BerandaAcehKejar Musim Tanam Oktober, 40.852 Hektare Sawah Rusak di Aceh Ditarget Pulih

Kejar Musim Tanam Oktober, 40.852 Hektare Sawah Rusak di Aceh Ditarget Pulih

Aceh Barat (Waspada Aceh) – Pemerintah Aceh menargetkan pemulihan 40.852 hektare sawah yang mengalami kerusakan ringan dan sedang akibat bencana hidrometeorologi pada akhir November 2025 dapat diselesaikan sepanjang 2026.

Pemulihan tersebut dikebut agar sebagian besar lahan dapat kembali dimanfaatkan petani pada musim tanam Oktober mendatang.

Hal itu disampaikan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Aceh, Dr Azanuddin Kurnia, saat menghadiri panen raya padi di Desa Padang Mancang, Kecamatan Kaway XVI, Aceh Barat, Selasa (22/9/2026).

Azanuddin mengatakan, dari total sasaran 40.852 hektare sawah rusak ringan dan sedang, program pemulihan dilaksanakan dalam dua tahap.

Tahap pertama mencakup 23.818 hektare sawah rusak ringan melalui optimalisasi lahan (oplah) dan 4.393 hektare sawah rusak sedang melalui rehabilitasi. Total luas lahan pada tahap pertama mencapai 28.211 hektare.

Untuk program oplah, konstruksi telah mencapai sekitar 64 persen atau 12.440 hektare, sedangkan olah lahan sekitar 37 persen atau 6.498 hektare.

Sementara rehabilitasi sawah tahap pertama telah menyelesaikan konstruksi 100 persen atau 4.393 hektare. Dari jumlah tersebut, sekitar 50 persen atau 2.223 hektare telah memasuki tahap olah lahan.

Adapun tahap kedua mencakup 3.253 hektare sawah melalui oplah dan 9.388 hektare melalui rehabilitasi, dengan total 12.641 hektare.

“Saat ini dokumen rancangan teknis (DRT) tahap II sedang disusun oleh Kementan dan sudah mendekati tahap akhir. Diharapkan pada awal dan pertengahan Oktober sudah selesai 100 persen,” ujar Azanuddin.

Ia menyebutkan, hingga 18 September 2026, serapan anggaran untuk pemulihan sawah di Aceh telah mencapai 55,1 persen.

Selain pemulihan lahan, pembangunan infrastruktur pendukung juga terus berjalan. Irigasi perpompaan telah mencapai 72,2 persen, irigasi perpipaan 88 persen, bangunan konservasi 71 persen, jaringan irigasi tersier 100 persen, serta jalan usaha tani 65 persen.

Secara keseluruhan, rata-rata serapan kegiatan pendukung tersebut telah mencapai 79,3 persen. “Sesuai arahan Bapak Gubernur agar rusak ringan dan rusak sedang dapat diselesaikan tahun ini sehingga petani kita dapat cepat pulih kembali pascabencana,” kata Azanuddin.

Menurutnya, koordinasi antara pemerintah pusat, Pemerintah Aceh dan pemerintah kabupaten/kota perlu terus diperkuat agar berbagai kendala dalam proses pemulihan dapat segera ditangani.

Sebelumnya, Gubernur Aceh Muzakir Manaf melalui Azanuddin menyampaikan, pemulihan sektor pertanian menjadi bagian penting dalam upaya Aceh mewujudkan swasembada pangan.

Bencana hidrometeorologi yang melanda Aceh pada akhir November 2025 berdampak terhadap lahan pertanian, termasuk sekitar 57.364 hektare sawah dengan berbagai tingkat kerusakan.

“Bencana tersebut berdampak terhadap lahan pertanian, termasuk sekitar 57.364 hektare sawah dengan berbagai tingkat kerusakan. Kondisi ini tentu memberikan dampak langsung terhadap aktivitas dan pendapatan para petani,” kata Mualem dalam sambutannya yang dibacakan Azanuddin.

Untuk lahan dengan kerusakan ringan dan sedang, pemerintah melakukan pemulihan antara lain melalui bantuan benih padi dan jagung serta perbaikan jaringan irigasi tersier.

Sedangkan lahan yang mengalami kerusakan berat membutuhkan rehabilitasi dan rekonstruksi agar kembali produktif. Pemerintah Aceh juga mengalokasikan dukungan melalui APBA 2026, antara lain untuk pengembangan kawasan padi seluas 14.725 hektare, penangkaran benih padi 50 hektare, serta pengembangan kawasan jagung seluas 970 hektare.

Khusus Aceh Barat, pemerintah mengalokasikan pengembangan kawasan padi seluas 1.000 hektare dan penangkaran benih padi seluas 20 hektare.

Di Aceh Barat sendiri, sekitar 6.000 hektare lahan sawah sedang dan akan memasuki masa panen tahun ini. Luasan tersebut merupakan bagian dari total potensi sawah di daerah itu yang mencapai sekitar 8.700 hektare.

Bupati Aceh Barat Tarmizi mengatakan, sekitar 1.200 hektare sawah di daerah tersebut sempat mengalami kerusakan akibat bencana alam. Namun, pemerintah daerah optimistis produksi padi tetap meningkat.

“Meskipun sempat ada sekitar 1.200 hektare sawah yang mengalami kerusakan akibat dampak bencana alam, kita optimistis panen padi tahun ini semakin berlimpah,” ujar Tarmizi.

Ia mengatakan pemerintah daerah telah menyiapkan strategi penanganan jangka pendek, menengah dan panjang untuk meningkatkan produksi padi.

“Lokasi kita panen ini adalah bagian dari lahan yang termasuk kategori rusak sedang dan kita sudah bisa panen,” katanya.

Dalam kegiatan tersebut, Tarmizi juga menyerahkan bantuan pompa air kepada dua kelompok tani. Bantuan itu merupakan bagian dari 200 unit pompa air, 36 unit traktor roda dua dan 40 unit traktor roda empat yang diberikan Kementerian Pertanian untuk Aceh Barat pada 2026.

Menurut Gubernur Mualem, gerakan panen raya menjadi momentum untuk memperkuat komitmen bersama membangun pertanian Aceh yang mandiri, produktif, modern dan berkelanjutan.

Upaya tersebut, kata dia, sejalan dengan salah satu misi Pemerintah Aceh, yakni mewujudkan kemandirian rakyat melalui swasembada pangan, energi, air, ekonomi hijau dan ekonomi biru yang berkelanjutan. (*)

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER