Senin, Juni 17, 2024
Google search engine
BerandaKulinerMie Kocok Legendaris di Banda Aceh, Menjadi Mudah Bertransaksi dengan QRIS

Mie Kocok Legendaris di Banda Aceh, Menjadi Mudah Bertransaksi dengan QRIS

Sistem pembayaran digital ini selain lebih efektif, telah mengurangi uang lusuh dan menghindari uang palsu.

Layanan pembayaran dengan QRIS kini sudah banyak digunakan oleh para pelaku bisnis. Salah satunya usaha kuliner yang berlokasi di pusat kota Provinsi Aceh, yakni Banda Aceh.

Para pelaku usaha kuliner di kota “Serambi Mekkah” ini sudah merasakan kemudahan dan keuntungan menggunakan layanan transaksi non tunai tersebut.

Ketika jurnalis Waspadaaceh.com mengunjungi sebuah ruko berlantai tiga di pusat Kota Banda Aceh,  tempat ini tampak ramai. Sejak pagi hingga malam, deretan meja dan kursi di warung tak pernah sepi dari pengunjung. Pelanggan datang silih berganti untuk menikmati kuliner mie kocok yang legendaris ini.

Namanya, Mie Kocok Si Doel. Warung ini terletak di pusat kota Banda Aceh tepatnya di Jalan Diponegoro dan hanya berjarak kurang dari 100 meter dari Masjid Raya Baiturahman dan Pasar Aceh.

Tiara, 20, seorang karyawan di warung tersebut langsung bergegas menyiapkan seporsi mie kocok ketika mendapat pesanan dari pembeli. Mie kuning panjang dengan siraman kaldu sapi ditambah irisan seledri, acar bawang merah, tauge dan daging sapi cincang, disajikan dalam kondisi panas. Citarasa mie lebih nikmat ketika ditambah perkedel dan telur rebus di dalamnya.

Pada kesempatan lain, tak kurang dari 5 menit, mie kocok yang masih mengepulkan asap kemudian dibungkus dan diberikan kepada pembeli yang telah menunggu di bangku depan dekat dengan kasir.

“Bayarnya pakai QRIS bisa bang? Karena saya tidak bawa uang pas,” kata perempuan berhijab yang memesan mie kocok tersebut, Rabu (29/5/2024).

“Oh boleh, tinggal scan saja di sini,” jawab salah satu petugas kasir, Dian, sambil menunjukkan barcode QRIS berbahan arkilik yang berada di meja kasir.

Pembeli segera mengarahkan kamera ponselnya ke kode batang tersebut. Dalam sekejap, layar ponselnya menampilkan kolom untuk mengisi nominal yang harus dibayarkan. Setelah memasukkan nominal pembayaran, pembeli lalu menekan tombol konfirmasi. Transaksi pun berhasil.

“Semakin simple dan enggak repot kalau lagi enggak ada uang cash,” kata pembeli.

Pembayaran dengan sistem digital ini sangat cepat, tepat dan mudah, serta anti ribet. Hanya butuh waktu kurang dari satu menit, transaksi pembayaran pun sudah selesai.

QRIS Dukung UMKM Naik Kelas

Mie Kocok Si Doel sudah berdiri sangat lama dan telah melewati berbagai situasi, mulai dari konflik hingga tsunami di Aceh. Berdiri tahun 1996, warung ini dirintis oleh Muhammad Thaib. Nama ‘Doel’ diambil dari nama salah satu anggota keluarganya yang bernama Abdullah, namun sehari-hari ia sering dipanggil dengan sapaan Doel.

“Kebetulan kami sekeluarga pada waktu itu juga suka nonton Si Doel Anak Sekolahan,” ungkap Sri Murlina, 52, pemilik warung Mie Kocok Si Doel. Ia merupakan generasi kedua yang meneruskan bisnis keluarga ini bersama dengan suaminya sejak 2010.

Meski sudah lama berdiri, warung Mie Kocok Si Doel tetap menjaga cita rasa menunya hingga saat ini. Setelah berbincang dengan Ibu Sri, jurnalis juga mencoba sendiri mie kocok di warung ini. Jurnalis memesan seporsi mie kocok dan jus jeruk.

Seorang karyawan sedang menuangkan kuah kaldu ke mie kocok yang telah disiapkan. (Foto/Cut Nauval)

Perpaduan mie yang lembut, beraroma dan rasa kaldunya yang lezat, ditambah dengan irisan daging giling di dalamnya, sangat memanjakan lidah. Tidak heran, Mie Kocok Si Doel terkenal sebagai salah satu kuliner favorit dan menjadi warung mie kocok legendaris di Aceh.

“Sejak dulu mie kocok ini sudah diminati banyak orang. Banyak juga wisatawan dari berbagai daerah yang datang untuk mencoba,” ujar Sri.

Selain menjaga kualitas sajian di warungnya, Sri mengatakan, ia juga meningkatkan pelayanan bagi pelanggannya. Salah satunya adalah dengan menyediakan layanan pembayaran digital non tunai. Ia mengaku menyediakan layanan pembayaran melalui Quick Response Code Indonesia Standard (QRIS) sudah hampir dua tahun yang lalu, tepatnya tahun 2022. Saat itu, pihak perbankan memperkenalkan sistem ini kepada pelaku UMKM guna mendukung ekosistem pembayaran digital di Provinsi Aceh.

Ia juga tak lagi ribet untuk menyediakan uang kembalian bagi pelanggannya karena nominal bayar mie kocok sudah sesuai dengan harga jual.

Di sisi lain, Sri mengungkapkan, sistem pembayaran digital ini selain lebih efektif, telah mengurangi peredaran uang lusuh dan menghindari uang palsu. Uang usaha langsung masuk ke rekening pribadinya dengan aman dan mudah.

“Kalau menggunakan QRIS tidak perlu lagi menyediakan uang pecahan kecil dan tidak lagi khawatir menerima uang lusuh dan rusak dari pelanggan maupun uang palsu, karena uang hasil transaksi langsung masuk ke rekening,” jelasnya.

Tidak hanya memudahkan pelanggan, QRIS juga membantu ibu enam anak ini dalam manajemen keuangan dan peningkatan transparansi bisnis. “Saya bisa melihat riwayat transaksi secara real-time dan mengontrol arus kas dengan lebih baik,” jelasnya.

Banyak manfaat yang Sri terima ketika bisnis yang ia jalankan menyediakan layanan transaksi digital. “Ini benar-benar membantu saya dalam mengelola usaha kami,” jelasnya.

Di Kota Banda Aceh memang kini sangat mudah menemukan pedagang kecil yang menyediakan papan akrilik yang terdapat QR Code Indonesian Standard (QRIS).

Apalagi, kata Sri, kebanyakan para pelaku usaha ini nyaman menggunakan transaksi digital daripada uang tunai. Mayoritas para pembeli adalah wisatawan. Tak heran jika tempat ini menjadi tempat singgah bagi wisatawan untuk melepas lelah usai berbelanja dan juga menjadi warung favorit keluarga pada saat akhir pekan.

“Volume transaksi pembayaran QRIS meningkat. Perkembangan teknologi, terutama transaksi digital harus saya ikuti untuk meningkatkan daya saing UMKM,” kata Sri.

Dia berharap bahwa QRIS tidak hanya membantu UMKM dalam hal pembayaran, tetapi juga membuka pintu untuk akses keuangan yang lebih luas. Sri juga berharap adanya memberikan pendidikan dan pelatihan yang memadai kepada pelaku UMKM terkait penggunaan keuangan digital terutama penerapan QRIS.

“Ini akan membantu kami memahami secara menyeluruh bagaimana memanfaatkan teknologi ini dengan efektif untuk keuntungan bisnis kami,” tambahnya.

Beralih ke Transaksi Digital

Berdasarkan data Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh, mencatat jumlah merchant QRIS terus mengalami peningkatan. Bahkan usaha mikro juga kini banyak yang memanfaatkan QRIS sebagai salah satu alternatif pembayaran.

Data pengguna QRIS per April 2024 tercatat sebanyak 558,927 pengguna, sementara untuk merchant sektor UMKM di Aceh sudah mencapai 107,674 merchant. Diperkirakan akan terus meningkat sejalan dengan makin diterimanya pemanfaatan QRIS di kalangan masyarakat dan merchant.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Aceh, Rony Widijarto Purubaskoro saat diwawancarai Waspadaaceh.com usai kegiatan Bincang-bincang Media, di Kantor BI Aceh, Selasa (21/5/2024). (Foto/Cut Nauval ).

“Kami akan terus mengakuisisi supaya penggunaan QRIS menyeluruh dengan mengedukasi masyarakat maupun pedagang atau produsen,” kata Kepala Perwakilan BI Aceh, Rony Widijarto pada kegiatan Bincang-bincang Media, Selasa (21/5/2024).

Bank Indonesia juga senantiasa meningkatkan akseptasi digital masyarakat, khususnya untuk menggunakan transaksi non tunai berbasis QRIS yang lebih cepat, mudah, murah, aman, dan andal (Cemumuah).

Caranya dengan mengajak masyarakat memanfaatkan transaksi digital menggunakan QRIS. Bentuk kegiatan yang telah dan akan dilakukan misalnya pada momen Sabang Marine Festival dengan pembelian produk promo mendapat kupon belanja dengan scan QRIS Rp0, kemudian juga pameran momentum Aceh Ramadhan Festival.

Selain itu, kegiatan lainnya adalah dengan memberikan edukasi secara berkelanjutan agar masyarakat terbiasa menggunakan transaksi pembayaran teknologi, dan akhirnya menjadi sebuah kebutuhan.

Apalagi di momentum PON ke depan, perbankan juga perlu semakin proaktif dalam menawarkan kemudahan bertransaksi melalui layanan digital banking. PON yang dijadwalkan berlangsung pada 8 September hingga 20 September 2024 ini akan mendongkrak pertumbuhan perekonomian terutama bagi perhotelan, kuliner, restoran bahkan warung kopi di Aceh.

“Tentunya, momen PON ini memicu perputaran uang berkali-kali-kali lipat dari aktivitas belanja menikmati kuliner maupun wisata,” ungkapnya.

Dengan konektivitas yang saling terintegrasi, antara Bank Indonesia, perbankan, pelaku UMKM serta masyarakat dapat mengakselerasi elektronifikasi keuangan di era ekonomi digital guna mewujudkan inklusifitas keuangan.

Sementara itu, Pakar Ekonomi dari Universitas Syiah Kuala (USK) Provinsi Aceh, Prof. Muchlis Yunus, mengatakan digitalisasi keuangan ini akan membawa dampak positif bagi efisiensi proses transaksi. Seperti pencatatan yang lebih baik, pengurangan risiko, mempermudah pengajuan kredit bagi UMKM karena tercatat secara digital.

UMKM masih berpeluang tumbuh seiring dengan perubahan tren pola transaksi masyarakat yang semakin terbuka mengadopsi pembayaran digital. Apalagi, UMKM merupakan tulang punggung ekonomi daerah dan digitalisasi telah menjadi kunci penting dalam memajukan sektor ini.

“Pada era teknologi informasi yang terus berkembang pesat ini, kita tidak bisa lagi mengabaikan peran digitalisasi dalam membantu UMKM tumbuh dan bersaing di pasar yang semakin kompetitif,” tuturnya kepada Waspadaaceh.com, Kamis (30/5/2024).

Diharapkan dengan adanya QRIS, transaksi pembayaran bisa lebih efisien dan murah, inklusi keuangan di Indonesia lebih cepat. UMKM bisa tumbuh berkembang lebih maju, dan pada akhirnya bisa mendorong pertumbuhan ekonomi.

Jadi, tujuan adanya QRIS ini tak lain agar pembayaran digital jadi lebih mudah bagi masyarakat dan dapat diawasi oleh regulator dari satu pintu yaitu Bank Indonesia (*)

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER