Senin, Juni 17, 2024
Google search engine
BerandaProfilCinta dan Asa Cek Sam Menjaga Leuser

Cinta dan Asa Cek Sam Menjaga Leuser

Rawa Kluet, yang dikenal sebagai habitat orangutan Sumatra, kini terancam oleh perambahan hutan.

“Saya sudah sering digigit pacet, tidak apa-apa, hitung-hitung sedekah,” ujar Syamsuar, 56, atau yang akrab dipanggil Cek Sam, sambil tertawa.

Pria kelahiran Pasie Lembang pada 10 April 1968 ini telah mengabdikan hidupnya untuk menjaga dan melestarikan hutan di Aceh, menghadapi tantangan besar maupun kecil dengan semangatnya tetap menggelora.

Sejak 2013, Syamsuar bertugas sebagai Manager Restorasi Forum Konservasi Leuser (FKL), sebuah organisasi non-profit yang berkomitmen melindungi Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) di Aceh.

Ia dikenal sebagai pegiat konservasi yang gigih mengajak masyarakat untuk peduli terhadap hutan sebagai warisan alam yang harus dijaga. Kawasan Ekosistem Leuser (KEL), yang terletak di Provinsi Aceh dan Sumatra Utara. KEL dengan luas, 2,6 juta hektar menjadi rumah besar bagi ragam satwa lindung. Leuser menjadi satu-satunya di dunia yang menjadi tempat hidup bersama gajah sumatera, harimau sumatera, orangutan sumatera, dan badak sumatera.

“Keempat satwa kunci itu kini terancam punah. Mereka diburu untuk diperdagangkan,” kata Cek Sam saat berbincang bersama waspadaceh.com, Kamis (30/5/2024).

Pasie Lembang, kampung halaman Cek Sam, terletak di pinggir Rawa Kluet  di wilayah Aceh Selatan yang merupakan bagian dari KEL. Di sinilah ia tumbuh besar dan mengenal setiap sudut hutan dan satwa yang ada di dalamnya. Bahkan, kawan-kawannya menjulukinya “profesor penjaga Rawa Kluet” meski ia tidak bergelar akademis dari perguruan tinggi.

Rawa Kluet, yang dikenal sebagai habitat orangutan Sumatra, kini terancam oleh perambahan hutan. Cek Sam bersama FKL berjuang mempertahankan Rawa Kluet dari ancaman kekejaman gergaji mesin.

Dari Juru Masak Hingga Peneliti

Perjalanan Cek Sam di dunia konservasi dimulai pada 1992 sebagai juru masak di camp penelitian Suak Belimbing di Rawa Kluet. Rasa ingin tahu yang tinggi membuatnya terlibat dalam penelitian, bahkan menjadi asisten fenologi.
“Mulanya saya jadi juru masak di sana. Saya melihat para peneliti bekerja dan tertarik dengan kegiatan penelitian itu,” ungkapnya.

Kesempatan untuk ikut dalam penelitian datang setahun kemudian, saat ia menjadi asisten peneliti orangutan dari Duke University, Amerika Serikat. Saat berada di hutan yang lebat, Ceksam merasa ada kedamaian.

“Perilaku orangutan hampir sama dengan manusia, seperti perilaku terhadap anak dan sesama,” katanya. Meski banyak tantangan di lapangan, seperti tersesat saat pengumpulan data, semangatnya tidak pernah padam.

Pada 1997, setelah kegiatan penelitian selesai, Cek Sam beralih menjadi juru kemudi perahu atau boatman di camp penelitian Soraya. Selain mengemudi perahu, ia juga aktif membantu penelitian. Berbagai peran ia lakukan, mulai dari juru masak hingga boatman, asalkan jiwanya tetap menyatu dengan Leuser.

Kenang dan Kerinduan Syamsuar

Pada akhir 1990-an, ia menjabat sebagai manajer camp Suaq Belimbing yang dikelola oleh Unit Manajemen Leuser (UML).   Pada tahun itu pula konflik Aceh mencuat. Inilah tantangan besarnya. Cek Sam dan kawan-kawan harus tetap bertugas di tengah masa konflik Aceh yang sedang memanas. Asa melanjutkan merawat Leuser nyaris luntur. Namun, Cek Sam dan para pegiat konservasi tidak mau berlama-lama dalam kegalauan.

Keterbatasan untuk melakukan penelitian pada masa konflik Aceh sangat terasa. Api  sempat membakar Stasiun Riset Suak Belimbing di Rawa Kluet, April 2004. Jerebu hitam beterbangan, puing-puing bangunan legam tersapu api,  Stasiun penelitian yang berdiri sejak 1992 itu rata dengan tanah, Syamsuar mengenang kejadian itu.

Tahun 2005, dengan dada yang penuh bara, dia harus rela bekerja sebagai asisten peneliti di Stasiun Riset Sikundur, Langkat di Sumatera Utara. Di sana dia bekerja untuk riset tentang gajah sumatera. “Tiap hari harus mengintai gerak-gerik gajah. Semuanya harus dicatat,” katanya.

Walau harus berjibaku dengan kondisi hutan yang liar, dia tetap tekun. Baginya, hidup haruslah terus belajar dan tak perlu malu. Sepanjang pekerjaannya itu, Syamsuar tetap memendam rindu pada Kluet.

Tapi apa daya, Syamsuar kini berada jauh di Stasiun Riset Sikundur. Berkilo-kilo meter jaraknya dari Kluet. Penantiannya berkepanjangan. Keputusasaan sempat menghantui pikirannya. Syukur, Syamsuar tidak mau larut dalam kesedihan.

Belum lenyap duka dari kebakaran itu, Syamsuar juga sempat ditangkap oleh aparat dan diinterogasi. Mereka menganggap Cek Sam telah membantu pihak Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Masa itu, Stasiun Riset Sikundur memang dijaga ketat oleh aparat dengan alasan keamanan.

Menurut Cek Sam, tuduhan tentara tak berdasar. Tapi mereka tak peduli. Dia tetap ditangkap dan diinterogasi dengan berbagai pertanyaan soal keterlibatannya dengan GAM. “Saya tak pernah terlibat konflik bersenjata,” tegasnya.

Atmosfir keamanan di Aceh memang sedang memuncak. Satu sisi, GAM terus-menerus melakukan gerilya dan menuntut kemerdekaan bagi Aceh.  Namun, pemerintah Republik Indonesia memandang gerakan ini sebagai gerakan separatis yang perlu dihentikan. Konflik ini telah menelan banyak korban jiwa dan harta benda. Berada di tengah konflik bersenjata memang rumit dan serba salah.

Kluet Kembali dalam Dekapan

Setelah Aceh damai, akhirnya kerinduan  Cek Sam untuk kembali ke camp penelitian Suaq Belimbing terwujud. Saat itu stasiun riset tersebut mulai dikelola Yayasan Leuser International (YLI) dan Syamsuar ditugaskan sebagai manager camp. Kondisi hutan yang kembali terancam oleh penebangan liar membuatnya prihatin. “Hancur sekali keadaannya. Sampai pohon yang berada di salah satu sisi sungai itu habis semua,” ujarnya.

Cek Sam bahkan pernah diancam oleh para penebang liar. “Saya pernah diancam dibuang ke sungai,” ungkapnya. Namun, ia tidak gentar dan terus berupaya menjaga hutan dari kerusakan. Menurutnya jika maraknya penebangan hutan  tentu dapat berdampak buruk bagi lingkungan, seperti banjir dan longsor, serta mempengaruhi iklim dan penyimpanan karbon.

Perjalanan panjangnya itu membawa Cek Sam kemudian bergabung ke Forum Konservasi Leuser (FKL) yang terbentuk setelah Badan Pengelola Kawasan Ekosistem Leuser (BPKEL) dibubarkan pada 2012. “Saya bekerja di bagian restorasi,” ungkapnya.

Tantangan untuk menjaga KEL di Aceh menurut Cek Sam adalah menghadapi oknum besar yang ada dibalik kegiatan ilegal yang berpotensi merusak hutan. “Kita kan tidak punya hak untuk menangkap oknum-oknum besar ini, ada yang lebih berwenang. Sekarang untuk mencegah ini terjadi kita selesaikan secara hukum saja,” ungkapnya.

Akan tetapi, berbeda ketika Cek Sam berhadapan dengan penebangan liar yang dilakukan oleh masyarakat setempat. Dia menggunakan pendekatan yang berbeda. “Saya tidak melarang mereka melakukan penebangan, yang mereka lakukan pun tidak banyak. Saya justru rangkul mereka pelan-pelan. Nanti mereka akan sadar sendiri dan tidak melakukannya lagi,” ungkap Cek Sam.

Bahkan sudah ada beberapa orang dari masyarakat setempat yang sebelumnya melakukan penebangan liar, kini justru ikut serta dengan Cek Sam sebagai pegiat konservasi.

Berkat dedikasinya menjaga dan juga melestarikan KEL selama puluhan tahun, Cek Sam mendapatkan penghargaan Conservation Guardian dari lembaga Rainforest Trust pada tahun 2019.  Motivasi Cek Sam bergelut di dunia konservasi selama kurang lebih 30 tahun berbagai rintangan tidak pernah memadamkan semangatnya.

Jiwa Cek Sam tetap menyatu dengan Leuser, dipenuhi rasa cinta dan harapan untuk masa depan generasi mendatang. Setiap pohon yang ditanam dan setiap satwa yang dilindungi adalah wujud nyata dari perjuangannya.

Cek Sam yakin bahwa alam yang terjaga dengan baik akan menjadi warisan berharga bagi anak cucu kita. “Pohon yang kita tanam adalah tabungan untuk masa depan, untuk orang lain, untuk satwa, dan untuk beramal,” tegasnya. Rasa cinta yang mendalam dan keyakinan akan masa depan yang lebih baik terus mendorong Cek Sam untuk tetap berjuang demi kelestarian Leuser.

Cek Sam juga punya mimpi-mimpi yang belum terealisasi, ia mengungkapkan salah satunya. “Saya masih punya mimpi. Saya terpikir untuk kita coba rilis kembali di KEL, burung cucak rowo yang saat ini sudah jarang ditemui. Semoga kita bisa mendapatkan dukungan agar upaya pelestarian burung-burung ini bisa terealisasi,” ungkap Cek Sam dengan penuh harap.

Cek Sam juga menyampaikan pesan-pesan khususnya bagi generasi muda yang akan menjadi penerusnya menjaga hutan di masa depan. “Tetap semangat, jangan menyerah, jangan pernah menganggap bahwa uang itu yang menuntun jalan kita, karena kalau semua kita nilai dengan uang, pasti tidak akan berhasil. Semua harus dilakukan dari hati,” Pesan Cek Sam. (*)

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER