Beranda Laporan Khusus Bitata Food, Setelah Familier di Pasar Ritel Aceh Kini Ekspansi ke Jakarta...

Bitata Food, Setelah Familier di Pasar Ritel Aceh Kini Ekspansi ke Jakarta dan Bandung

BERBAGI
Salah satu produk Bitata Food yang dijual di Supermarket di Banda Aceh. (Foto/Kia)

“Selain masuk ke swalayan dan supermarket produk Bitata Food juga sudah dipasarkan ke luar Aceh, melalui tiga distributornya, yaitu di daerah Jakarta, Medan dan Bandung”

— Owner Bitata Food, Ratu Nur Annisa —

Produk Industri Kecil dan Menengah (IKM) dengan merek Bitata Food yang rumah produksinya beralamat di Jl. Tengku Dilhong I, Peunyeurat, Kecamatan Banda Raya, Kota Banda Aceh, kini banyak ditemukan di pasar ritel yang ada di seluruh Aceh.

Owner Bitata Food, Ratu Nur Annisa, mengatakan kepada Waspadaaceh.com, Jumat (17/9/2021), penjualan produk Bitata Food pada awalnya hanya secara door to door, dan dijual kepada keluarga dan temannya saja.

Namun seiring berjalannya waktu, melihat potensi pasar dan tingkat produksi yang semakin meningkat, dia mencoba masuk ke beberapa swalayan dan pasar ritel, seperti Suzuya dan Indomaret yang ada di Banda Aceh pada tahun 2019.

“Kemudian pada awal tahun 2020 kami mencoba masuk ke swalayan yang ada di Aceh Besar. Hingga saat ini ada 150 swalayan yang sudah menyediakan produk Bitata Food,” jelasnya.

Dia juga menuturkan, selain masuk ke Suzuya Banda Aceh, Bitata Food juga bisa ditemukan di Suzuya Lhokseumawe, Langsa, Bireuen dan Suzuya Meulaboh.

Owner Bitata Food, Ratu Nur Annisa. (Foto/Ist)

Ratu mengatakan, selain masuk ke swalayan dan supermarket Bitata Food juga sudah dipasarkan keluar Aceh, melalui tiga distributornya, yaitu di daerah Jakarta, Medan dan Bandung.

“Alhamdullilah baru-baru ini kita masuk ke Mblockmarket yang ada di Jakarta,” ucapnya.

Saat ini untuk pemesanan, kata Ratu, di Indomaret sebulan bisa mencapai 500 botol bawang goreng, 1000 pcs stik keju, 200 pcs keripik kentang dan 60 pcs crispy garlic.

Dari beberapa produk Bitata Food, yang paling best seller, adalah bumbu nasi minyak, bawang goreng dan stik keju.

Walaupun demikian, dia juga mengakui, selama pandemi COVID-19 penjualan produk-produk dari Bitata Food sendiri terkena dampak, penjualannya stagnan (tetap). Namun, dia mengatakan tidak merumahkan karyawan, karena pada waktu-waktu tertentu, seperti menjelang lebaran, penjualanya meningkat drastis.

Ratu sebagai pelaku IKM/UMKM produk Bitata Food berharap kepada pemerintah agar memberikan dukungan kepada pelaku industri, dengan mempermudah perizinan.

Selain itu Ratu berharap, pemerintah mendukung agar IKM/UMKM mampu menembus pasar nasional maupun internasional. Dengan demikian, para pelaku IKM/UMKM di Aceh dapat meningkatkan penjualan produk lokal Aceh dan mampu menyerap lebih banyak tenaga kerja.

Sejarah Bitata Food

Bitata adalah singkatan dari Biar Tambah Taqwa. Pendiri IKM ini mempunyai keinginan menciptkan suatu produk pangan untuk memajukan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat sekitar, khususnya di Aceh, dengan landasan iman dan meningkatkan ketaqwaan.

Bitata Food adalah usaha home industry (industri rumahan) atau IKM yang aktif dan bergerak dalam bidang pangan (kuliner). Usaha ini didirikan tahun 2017 oleh Anshar Zulhelmi, seorang mahasiswa lulusan S2 International Islamic University Islamabad, Pakistan bersama istrinya Ratu Nur Annisa.

Produk Bitata Food sudah memiliki sertifikat halal dari LPPOM MPU Aceh dan juga sertifikat PIRT dari Dinas Kesehatan Kota Banda aceh.

Disperindag Dorong IKM/UMKM Kreatif 

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Aceh, Mohd Tanwier mengatakan, setiap industri makanan perlu memperhatikan aturan, seperti adanya izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan adanya sertifikasi halal serta surat perizinan lainya.

Ia juga berharap, selama pandemi COVID-19, setiap IKM/UMKM perlu memanfaatkan digital marketing di masa pandemi untuk mempromosikan setiap produk-produk yang ada.

“Pandemi bukan menjadi penghalang bagi pelaku IKM dan UMKM, namun bisa memanfaatkan peluang dengan mempromosikan produk secara online,” sebutnya.

Selain itu, Mohd Tanwier juga mengatakan, setiap pelaku IKM/UMKM dituntut untuk kreatif. Salah satunya dengan membuat kemasan yang menarik untuk menambah minat beli masyarakat. (Kia Rukiah)