BerandaBeritaKapal Tanker Iran "HUGE" Lolos Blokade AS, Bawa Minyak Rp3,8 Triliun Menuju...

Kapal Tanker Iran “HUGE” Lolos Blokade AS, Bawa Minyak Rp3,8 Triliun Menuju Kepulauan Riau

Jakarta (Waspada Aceh) – Dalam perkembangan yang menarik perhatian dunia internasional, sebuah kapal tanker super milik Iran, pada Minggu, 3 Mei 2026, dilaporkan berhasil menembus barikade militer ketat yang diberlakukan Amerika Serikat (AS) di Teluk Persia.

Kapal yang dikenal dengan nama “HUGE” (9357183) ini kini tengah berlayar menuju perairan Indonesia, tepatnya menuju kawasan Kepulauan Riau, membawa muatan minyak mentah bernilai fantastis.

Kapal jenis Very Large Crude Carrier (VLCC) yang dimiliki oleh National Iranian Tanker Company (NITC) ini tercatat membawa lebih dari 1,9 juta barel minyak mentah. Dengan nilai pasar yang diperkirakan mencapai hampir 220 juta dolar AS, atau setara dengan sekitar Rp3,8 triliun. Keberadaan kapal ini menjadi sorotan utama di tengah ketegangan geopolitik yang sedang berlangsung.

Berdasarkan pengamatan lembaga pemantau maritim internasional, TankerTrackers, kapal “HUGE” terakhir kali terdeteksi di perairan dekat Sri Lanka lebih dari seminggu yang lalu. Saat ini, kapal tersebut telah melintasi Selat Lombok dan terus bergerak ke arah utara menuju Kepulauan Riau.

Yang menjadi perhatian khusus adalah fakta bahwa kapal ini telah mematikan sinyal Sistem Identifikasi Otomatis (AIS) sejak bulan Maret, tepat setelah meninggalkan kawasan Selat Malaka, sehingga pergerakannya sulit dilacak secara publik.

Langkah ini dianggap sebagai strategi cerdas untuk menghindari pengawasan ketat Angkatan Laut AS yang telah mengerahkan kekuatan besar di kawasan tersebut. Lembaga tersebut secara resmi mengonfirmasi bahwa kapal ini berhasil melewati jaring pengaman militer AS dan berhasil mencapai kawasan Asia Tenggara menuju pasar di Timur Jauh.

Latar Belakang Blokade

Blokade maritim terhadap kapal-kapal yang berhubungan dengan Iran diberlakukan oleh AS mulai awal April 2026.

Keputusan ini diambil menyusul kebuntuan dalam negosiasi terkait program nuklir dan ketegangan politik lainnya. AS mengklaim bahwa langkah ini bertujuan untuk menekan Teheran agar kembali ke meja perundingan, namun dampaknya sangat terasa terhadap arus perdagangan energi global.

Dalam operasi yang diberi nama “Operasi Epic Fury” ini, AS mengerahkan kekuatan militer yang signifikan, termasuk kapal induk, kapal perang, serta pesawat tempur dan drone pengintai untuk mengawasi seluruh lalu lintas laut yang masuk dan keluar dari pelabuhan-pelabuhan Iran di Teluk Persia dan Teluk Oman. Hingga saat ini, dilaporkan puluhan kapal telah dicegat atau dialihkan kembali oleh pasukan AS.

Meskipun Washington mengklaim bahwa blokade ini berjalan efektif dan berhasil membatasi ekspor minyak Iran, keberhasilan kapal “HUGE” dan beberapa kapal lainnya menunjukkan bahwa Teheran masih memiliki cara untuk mempertahankan jalur perdagangannya.

Untuk menghindari pengawasan, Iran diketahui menggunakan strategi pelayaran yang lebih panjang dan kompleks. Alih-alih mengambil rute langsung melalui Selat Hormuz yang sangat ketat diawasi, kapal-kapal tanker Iran kini lebih sering mengambil jalur memutar melalui perairan Pakistan, India. Kemudian menyusuri Samudra Hindia menuju Asia Tenggara sebelum akhirnya menuju tujuan akhir, biasanya di Tiongkok atau negara Asia lainnya.

Rute ini memang memakan waktu lebih lama dan menimbulkan biaya operasional yang lebih tinggi, namun dianggap sebagai satu-satunya cara yang efektif untuk tetap bisa menyalurkan minyak ke pasar global di tengah tekanan sanksi dan blokade.

Selain itu, praktik mematikan sinyal AIS juga menjadi taktik umum untuk mengurangi risiko deteksi, meskipun hal ini menimbulkan risiko keselamatan pelayaran dan melanggar beberapa aturan organisasi maritim internasional. (*)

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER