloban Kec. PBB
2. Usulludin (69) warga Desa Kuala Baru Sungai Kec. Kuala Baru
3.Yasoziduhu Zega (45), Warga Desa Ujung Sialit Kec. PBB
4.Ama Tebi, warga Desa Ujung Sialit PBB
5.Antonius Ingatan Gulo (24) Desa Asantola
6.Yanuar alias Ama Ewi (36) Desa Ujung Sialit PBB
7.Kristianto Zai (15) Desa Ujung Sialit

(Arief)

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER