Beranda Tulisan Feature Inovasi di Tengah Pandemi, Gula Aren Cair untuk Tingkatkan Kebugaran

Inovasi di Tengah Pandemi, Gula Aren Cair untuk Tingkatkan Kebugaran

BERBAGI
Pemilik produk Yoen Abadi, Sri Wahyuni Nukman, memperlihatkan produk gula aren cair. (Foto/sulaiman achmad)

“Jadi, sebenarnya ide awal ini muncul untuk mengolah gula aren cair, saat berkunjung ke petani aren di kawasan Namu Sira-Sira, Kabupaten Langkat, sekitar 5 bulan lalu”

— Sri Wahyuni Nukman —

Gula aren atau gula merah dan brown sugar dalam bahasa Inggris, selama ini dikenal berbentuk padat dan bulat. Jika ditemui di pasar-pasar tradisional, ada pula gula aren yang berukuran bulat besar.

Bahkan selama ini, gula merah juga dikenal dua jenis yang beredar di pasar, yakni gula aren asli dan gula merah berbahan baku tebu. Perbandingan mencolok pada tekstur padat gula ini. Jika gula aren asli lebih rapuh, berbeda dengan gula merah berbahan tebu, teksturnya lebih keras.

Kini, ada inovasi baru minuman kaya manfaat ini yakni gula aren cair. Dengan merek Gula Aren Tulen, produksi inovasi dari Yoen Abadi yang diluncurkan di tengah pandemi COVID-19, yang sedang melanda dunia termasuk di Indonesia.

Lalu, bagaimana inovasi gula aren cair ini muncul dan manfaatnya? Berikut wawancara Waspadaaceh.com kepada pemilik Yoen Abadi, Sri Wahyuni Nukman, Rabu (8/9/2021).

“Jadi, sebenarnya ide awal ini muncul untuk mengolah gula aren cair, saat berkunjung ke petani aren di kawasan Namu Sira-Sira, Kabupaten Langkat, sekitar 5 bulan lalu,” kata Sri.

Dalam kunjungan itu, Sri sebelumnya sudah mendapat informasi atas keresahan petani aren yang sulit memasarkan gula aren karena lesunya prekonomian di masa pandemi. Lalu, muncul ide untuk menjadikan peluang bisnis baru minuman kesehatan ini dengan inovasi gula aren cair.

Sri bercerita saat proses pembuatan gula aren, sebelum dicetak dan menjadi padat, gula aren ini cair hingga mengental seperti madu. Soal rasa juga mirip dengan madu, tapi gula aren cair ini benar-benar alami.

Kemudian Sri bekerja sama dengan petani untuk menghasilkan produk gula aren cair. Pada prosesnya, sebelum dijual dengan merek Gula Aren Tulen, petani yang memasak, kemudian Yoen Abadi yang mengemas.

“Ya, kita saling membantu. Gula aren cair ini dikemas dan diberi merek, kemudian dipasarkan. Inovasi baru dalam mengonsumsi gula aren,” ungkap Sri.

Respon Pasar Positif

Untuk harga jual, Sri menuturkan bahwa gula aren cair dijual seharga Rp70.000 per botol kemasan 700 gram. Saat dipasarkan pertama kali ke teman-temannya, langsung menuai respon positif.

“Ini menjadi semangat untuk memproduksi Gula Aren Tulen. Awalnya, per minggu 50 botol. Kini sudah ratusan botol per minggu terjual. Beberapa kafe di Medan, Deli Serdang dan Binjai juga sudah memasarkan ini,” jelasnya.

Sri yang juga Ketua Forum Daerah (Forda) UKM Sumut ini menuturkan, untuk gula aren cair ini, baru pertama yang diproduksi UMKM. “Sebelumnya ada diproduksi pabrikan, tapi soal keasliannya gak tahu. Kalau yang kita produksi benar-benar asli,” tuturnya.

Untuk manfaatnya, gula aren cair ini juga tidak kalah dengan madu. Bahkan berdasarkan riset internal yang dilakukan timnya, beberapa keluarga penderita COVID-19 yang rutin mengonsumsi, menunjukan peningkatan kondisi lebih membaik.

“Beberapa gejala COVID-19 itu berangsur-angsur kurang dengan konsumsi rutin gula aren cair ini. Seperti madu, gula aren cair ini juga cocok dikonsumsi setiap hari,” jelasnya.

Kini, gula aren sudah naik kelas dengan merubah metode konsumsinya yang selama ini dari padat menjadi cair. Dengan inovasi ini juga, lebih membangkitkan pelaku UMKM di tengah pandemi saat ini.

“Yang paling nyata itu, untuk penderita COVID-19. Manfaatnya, sangat terasa karena minuman ini juga meningkatkan kebugaran dan imun tubuh dengan berbagai khasiatnya. Semoga ini bisa menjadi inspirasi pemerintah daerah, menjadikannya produk unggulan daerah,” tegasnya. (sulaiman achmad)