Jumat, Mei 24, 2024
Google search engine
BerandaOpiniLintas Perjuangan Cut Nyak Meutia, Sosok Pejuang Wanita Aceh

Lintas Perjuangan Cut Nyak Meutia, Sosok Pejuang Wanita Aceh

Lintas Perjuangan Cut Nyak Meutia, Sosok Pejuang Wanita Aceh

(Reviu Buku)

 

Identitas Buku

Judul                : Lintas Perjuangan Cut Nyak                                    Meutia, Sosok Pejuang Wanita                                Aceh

Penulis            : Zakaria Ahmad, dkk

Editor              : Zakaria Ahmad & Bachtiar Td.                                 Joesoef

Penerbit           : Yayasan PeNA Banda Aceh,                                    Divisi Penerbitan.

Tgk Chik Ditiro, Kp Baru, Depan Mesjid Raya Baiturrahman

Tebal Buku      : 134 Halaman

Negara             : Indonesia

Bahasa             : Indonesia

Cetakan            : Pertama

Tahun Terbit     : Oktober 2007

Ukuran               : 14.5 x 21 cm

ISBN                   : ISBN 978-979-1016-08-7

IKAPI                   : Anggota No:005/DIA/003

Catatan Penerbit

Buku ini merupakan cetakan ulang yang pernah diterbitkan oleh Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional (IDSN) tahun 1981. Berhubung banyak sekali diminati oleh masyarakat luas dan sangat sulit memperoleh buku tersebut, maka penerbit PeNA atas izin pengarang telah dapat menerbitkan kembali dan tentunya dengan berbagai perbaikan dan penambahan seperlunya.

Pasca Tsunami tanggal 26 Desember 2004 telah banyak kehilangan data sejarah Aceh sehingga sangat sulit diperoleh data tertulis tentang biografi pahlawan seperti Cut Nyak Meutia, Cut Nyak Dhien, Keumalahayati dan lainnya. Berdasarkan hal tersebut Penerbit PeNA sangat bangga untuk menerbitkan buku tentang sepak terjang salah seorang pahlawan Aceh yang juga telah diangkat sebagai Pahlawan Nasional berdasarkan Keputusan Presiden nomor 107 tanggal 2 Mei 1964.

Berdasarkan keterangan di atas kami sangat mengharapkan kepada pembaca untuk mengkritisi buku ini yang tentunya untuk dapat kami perbaiki dimasa yang akan datang. Kepada pnulis yang telah dapat menyelesaikan buku ini kami sampaikan penghargaan dan kiranya terus dapat meluangkan waktu untuk dapat menulis beberapa biografi dan sejarah Aceh untuk dapat diketahui oleh masyarakat luas. Amin.

Isi Buku

Cut Nyak Meutia, demikian nama lengkap Serikandi Aceh yang ditetapkan oleh Pemerintah Republik Indonesia sebagai salah seorang Pahlawan Nasional atas jasa-jasanya yang tidak ternilai dengan Surat Keputusan Presiden Tanggal 2 Mei 1964, Nomor 107. Meutia dalam bahasa Indonesia bermakna ‘mutiara”, yaitu batu permata yang cukup cemerlang yang bernilai tinggi. Pemberian nama tersebut oleh orang tua beliau merupakan doa agar anaknya dalam perjalanan hidupnya menjadi puteri yang cemerlang ditengah-tengah masyarakat.

“Cut Nyak” sendiri merupakan gelar kebangsawanan yang menjadi gelar kebangsawanan lebih tinggi dari gelar “Cut” yang diberikan kepada anak bangsawan dan merupakan gelar kebangsawanan yang sangat diperlukan dan dijaga dalam tindak tanduk serta tingkah laku sehari-hari sebagai orang yang dihormati. Di samping itu, sebagai Pahlawan Nasional, beberapa lembaga sosial, nama-nama jalan, rumah sakit, rumah ibadat, asrama pelajar dan lainnya telah diabadikan pula nama beliau di dalamnya.

Tidak dapat dipungkiri, peran wanita selama perang kolonial Belanda di Aceh (1873-1942), peranan para wanita telah turut menentukan lamanya keberlangsungan perang tersebut. Mereka tidak saja sabagai pemain yang pasif dibalik layar, sebagai penyiap makanan di dapur umum ataupun sebagai pendorong suami dan anaknya untuk bertempur, tetapi lebih dari itu mereka berdampingan dengan suami dan anaknya menyandang senjata maju ke medan perang, membunuh musuh ataupun bersama keluarganya terbunuh.

Para wanita Aceh itu telah memenuhi tugas yang diperintahkan oleh agama yang dianutnya (Islam) dan yang selama ini telah mendarah daging dalam seluruh hidup dan kehidupannya, yaitu agar setiap pria dan wanita Islam siap selalu mengorbankan harta dan jiwa mereka untuk melawan musuh yang memerangi mereka, tetapi bukan musuh yang tidak memerangi mereka, dan dalam kenyataannya mereka tidak pernah gentar untuk menghadapinya.

Cukup banyak pertempuran yang terjadi, dimana para wanita terlibat di dalamnya, yang sungguh mengahrukan dan meneteskan air mata, tetapi juga membanggakan generasi kita sekarang, karena pengorbanan-pengorbanan mereka yang hanya mengenal alternatif, syahid atau menang.

Sekilas kehidupan Cut Nyak Meutia dilahirkan pada tahun 1870. Ayahnya bernama Teuku Ben Daud Pirak, Uleebalang Pirak yang disegani dalam wilayah Keurueto dan yang tidak pernah mengenal kompromi dengan pihak Belanda sampai beliau syuhada, karena itu tidak mengherankan apabila anaknya, Cut Nyak Meutia juga diwarisi darah ayahnya menjadi pemimpin perlawanan. Dia dengan rela berpisah dengan suaminya yang pertama, Teuku Ben Chik Bentara, Uleebalang Keureuto yang telah takluk di bawah kedaulatan Belanda, meskipun kehidupannya sebagai istri Uleebalang Keureuto yang kaya itu penuh dengan kemewahan.

Cut Nyak Meutia kemudian kawin dengan seorang tokoh yang tetap memusuhi Belanda, yaitu Teuku Cut Muhammad, adik Teuku Chik Bentara bekas suaminya yang telah dianggap menjual Negara kepada kolonial Belanda. Dengan suaminya itu, Cut Nyak Meutia memimpin perjuangan, menyerang dan diserang musuh, sampai tiba saatnya yang sangat menegangkan, pada awal 1905 pahlawan pujaan hati itu dengan penuh ksatria mengadapi hukuman tembak mati di hadapan regu penembak tentara colonial itu. Demi kelanjutan perjuangan Cut Nyak Meutia bersedia memenuhi pesan suaminya, yaitu kawin untuk ketiga kalinya dengan Pang Nanggroe, salah seorang panglimanya yang terkenal gagah berani dalam menghadapi marsose Belanda.

Selama lima tahun menempuh hidup yang sepahit-pahitnya dalam kancah peperangan, bergerilya naik gunung dan turun gunung dalam rimba belantara, Pang Nanggroe pun menemui syahidnya pada bulan September 1910. Hingga satu bulan kemudian, Oktober 1910, dalam pertempuran sengit, sebutir pelor marsose Belanda telah mengakhiri riwayat perjuangannya untuk selama-lamanya.

Kisah dalam buku ini menarik untuk dibaca, hingga bagaimana perjuangan beliau sampai titik darah penghabisan tetap berjuang melawan Belanda. Kisah perempuan, Srikandi Aceh ini menjadi panutan bagi wanita-wanita masa kini yang harus mengetahui bagaimana peran pahlawan dalam kemerdekaan Indonesia hingga bisa saat ini. Bagi kaum milenial khususnya kaum hawa, buku ini dapat menjadi referensi kamu agar bisa berkontribusi kepada negara. Ayok, baca buku ke Perpustakaan Aceh di Lamnyong, Banda Aceh, Provinsi Aceh. (*)

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER