Jakarta (Waspada Aceh) – Jumlah korban jiwa akibat dua gempa dahsyat bermagnitudo 7,2 dan 7,5 yang mengguncang wilayah pesisir Karibia, Venezuela, melonjak tajam menjadi 1.430 orang hingga Sabtu (27/6/2026) waktu setempat.
Sementara itu, lebih dari 3.200 orang lainnya dilaporkan menderita luka-luka, dan situasi kemanusiaan di lapangan terus memburuk seiring berjalannya waktu.
Dua guncangan kuat yang terjadi pada Rabu (24/6/2026) lalu telah merusak infrastruktur secara luas dan meruntuhkan ratusan bangunan di berbagai wilayah. Tiga hari pascabencana, tingkat ketegangan dan rasa putus asa di kalangan warga semakin meningkat. Proses evakuasi dan pencarian korban masih terus berlangsung, namun tantangan di lapangan terasa semakin berat mengingat jendela waktu kritis untuk menemukan korban yang masih hidup telah berlalu.
Para ahli menyebutkan bahwa periode 72 jam pertama setelah bencana merupakan waktu paling krusial untuk menyelamatkan nyawa; setelah batas waktu tersebut, upaya pencarian lebih difokuskan pada penemuan jenazah.
Menurut laporan resmi yang disampaikan oleh Presiden Majelis Nasional Venezuela, Jorge Rodriguez, selain 1.430 orang meninggal dunia dan 3.238 orang terluka, dampak bencana ini meluas hingga memengaruhi kehidupan jutaan jiwa.
Data dari Badan Migrasi PBB mencatat bahwa sekitar 6,76 juta orang terkena dampak langsung dan membutuhkan bantuan mendesak, mulai dari tempat penampungan sementara, air bersih, fasilitas sanitasi, layanan kesehatan, hingga kebutuhan pokok sehari-hari.
Secara ekonomi, PBB memperkirakan kerugian materiil mencapai nilai US$6,7 miliar, atau setara dengan sekitar enam persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) negara tersebut.
Kondisi ini memperparah situasi di Venezuela yang selama ini sudah menghadapi krisis ekonomi dan gejolak politik. Perubahan situasi keamanan dan pemerintahan yang terjadi sejak penangkapan mantan pemimpin Nicolas Maduro oleh pasukan khusus Amerika Serikat pada Januari 2026 turut memengaruhi dinamika penanganan bencana saat ini.
Menyikapi kritik publik yang menilai lambatnya penanganan darurat, pemimpin sementara yang didukung AS, Delcy Rodriguez, menyampaikan rasa terima kasihnya atas bantuan yang mulai mengalir dari berbagai negara. Salah satu tandanya, penerbangan bantuan pertama dari Amerika Serikat telah mendarat di ibu kota Caracas untuk mendistribusikan kebutuhan pokok bagi warga yang membutuhkan.
Meskipun bantuan mulai masuk, kondisi di lapangan masih digambarkan sangat kacau. Craig Demeillon, petugas pemadam kebakaran asal Australia yang datang secara sukarela dari Miami ke wilayah La Guaira, menyatakan bahwa koordinasi dan akses ke lokasi bencana masih menjadi kendala utama.
Di tengah keterbatasan itu, pencarian dilakukan tidak hanya oleh tim profesional, tetapi juga secara mandiri oleh keluarga korban yang menggali tumpukan puing dengan peralatan seadanya demi menemukan kerabat mereka yang hilang.
Hingga saat ini, upaya penyelamatan dan pendistribusian bantuan terus ditingkatkan guna mencegah munculnya krisis kesehatan akibat minimnya sanitasi serta memastikan jutaan warga terdampak mendapatkan akses kebutuhan dasar yang layak. (*)



